Bahasa Arab

Peran Tamyiz dan Maf’ul dalam Struktur Kalimat Arab, Simak

TATSQIF ONLINE  Bahasa Arab, sebagai bahasa Al-Qur’an, memiliki struktur sintaksis yang sangat kompleks namun penuh makna. Ilmu nahwu menjadi kunci utama untuk membuka pemahaman terhadap struktur kalimat bahasa Arab secara benar. Dalam ilmu ini, terdapat sejumlah istilah yang berfungsi untuk memperjelas hubungan antar unsur dalam kalimat.

Di antaranya yang sangat penting adalah tamyiz, ‘adad ma’dud, maf’ul min ajlih, dan maf’ul ma’ah. Setiap elemen tersebut memiliki posisi gramatikal dan fungsional tersendiri yang berperan besar dalam menjaga kejelasan dan keakuratan makna. Artikel ini bertujuan mengulas secara mendalam keempat unsur tersebut, dengan dukungan teori dari kitab-kitab nahwu klasik dan modern.

Tamyiz: Penjernih Makna dalam Kalimat

Tamyiz secara bahasa berarti “pembeda” atau “penjelas.” Dalam istilah nahwu, tamyiz adalah isim manshub yang berfungsi untuk menjelaskan atau mempertegas makna kalimat sebelumnya yang bisa menimbulkan kerancuan. Tamyiz bukan bagian pokok kalimat (seperti fa’il atau maf’ul bih), melainkan pelengkap yang hadir untuk menghilangkan ambiguitas makna.

Contohnya:

طَابَ زَيْدٌ نَفْسًا
(Zaid berperangai baik)

Kata نَفْسًا adalah tamyiz yang menjelaskan bahwa yang baik itu adalah jiwanya. Tanpa tamyiz, bisa jadi makna kalimat tersebut ambigu: apakah yang baik perangainya, pakaiannya, atau bahkan makanannya.

Dalam konteks ini, Ibn Hisham dalam kitab Mughni al-Labib menjelaskan bahwa tamyiz muncul untuk mengangkat ketidakjelasan atau ketidaktentuan makna dalam suatu kalimat dengan memberikan keterangan tentang sesuatu yang tidak dijelaskan secara eksplisit sebelumnya.

Tamyiz terbagi menjadi dua jenis utama:

  1. Tamyiz dzat (zat): menjelaskan sesuatu yang bersifat materi atau benda.
  2. Tamyiz nisbah (hubungan): menjelaskan hubungan atau makna yang tidak konkret.

Tamyiz juga sering muncul setelah bilangan, ukuran, takaran, atau komparasi, seperti dalam contoh:

مَلَكْتُ عَشْرِينَ نَاقَةً
(Aku memiliki dua puluh unta)

Kata نَاقَةً adalah tamyiz karena menjelaskan apa yang dimaksud dari bilangan dua puluh.

Syarat tamyiz:

  • Harus berupa nakirah
  • Umumnya isim jamid, bukan isim musytaq
  • Berstatus sebagai manshub

Adad Ma’dud: Kaidah Penulisan Bilangan dan Objeknya

Kaidah ‘adad ma’dud merupakan aspek penting dalam ilmu nahwu yang berkaitan dengan penyebutan bilangan (‘adad) dan benda yang dihitung (ma’dud). Tata cara penyebutan bilangan dalam bahasa Arab sangat sistematis dan mengikuti pola tertentu tergantung pada jumlahnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Jurumiyah oleh Ibn Ajurrum, terdapat beberapa kelompok bilangan dengan aturan yang berbeda:

  1. Bilangan 1 dan 2: ma’dud mengikuti ‘adad dalam bentuk dan gender.
    Contoh: رَجُلٌ وَاحِدٌ، امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ
  2. Bilangan 3–10: ‘adad berlawanan gender dengan ma’dud, dan ma’dud berbentuk jamak majrur.
    Contoh: ثَلَاثَةُ أَوْلَادٍ، خَمْسُ بَنَاتٍ
  3. Bilangan 11–99: ma’dud berbentuk mufrad manshub.
    Contoh: خَمْسَةَ عَشَرَ كِتَابًا، تِسْعٌ وَتِسْعُونَ صَفْحَةً
  4. Bilangan 100, 1000, dst.: ma’dud berbentuk mufrad majrur.
    Contoh: مِئَةُ رَجُلٍ، أَلْفُ امْرَأَةٍ

Penting untuk dicatat bahwa salah satu bentuk tamyiz yang paling umum adalah dalam konteks ‘adad ini. Oleh karena itu, memahami kaidah ‘adad ma’dud menjadi bagian integral dari kajian tentang tamyiz.

Maf’ul Min Ajlih: Penjelas Sebab Terjadinya Tindakan

Maf’ul min ajlih atau maf’ul li ajlih adalah isim manshub yang menyatakan alasan atau motivasi di balik terjadinya suatu tindakan. Ia menjawab pertanyaan “mengapa?” dan biasanya berbentuk mashdar yang menunjukkan alasan yang berasal dari emosi atau niat.

Contoh:

ذَاكَرْتُ حُبًّا لِلْعِلْمِ
(Aku belajar karena cinta ilmu)

Kata حُبًّا adalah mashdar yang menunjukkan perasaan, sehingga memenuhi syarat sebagai maf’ul min ajlih. Sebagaimana dijelaskan dalam Syarh Qathr al-Nada oleh Ibn Hisham, maf’ul min ajlih hanya sah apabila memenuhi dua syarat:

  1. Berupa mashdar
  2. Menunjukkan makna emosi atau perasaan, bukan aksi fisik

Contoh salah:
ذَهَبْتُ تِجَارَةً
Benarnya adalah menggunakan huruf jar: ذَهَبْتُ لِلتِّجَارَةِ

Maf’ul Ma’ah: Penjelas Penyertaan

Maf’ul ma’ah (keterangan penyertaan) adalah isim manshub yang menunjukkan bahwa tindakan dilakukan bersamaan dengan pihak lain. Ia selalu datang setelah huruf waw ma’iyyah (و) yang menunjukkan makna “bersama” bukan sekadar “dan” seperti dalam ‘athaf.

Contoh:

جَاءَ الطَّالِبُ وَالْمُعَلِّمَ
(Sang murid datang bersama guru)

Kata وَالْمُعَلِّمَ bukan ma’thuf, karena jika ‘athaf maka bentuknya harus rafa’ (وَالْمُعَلِّمُ). Dalam hal ini, “guru” tidak datang sendiri, tapi menjadi pelengkap makna penyertaan dari murid.

Maf’ul ma’ah juga bisa digunakan untuk menunjukkan dua perbuatan yang terjadi bersama namun dilakukan oleh subjek berbeda. Seperti dalam kalimat:

سِرْتُ وَالنَّيْلَ
(Aku berjalan bersama Sungai Nil)

Maksudnya, aku berjalan di tepi sungai Nil. Sungai tidak benar-benar “berjalan”, namun menyertai secara posisi.

Kesimpulan

Ilmu nahwu memberikan perangkat yang kaya untuk memahami hubungan antar elemen dalam kalimat bahasa Arab. Tamyiz, ‘adad ma’dud, maf’ul min ajlih, dan maf’ul ma’ah bukan hanya istilah teknis, tetapi konsep penting yang menjamin ketepatan dan kejelasan dalam komunikasi. Melalui pemahaman mendalam terhadap kaidah-kaidah ini, pembelajar bahasa Arab dapat menyusun kalimat yang benar secara gramatikal sekaligus padat makna. Penjelasan dari para ulama nahwu seperti Ibn Ajurrum, Ibn Hisham, dan al-Suyuthi membuktikan bahwa pemahaman terhadap bahasa tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga filosofis dan konseptual. Wallahua’lam.

Siti Khodijah Batubara (Mahasiswa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *