Aqidah & Akhlak

4 Bahaya Syirik dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Hukumnya

TATSQIF ONLINE  Dalam ajaran Islam, tauhid atau keesaan Allah merupakan fondasi utama dari seluruh keyakinan. Seluruh risalah para nabi dan rasul diarahkan untuk mengajak umat manusia kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya, lawan dari tauhid adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam ibadah, sifat, atau kekuasaan-Nya.

Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam dan merupakan bentuk kezaliman yang paling berat karena merampas hak Allah yang paling asasi, yaitu hak untuk disembah secara eksklusif. Memahami hakikat syirik, jenis-jenisnya, serta bahayanya sangat penting agar setiap Muslim dapat menjaga kemurnian iman dan selamat dari kehancuran akidah (Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan).

Pengertian Syirik

Secara etimologis, kata syirik berasal dari kata bahasa Arab “شَرَكَ” yang berarti menyekutukan atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu. Dalam terminologi syar’i, syirik berarti menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam aspek rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (peribadatan), maupun asma’ wa sifat (nama dan sifat) (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh Tsalatsatul Ushul).

Syirik adalah dosa yang sangat besar. Allah menegaskan bahwa dosa syirik tidak akan diampuni apabila pelakunya meninggal dalam keadaan belum bertaubat. Allah berfirman dalam Alquran Surah An-Nisa’ ayat 4:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Demikian pula Luqman al-Hakim memberi nasihat kepada anaknya agar tidak berbuat syirik. Allah berfirman dalam Alquran Surah Luqman ayat 13:

يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Jenis-Jenis Syirik

Para ulama membagi syirik menjadi dua jenis utama berdasarkan tingkat bahayanya:

1. Syirik Akbar (Syirik Besar)

Syirik akbar adalah bentuk syirik yang paling berbahaya dan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Syirik ini terjadi apabila seseorang menjadikan selain Allah sebagai tandingan dalam ibadah, ketuhanan, atau keyakinan (Muhammad bin Abdul Wahhab, Kitab at-Tauhid).

Contoh syirik akbar antara lain:

  • Menyembah berhala, patung, atau kuburan.
  • Memohon kepada jin, ruh, atau makhluk lain dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.
  • Meyakini bahwa ada makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak selain Allah.

Dalil tentang bahaya syirik akbar dijelaskan dalam firman Allah dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 22:

فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa).”

2. Syirik Asghar (Syirik Kecil)

Syirik asghar adalah bentuk syirik yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, namun tetap merupakan dosa besar yang bisa menghapus pahala amal ibadah dan merusak keikhlasan (Shamsuddin Muhammad bin Abi Bakr al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an).

Contoh syirik kecil meliputi:

  • Riya’: beramal karena ingin dipuji orang, bukan karena Allah.
  • Bersumpah dengan selain nama Allah seperti “Demi kehormatanku”.
  • Menggantungkan jimat atau benda bertuah dengan keyakinan bahwa benda tersebut bisa memberikan perlindungan.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أخوفُ ما أخافُ عليكمُ الشركُ الأصغرُ، قالوا: وما الشركُ الأصغرُ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الرِّياءُ

Artinya: “Yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, “Apa syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya (pamer dalam ibadah).” (HR Ahmad).

Dampak dan Bahaya Syirik

1. Menghapus Amal Ibadah

Amal kebaikan tidak akan diterima jika dilakukan dengan niat menyekutukan Allah. Allah berfirman dalam Alquran Surah Az-Zumar ayat 65:

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya amalmu akan terhapus dan sungguh kamu akan termasuk orang yang merugi.'”

2. Menjadi Sebab Kekal di Neraka

Allah menyatakan bahwa orang yang mati dalam keadaan musyrik tidak akan masuk surga. Dalam Al-Ma’idah ayat 72 disebutkan:

إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Artinya: “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempat tinggalnya ialah neraka. Tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”

3. Hilangnya Pertolongan dan Keberkahan dari Allah

Syirik menjauhkan seseorang dari rahmat dan pertolongan Allah. Ia tidak lagi mendapatkan keberkahan hidup dan amalnya sia-sia (Muhammad bin Jamil Zainu, Minhaj al-Firqah an-Najiyah).

4. Menimbulkan Perpecahan Aqidah dalam Umat

Ketika tauhid tidak dijaga, akan muncul berbagai keyakinan sesat, pemujaan terhadap makhluk, praktik perdukunan, dan sebagainya yang menyebabkan perpecahan dan kebodohan dalam umat (Salih al-Fauzan, Syarh Kitab at-Tauhid).

Cara Menghindari Syirik

1. Mempelajari dan Memahami Tauhid Secara Mendalam

Ilmu adalah benteng pertama untuk membedakan antara tauhid dan syirik. Seorang Muslim wajib belajar tentang makna, jenis, dan hukum syirik agar tidak terjerumus padanya (Abdul Aziz bin Baz, Majmu’ Fatawa).

2. Bertaubat dari Syirik dengan Taubat Nasuha

Allah menerima taubat dari hamba-Nya selama belum sampai ajal. Allah berfirman dalam Alquran Surah At-Tahrim ayat 8:

    يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًۭا

    Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

    3. Menjaga Keikhlasan dan Muroqabatullah

    Senantiasa menjaga niat dan menghadirkan pengawasan Allah dalam hati. Ibadah harus murni hanya karena Allah, bukan demi makhluk (Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, al-Fawa’id).

    4. Menghindari Segala Praktik yang Mengandung Unsur Syirik

    Seperti penggunaan jimat, percaya pada ramalan, atau mencari pertolongan kepada makhluk ghaib selain Allah.

    5. Berdoa dan Memohon Perlindungan kepada Allah

    Agar dilindungi dari syirik, seperti doa Nabi Ibrahim dalam Alquran Surah Ibrahim ayat 35:

      وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

      Artinya: “Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala.”

      Kesimpulan

      Syirik adalah bentuk kezaliman paling besar karena menyamakan makhluk dengan Allah yang Maha Sempurna. Ia membatalkan amal, menjerumuskan pada kekafiran, dan mengakibatkan kekekalan di neraka apabila tidak segera ditaubati. Oleh karena itu, kewajiban terbesar bagi setiap Muslim adalah mempelajari tauhid, menjauhi segala bentuk syirik, menjaga keikhlasan dalam beribadah, serta senantiasa memohon bimbingan dari Allah agar tetap berada dalam keimanan yang lurus. Wallahua’lam.

      Hengki Pranata (Mahasiswa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)

      Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

      Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

      2 komentar pada “4 Bahaya Syirik dalam Islam: Pengertian, Jenis, dan Hukumnya

      • Saipul Bakhri

        Dalam surah an nisa disebutkan sesungguhnya allah tidak mengampuni dosa orang mempersekutukan-Nya (syirik), bagaimana jika dia sudah bertaubat dari dosa syirik itu, dan bagaimana dosa syirik yang pernah dilakukan dia sebelum bertaubat apakah akan diampuni?

        Balas
      • Kaniya amirah barkah daulay

        Apakah yang membedakan antara syirik yg di sengaja dan syirik yg tidak di sengaja,serta bagaimana implikasi hukumnya?

        Balas

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *