Al-Qur'an & Hadis

Perumpamaan dalam Al-Qur’an: Makna dan Hikmahnya, Simak

TATSQIF ONLINE  Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan sebagai petunjuk hidup dan pedoman moral yang bersifat menyeluruh. Di dalamnya terkandung pelbagai bentuk penyampaian makna yang tidak hanya bernilai teologis, tetapi juga memiliki dimensi sastra dan retorika yang sangat tinggi. Salah satu gaya bahasa penting dalam Al-Qur’an adalah penggunaan amtsal atau perumpamaan. Penggunaan perumpamaan dalam Al-Qur’an bukan hanya memperindah bahasa wahyu, tetapi juga berfungsi sebagai media pengajaran yang sangat efektif.

Dengan amtsal, ajaran-ajaran abstrak, nilai-nilai moral, dan kebenaran-kebenaran ilahiah disampaikan melalui gambaran konkret, sehingga lebih mudah dipahami, dihayati, dan diterima oleh akal serta hati manusia. Pemahaman terhadap amtsal dalam Al-Qur’an menjadi salah satu topik penting dalam kajian Ulumul Qur’an, karena menunjukkan betapa Al-Qur’an sangat memperhatikan cara terbaik dalam menyampaikan pesan-pesan Allah kepada manusia.

Pengertian Amtsal secara Bahasa dan Istilah

Secara etimologis, kata amtsal adalah bentuk jamak dari matsal (مَثَل), yang memiliki arti perumpamaan atau gambaran yang menyerupai sesuatu. Kata ini berasal dari akar kata matsala (مثل), yang berarti menyerupai atau meniru. Dalam kamus Al-Munawwir, kata مَثَلَ diartikan sebagai menyerupai, dan digunakan untuk menggambarkan kesamaan atau analogi antara dua hal.

Ibn Faris dalam bukunya tentang makna-makna kata Arab menjelaskan bahwa kata matsal menunjukkan pada makna membandingkan satu hal dengan hal lain berdasarkan kesamaan tertentu. Oleh karena itu, matsal erat kaitannya dengan metode tasybih atau perumpamaan dalam ilmu balaghah.

Secara istilah, ulama memiliki pandangan yang sedikit berbeda:

  • Ulama adab (sastra Arab) mendefinisikan amtsal sebagai ungkapan yang menyerupakan satu hal dengan hal lain dengan tujuan untuk memperjelas makna secara singkat dan indah.
  • Ulama balaghah (ilmu retorika Arab) memahami amtsal sebagai jenis majas tasybih yang mengandung musyabbah, musyabbah bih, wajh al-syabah, dan adat tasybih.
  • Ulama tafsir memaknai amtsal sebagai metode penyampaian pengertian abstrak dalam bentuk ungkapan yang dapat diindera atau dirasakan agar makna lebih mudah dipahami.

Ahmad Syadalli dan Ahmad Rofi’i dalam buku Ulumul Qur’an I menjelaskan bahwa dalam konteks Al-Qur’an, amtsal digunakan untuk menggambarkan nilai, konsep, atau fenomena dengan cara menyamakan atau menyerupakan dengan sesuatu yang lebih mudah dimengerti manusia, seperti fenomena alam, perilaku manusia, atau benda-benda konkret.

Kedudukan Amtsal dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an banyak mengandung ayat-ayat yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Menurut para ulama, ayat-ayat yang mengandung perumpamaan berjumlah lebih dari dua ratus ayat. Di antara ayat yang secara eksplisit menyebutkan penggunaan amtsal adalah Alquran Surah Al-Baqarah ayat 26:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بكَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”

Ayat ini menjadi dasar bahwa Allah menggunakan perumpamaan dalam menyampaikan wahyu-Nya. Bahkan dalam ayat lain, Allah menjelaskan tujuan dari perumpamaan tersebut:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (42) وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ (43)

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui: Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”

Ini menunjukkan bahwa amtsal merupakan metode pengajaran yang sangat mendalam dan memerlukan perenungan serta ilmu untuk memahaminya.

Macam-Macam Amtsal dalam Al-Qur’an

Manna’ al-Qaththan dalam bukunya Pembahasan Ilmu Al-Qur’an mengklasifikasikan amtsal dalam Al-Qur’an menjadi tiga kategori:

1. Amtsal Musharraha (Perumpamaan Eksplisit)

Ini adalah jenis perumpamaan yang secara langsung menyebut kata matsal atau bentuk perbandingan yang jelas. Contohnya dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 17–20, Allah memberikan dua perumpamaan bagi kaum munafik:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى ٱسْتَوْقَدَ نَارًۭا فَلَمَّآ أَضَآءَتْ مَا حَوْلَهُۥ ذَهَبَ ٱللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِى ظُلُمَـٰتٍۢ لَّا يُبْصِرُونَ ١٧ صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْىٌۭ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ ١٨ أَوْ كَصَيِّبٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فِيهِ ظُلُمَـٰتٌۭ وَرَعْدٌۭ وَبَرْقٌۭ يَجْعَلُونَ أَصَـٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِم مِّنَ ٱلصَّوَٰعِقِ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ ۚ وَٱللَّهُ مُحِيطٌۢ بِٱلْكَـٰفِرِينَ ١٩ يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَـٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ ٢٠

Artinya: “Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api, lalu ketika api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (penglihatan) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti hujan lebat dari langit yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga mereka dengan jari-jari dari suara petir karena takut mati, padahal Allah meliputi orang-orang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menerangi bagi mereka, mereka berjalan di bawahnya. Tetapi bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Di sini, orang munafik diumpamakan seperti orang yang sesaat mendapat penerangan (yakni cahaya kebenaran), tetapi kemudian Allah cabut cahaya itu karena kekafiran mereka.

2. Amtsal Mursalah (Perumpamaan Umum atau Bebas)

Jenis ini tidak menyebut lafaz matsal, tetapi maknanya mengandung unsur perumpamaan. Misalnya dalam Alquran Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan janganlah menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Ini adalah perumpamaan bagi orang yang suka menggunjing. Meskipun tidak menggunakan kata matsal, ayat ini berisi gambaran yang sangat kuat tentang keburukan ghibah.

3. Amtsal Kamina (Perumpamaan Tersirat atau Tersamar)

Jenis ini adalah perumpamaan yang tersembunyi, tidak tampak sebagai perumpamaan di permukaan tetapi mengandung makna perbandingan. Misalnya, kisah Bani Israil tentang sapi betina dalam QS. Al-Baqarah: 68–71, menggambarkan sikap keras kepala dan keengganan menaati perintah Allah.

Fungsi dan Faedah Amtsal dalam Al-Qur’an

Penggunaan amtsal dalam Al-Qur’an memiliki banyak fungsi strategis, antara lain:

1. Memudahkan Pemahaman terhadap Hal Abstrak

Perumpamaan berfungsi menjembatani pemahaman antara hal yang tidak kasat mata dengan realitas konkret. Misalnya perumpamaan dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 264, tentang orang yang bersedekah karena riya:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Maka perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu ditimpa hujan lebat, maka menjadilah dia bersih (tidak berdebu). Mereka tidak memperoleh sesuatu pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”

Ini menggambarkan bahwa amal yang tidak ikhlas tidak akan memiliki nilai di sisi Allah, seperti tanah yang terhapus dari permukaan batu karena hujan deras.

2. Membangkitkan Renungan dan Ibrah

Amtsal membuat seseorang merenung dan mengambil pelajaran. Dengan gaya bahasa yang menggugah, perumpamaan dalam Al-Qur’an mengajak pembacanya berpikir lebih dalam, tidak sekadar membaca teks secara harfiah.

3. Menyampaikan Nilai Moral dengan Kekuatan Gambar

Misalnya perumpamaan dalam Alquran Surah Al-Jumu’ah ayat 5 tentang orang yang diberi Taurat tetapi tidak mengamalkannya:

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًۢا ۚ بِئْسَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya (kitab) Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (berisi ilmu). Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Ayat ini menyindir keras orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya.

4. Mengokohkan Argumentasi Kebenaran

Perumpamaan digunakan untuk menguatkan kebenaran yang disampaikan Al-Qur’an. Melalui analogi, kebenaran menjadi tampak dan logis, sehingga sulit dibantah.

Penutup

Amtsal Al-Qur’an adalah bagian penting dari keindahan dan keistimewaan bahasa Al-Qur’an. Ia bukan hanya ornamen sastra, tetapi juga metode dakwah yang penuh hikmah. Melalui amtsal, Al-Qur’an menuntun manusia dengan bahasa yang menyentuh akal dan hati. Pemahaman yang mendalam terhadap amtsal dapat meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, menambah kedalaman pemahaman terhadap isinya, serta memperkuat keyakinan terhadap kebenaran pesan-pesan Ilahi.

Karenanya, penting bagi setiap Muslim untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga mentadabburi isinya, terutama dalam ayat-ayat yang berbentuk amtsal, karena di dalamnya terkandung banyak pelajaran dan petunjuk hidup. Wallahua’lam.

Siti Aisyah Siregar (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)


Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

4 komentar pada “Perumpamaan dalam Al-Qur’an: Makna dan Hikmahnya, Simak

  • Diah Hafmita Syahadah Siregar

    Apa manfaat perumpamaan dalam alquran dalam meningkatkan iman dan takwa?

    Balas
  • Dievelia salsabilah

    Bagaimana perumpamaan dalam Al-Qur’an dapat membantu manusia dalam memahami ajaran-ajaran Islam?

    Balas
  • Neyna Mahfuzi

    Mengapa dalam Al-Quran Allah banyak menghadirkan perumpamaan Amtsal?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *