Mengatasi Stres Generasi Z dengan Tawakal ala Al-Qur’an
Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 merupakan generasi digital natives yang tumbuh dalam arus informasi dan teknologi yang pesat, namun menghadapi tantangan berupa masalah kesehatan mental. Adapun faktor pengaruh diantaranya yaitu: tekanan sosial, tuntutan akademik, serta pengaruh negatif media sosial yang berkontribusi pada tingginya tingkat kecemasan, depresi, krisis identitas, dan stress pada generasi ini. Persaingan antar individu yang keras pada masa modern ini sering kali membuat psikis dan mental manusia menjadi tidak sehat. Karenanya, Gen Z sangat membutuhkan solusi dan dukungan yang memadai untuk mengadapi tekanan psikologis yang berkelanjutan agar tidak terjebak dalam perasaan isolasi maupun kekhawatiran yang berlebihan tentang masa depannya.
Al-Qur’an sebagai pedoman yang shalih likulli az-zaman wa al-makan mampu menjawab ketidakstabilan emosi tersebut. Al-Qur’an menjadi asas bagi pengembangan kecerdasan spiritual dan kecerdasan psikologis guna mengarahkan manusia untuk membangun keseimbangan antara aspek spiritual dan psikologis, yang pada akhirnya berujung pada peningkatan kesejahteraan mental. Hal inilah yang kemudian dapat mengantarkan Gen Z untuk menemukan makna hidup, tujuan, ketenangan batin, serta kesehatan emosional dalam menghadapi krisis.
Salah satu term dalam al-Qur’an yang menjadi solusi bagi manusia dalam mengelola stres adalah sikap tawakal. Kata tawakal berasal dari bahasa Arab dengan akar kata wakala (wa-ka-la) yang bermakna menyerahkan, mewakilkan, atau mendelegasikan suatu urusan kepada pihak lain yang dipercaya. Quraish Shihab memaknai tawakal dengan menjadikan Allah swt sebagai wakil dan tempat penyerahan segara urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Namun, Al-Ghazali memaknainya bukan sebagai sebuah penyerahan diri secara mutlak dan pasif, beliau memaknainya sebagai sebuah sikap spiritual aktif yang harus selalui didahului dengan usaha manusiawi semaksimal mungkin.
Sikap tawakal ini memiliki kaitan erat dengan resiliensi psikologis dan berlawanan dengan karakter negatif yang merusak mental. Tawakal beroposisi dengan sikap sombong, merasa serba cukup tanpa pertolongan Allah, serta kelemahan jiwa yang ditandai oleh ketakutan berlebihan dan kecemasan. Misalnya sikap merasa serba cukup tanpa pertolongan Allah membuat seseorang menggantungkan seluruh keberhasilan hanya pada dirinya sendiri yang rentan memicu frustasi, sementara ketakutan berlebihan menyebabkan keputusasaan dalam menghadapi realitas. Sebaliknya, tawakal menghadirkan ketahanan psikis yang aktif, keberanian, dan optimisme spiritual untuk menyelamatkan Gen Z dari tekanan hidup.
Tawakal juga terbukti memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dengan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. Orang yang senantiasa bertawakal kepada Allah SWT akan mendapatkan kestabilan emosi, hati yang damai, atau hati yang tenang, serta terbebas dari perasaan cemas, khawatir, berkeluh kesah, dan gelisah. Konsep kecerdasan emosi yang dikenalkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 dalam buku Kecerdasan Emosi, didalamnya mencakup kemampuan mengenali emosi, mengelola emosi, dan memotivasi diri sendiri. Seseorang yang bertawakal secara otomatis akan memiliki regulasi emosi yang baik karena ia senantiasa menyerahkan semua keputusan kepada Allah dan selalu bersyukur atas karunia-Nya.
Kekuatan sikap tawakal ini ditegaskan dalam QS. At-Thalaq ayat 3, yang menegaskan bahwa barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Begitu juga dalam QS. Ali Imran ayat 159 yang mengajarkan tahapan tawakal setelah seseorang melakukan musyawarah dan usaha keras. Al-Qur’an juga menggambarkan bahwa ketenangan hati dapat diraih melalui kepasrahan kepada Allah yang senantiasa disertai dengan zikir dan mengingat-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28.
Sikap tawakal juga sangat sejalan dengan konsep positive religious coping dan psikologi resiliensi. Tawakal menjadi salah satu bentuk positive religious coping, yaitu strategi mengelola dan mengurangi beban stress melalui pendekatan spiritual yang sehat dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dan mencari makna positif dalam musibah. Konsep ini juga selaras dengan gagasan meaning-making dari Viktor Frankl melalui pendekatan logoterapi, di mana seseorang meyakini bahwa penderitaan atau kegagalan bukanlah hal yang sia-sia, ia merupakan bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar dan penuh hikmah, sehingga dari sinilah Gen Z akan membangun daya tahan psikospiritual jangka panjang untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Walhasil, untuk mengatasi krisis kesehatan mental di era modern ini, Gen Z harus menggabungkan sikap tawakal dengan keimanan dan prasangka baik kepada Allah SWT. Dengan keyakinan bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik, sebagaimana makna yang tersirat dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, Gen Z dapat menjalani dinamika kehidupan dengan perasaan damai dan tanpa kecemasan yang berlebihan. Karenanya, kita dapat mengetahui bahwa sikap tawakal dalam al-Qur’an mampu menjadi solusi paripurna yang membumikan harapan sekaligus mendorong ketangguhan psikologis yang holistik dan kontekstual.
Penulis: Muhammad Dini Syauqi Al Madani dan Dwi Rudita Saputri
