Pemahaman Nabi dan Rasul: Simak Tugas, Sifat, dan Keteladanan
TATSQIF ONLINE – Dalam ajaran Islam, para nabi dan rasul adalah pribadi-pribadi pilihan Allah SWT yang diutus untuk membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran. Mereka bertugas menyampaikan wahyu Allah serta menjadi teladan sempurna dalam akhlak, ibadah, dan perilaku sosial. Pemahaman mengenai perbedaan mendasar antara nabi dan rasul, sifat-sifat yang mereka miliki, serta tugas-tugas yang mereka emban, sangatlah penting untuk memperkokoh keimanan seorang Muslim. Dengan mengenal lebih dekat karakteristik dan perjuangan para utusan Allah ini, umat Islam diharapkan mampu meneladani prinsip-prinsip luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Nabi dan Rasul
Dalam literatur keislaman, terdapat definisi yang membedakan antara nabi dan rasul. Menurut Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam kitab Al-Anbiya wa Ar-Rusul, nabi adalah seorang laki-laki yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk diamalkan sendiri tanpa kewajiban menyampaikan kepada umatnya. Sedangkan rasul adalah laki-laki yang tidak hanya menerima wahyu, tetapi juga diperintahkan secara langsung untuk menyebarkannya kepada kaumnya.
Dengan demikian, semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul. Hal ini dijelaskan pula oleh Muhammad At-Tamimi dalam kitab Al-Qawaidul Arba’, yang menegaskan bahwa tugas rasul lebih luas dibandingkan nabi karena melibatkan penyampaian risalah kepada masyarakat luas, seringkali dalam kondisi yang penuh tantangan dan pertentangan.
Perbedaan Antara Nabi dan Rasul
Beberapa perbedaan mendasar antara nabi dan rasul dapat dirinci sebagai berikut:
- Rasul menerima kitab suci sebagai pedoman umatnya, sedangkan nabi tidak selalu menerima kitab baru melainkan melanjutkan syariat rasul sebelumnya.
- Rasul diutus kepada kaum yang ingkar dan menolak ajaran tauhid, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman namun membutuhkan bimbingan lebih lanjut.
- Rasul biasanya menghadapi tantangan lebih berat dibanding nabi, karena mereka bertugas mengubah pola pikir masyarakat yang sudah jauh dari jalan kebenaran.
Penjelasan ini diperkuat oleh Ahmad bin Hambal dalam kitab Ushul As-Sunnah, yang menyoroti pentingnya membedakan antara nabi dan rasul dalam memahami konsep dakwah dan kenabian dalam Islam.
Sifat-Sifat Para Rasul
Sifat-sifat para rasul merupakan bukti kemuliaan karakter mereka. Berdasarkan pemaparan Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, terdapat empat sifat wajib yang harus ada pada setiap rasul:
Shiddiq (Jujur)
Para rasul adalah pribadi yang selalu berkata benar. Kejujuran mereka tidak hanya dalam menyampaikan wahyu, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Rasulullah Muhammad SAW, misalnya, sebelum diangkat menjadi rasul, sudah dikenal oleh kaumnya sebagai Al-Amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Amanah (Dapat Dipercaya)
Rasul memiliki integritas yang tinggi dalam menjaga dan menyampaikan amanat. Setiap wahyu yang diterima, mereka jaga dengan penuh tanggung jawab tanpa ada yang disembunyikan atau diubah sedikit pun.
Tabligh (Menyampaikan)
Salah satu tugas utama para rasul adalah menyampaikan seluruh wahyu yang diterima dari Allah SWT kepada umatnya dengan penuh keikhlasan, meskipun harus menghadapi berbagai ancaman, siksaan, atau pengucilan.
Fathonah (Cerdas)
Para rasul dianugerahi kecerdasan luar biasa, baik dalam hal intelektual, sosial, maupun emosional. Mereka mampu menjelaskan ajaran-ajaran agama dengan cara yang sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat mereka.
Selain sifat wajib tersebut, para rasul juga terbebas dari sifat-sifat tercela seperti dusta, khianat, menyembunyikan wahyu, dan kebodohan. Adapun sifat jaiz para rasul, sebagaimana diuraikan oleh Imam Al-Bajuri dalam kitab Tuhfatul Murid, adalah mereka memiliki sifat-sifat manusiawi seperti makan, minum, tidur, dan merasakan sakit.
Tugas-Tugas Para Rasul
Tugas yang diemban oleh para rasul tidaklah ringan. Ahmad bin Hambal dalam Ushul As-Sunnah menjelaskan bahwa rasul-rasul Allah memiliki beberapa tugas pokok yang sangat berat, di antaranya:
- Menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia tanpa menyembunyikan atau mengurangi isinya.
- Menyeru umat manusia untuk bertauhid, menyembah Allah semata, dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
- Menjadi teladan dalam perilaku, kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan semangat berjuang di jalan Allah.
- Membimbing umat manusia menuju kehidupan yang diridhai oleh Allah melalui syariat yang dibawa.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, para rasul sering kali menghadapi ujian berat berupa penolakan, penyiksaan, bahkan ancaman pembunuhan, namun mereka tetap teguh dan sabar dalam menyampaikan risalah ilahi.
Penjabaran Detail Sifat-Sifat Rasul
Shiddiq
Rasulullah Muhammad SAW merupakan contoh sempurna dalam sifat kejujuran. Sejak kecil, beliau sudah dikenal luas sebagai Al-Amin, menunjukkan bahwa integritasnya sudah teruji bahkan sebelum menerima wahyu. Kejujuran ini menjadi salah satu alasan banyak orang Quraisy akhirnya memeluk Islam setelah mendengar dakwah beliau.
Amanah
Rasulullah SAW tidak hanya amanah dalam urusan wahyu, tetapi juga dalam perkara duniawi. Bahkan ketika kaum Quraisy bermusuhan dengannya, mereka tetap menitipkan barang-barang berharga kepada beliau, mempercayainya sebagai penjaga yang paling aman.
Tabligh
Dalam menyampaikan risalah, Rasulullah SAW tidak pernah ragu ataupun takut. Meskipun mendapatkan perlawanan keras, beliau terus menyampaikan pesan Islam dengan sabar dan penuh hikmah, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 67.
Fathonah
Dalam berbagai peristiwa, kecerdasan Rasulullah SAW sangat tampak jelas, seperti saat mendamaikan konflik di antara suku Quraisy dalam peletakan Hajar Aswad, di mana beliau berhasil mencari solusi yang adil dan memuaskan semua pihak.
Contoh Rasul-Rasul dan Keteladanan Mereka
Sejarah Islam mencatat banyak rasul yang menunjukkan keteladanan luar biasa dalam menjalankan misi kenabian mereka:
- Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun kepada kaumnya yang membangkang, tanpa pernah menyerah.
- Nabi Ibrahim AS tetap berpegang teguh pada tauhid meski harus menghadapi cobaan berat seperti dibakar hidup-hidup oleh Namrud.
- Nabi Musa AS dengan keberanian dan keteguhan hati menghadapi kezaliman Fir’aun demi menyelamatkan Bani Israil.
- Nabi Isa AS menegakkan kebenaran meski menghadapi fitnah dan ancaman penyaliban.
- Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai tantangan berat di Mekkah dan Madinah, namun tidak pernah surut dalam dakwah.
Relevansi Tugas Rasul di Era Modern
Meski kenabian telah berakhir dengan Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi, tugas menyampaikan kebenaran tetap diwariskan kepada seluruh umat Islam. Seperti dijelaskan oleh Muhammad Qutb dalam Manhaj Tarbiyah Islami, setiap Muslim memiliki kewajiban berdakwah sesuai dengan kemampuan mereka.
Dalam era modern yang penuh tantangan seperti krisis moral, sekularisme, dan individualisme, umat Islam harus menjadikan keteladanan para rasul sebagai pedoman. Sifat jujur, amanah, komunikatif, dan cerdas perlu dihidupkan dalam setiap lini kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, hingga dunia profesional.
Dengan meneladani rasul-rasul Allah, umat Islam dapat membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ilahiyah di tengah berbagai krisis zaman modern ini.
Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut’…”
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
Kedua dalil ini menegaskan pentingnya tugas menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia.
Kesimpulan
Para nabi dan rasul adalah sosok-sosok mulia yang diutus oleh Allah SWT untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran. Dengan memahami pengertian, sifat-sifat, tugas, serta meneladani kehidupan mereka, seorang Muslim akan mampu memperkokoh keimanannya dan menjadi pribadi yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Menjadikan rasul sebagai teladan dalam kejujuran, amanah, kecerdasan, dan keberanian adalah suatu keharusan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks. Wallahua’lam.
Yogi Nauli Hasibuan (Mahasiswa Prodi Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Bagaimana cara kita membuat para nabi menjadi panutan sedangkan para Nabi itu maksum(tidak pernah salah) bagaimana hal ini relevan untuk menjadi panutan ? dikarenakan kita hanya seorang manusia biasa yang memiliki segudang salah
Apa tugas utama yang diemban para rasul dan bagaimana mereka menjalankannya di tengah tantangan kaumnya?
Bagaimana kita dapat meneladani sifat”nabi dan rasul dalam kehidupan sehari-hari?
Apa hikmah tersembunyi di balik tidak disebut kan nya secara lengkap seluruh nabi dan rosul dalam Al Qur’an
Apakah setiap Rasul pasti Nabi? Jelaskan dengan dalil dan argumentasi teologis yang kuat.
Menurutmu, bagaimana cara meneladani sifat jujur (shiddiq) dan dapat dipercaya (amanah) dalam kehidupan modern?
Jelaskan mengapa tidak semua Nabi adalah Rasul, tetapi semua Rasul pasti seorang Nabi!
Apa kaitan antara Nabi Isa dalam Islam dan konsep kedatangan kembali menjelang Hari Kiamat dan jelas kan memakai dalil!