Aqidah & Akhlak

Ahlussunnah wal Jama’ah: Pilar Akidah dan Jalan Lurus Umat

TATSQIF ONLINE – Dalam perjalanan sejarah Islam, persoalan akidah selalu menjadi fondasi utama yang menentukan lurus atau menyimpangnya seseorang dalam beragama. Islam tidak hanya menuntut keyakinan yang benar, tetapi juga menuntut metode pemahaman yang benar terhadap wahyu. Di sinilah konsep Ahlussunnah wal Jama’ah hadir sebagai representasi ajaran Islam yang autentik, moderat, dan berkesinambungan dari generasi ke generasi.

Ahlussunnah wal Jama’ah bukan sekadar label kelompok, melainkan manhaj (metodologi berpikir dan beragama) yang berakar kuat pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, serta pemahaman generasi terbaik umat Islam, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Dengan memahami konsep ini secara utuh, seorang Muslim akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menjaga kemurnian tauhid dan terhindar dari berbagai penyimpangan akidah.

Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah

Secara etimologi, kata sunnah berarti jalan atau metode, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

Artinya: “Barang siapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah yang baik, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya… dan barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim)

Dalam terminologi ilmu hadis, sunnah mencakup segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat, maupun perjalanan hidup beliau (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari).

Sementara dalam ushul fiqh, sunnah adalah segala sesuatu yang datang dari Rasulullah ﷺ selain Al-Qur’an yang dapat menjadi dalil hukum (Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh).

Adapun dalam fiqh, sunnah merujuk pada amalan yang dianjurkan, yang jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Kata jama’ah secara bahasa berasal dari kata al-jam’u yang berarti berkumpul atau bersatu. Lawan katanya adalah tafarruq (perpecahan). Jama’ah dalam konteks syariat merujuk pada kelompok kaum Muslimin yang bersatu di atas kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

Artinya: “Wajib atas kalian untuk berpegang pada jama’ah dan jauhilah perpecahan.” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta menjaga persatuan umat di atas kebenaran.

Landasan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah menjadikan empat sumber utama dalam memahami agama:

  1. Al-Qur’an sebagai wahyu utama
  2. Sunnah Nabi ﷺ sebagai penjelas wahyu
  3. Ijma’ (kesepakatan ulama mujtahid)
  4. Qiyas (analogi yang sahih)

Allah SWT berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ahlussunnah tidak hanya berpegang pada teks, tetapi juga memahami teks tersebut sesuai dengan pemahaman generasi salafus shalih. Hal ini penting agar tidak terjadi penyimpangan dalam menafsirkan ajaran agama.

Karakteristik Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah memiliki sejumlah karakteristik utama yang membedakannya dari kelompok lain:

Pertama, tawassuth (moderat), yaitu tidak ekstrem dalam beragama. Mereka berada di tengah antara sikap berlebihan dan meremehkan.

Kedua, tawazun (seimbang), yaitu menyeimbangkan antara dalil naqli (wahyu) dan aqli (akal).

Ketiga, tasamuh (toleransi), yaitu menghargai perbedaan dalam ranah ijtihad.

Keempat, i’tidal (adil), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional.

Kelima, menjaga persatuan umat dan menjauhi perpecahan.

Prinsip-prinsip ini menjadikan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj yang membawa kedamaian dan kestabilan dalam kehidupan beragama.

Kedudukan Salafus Shalih dalam Ahlussunnah

Ahlussunnah wal Jama’ah sangat menekankan pentingnya mengikuti generasi awal Islam, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka dikenal sebagai salafus shalih, generasi terbaik yang mendapat pujian langsung dari Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengikuti pemahaman mereka merupakan jaminan keselamatan dalam memahami agama, karena mereka hidup dekat dengan masa turunnya wahyu dan memahami konteks ajaran Islam secara langsung.

Ahlussunnah sebagai Mayoritas Umat

Ahlussunnah wal Jama’ah juga dikenal dengan istilah as-sawad al-a’zham (golongan mayoritas). Hal ini menunjukkan bahwa sepanjang sejarah, mayoritas umat Islam mengikuti manhaj ini.

Keberadaan mereka bukan hanya dominan secara jumlah, tetapi juga kuat dalam sanad keilmuan, tradisi keilmuan, dan kontribusi terhadap peradaban Islam.

Namun, mayoritas bukan sekadar angka, melainkan konsistensi dalam menjaga ajaran Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Tantangan dan Penyimpangan dalam Akidah

Seiring perkembangan zaman, berbagai pemikiran dan aliran muncul yang berpotensi menyimpang dari akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Penyimpangan ini bisa berupa:

  • Penolakan terhadap sifat-sifat Allah
  • Penyerupaan Allah dengan makhluk
  • Pengingkaran terhadap takdir
  • Ekstremisme dalam beragama
  • Penggunaan akal secara berlebihan tanpa batas syariat

Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memiliki pemahaman akidah yang benar agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menyimpang.

Relevansi Ahlussunnah wal Jama’ah di Era Modern

Di era globalisasi dan digital saat ini, arus informasi sangat cepat dan tidak terbatas. Hal ini membuka peluang besar bagi tersebarnya berbagai pemahaman keagamaan, termasuk yang menyimpang.

Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi sangat relevan karena menawarkan pendekatan yang:

  • Berbasis dalil yang kuat
  • Seimbang antara teks dan konteks
  • Adaptif tanpa meninggalkan prinsip
  • Menjaga persatuan umat

Dengan manhaj ini, umat Islam dapat menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keimanan.

Kesimpulan

Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan manhaj akidah yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah Nabi ﷺ, serta pemahaman generasi salafus shalih. Ia bukan sekadar kelompok, tetapi jalan lurus yang menjaga kemurnian tauhid dan keseimbangan dalam beragama.

Dengan prinsip moderasi, keseimbangan, dan persatuan, manhaj ini mampu menjadi solusi dalam menghadapi berbagai tantangan akidah di setiap zaman. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya berpegang teguh pada manhaj ini agar tetap berada di jalan yang benar dan diridhai Allah SWT. Wallahu’alam.

Selvia Sari (Mahasiswa Prodi IAT UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta karya mahasiswa yang lahir dari proses pembelajaran di kelas, sekaligus membuka akses pengetahuan bagi masyarakat luas. Sebagai ruang berbagi ilmu, Tatsqif.com juga terbuka bagi siapa saja yang ingin mempublikasikan artikel, selama tulisannya bermanfaat, bersifat edukatif, dan sejalan dengan visi dan misi Tatsqif.com dalam menyebarkan ilmu pengetahuan.

3 komentar pada “Ahlussunnah wal Jama’ah: Pilar Akidah dan Jalan Lurus Umat

  • Rahmadini

    Ada hadits nabi yang mengatakan bahwa ummat islam terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya 1 golongan yang masuk syurga yaitu ahlussunah wal jamaah, jadi kalau semua golongan menyatakan bahwa mereka ahlussunah wal jamaah maka siapa yang benar?

    Balas
  • Siti Rohima Rambe

    Apakah Ahlussunnah wal Jama’ah menerapkan hukum² yang ada di 4 Mazhab ( Mazhab imam syafi’i,imam hambali,iman hanafi, dan imam maliki) atau salah satunya?
    Organisasi UN,MUHAMMADIYAH dan NW apakah termasuk dari Ahlussunnah wal Jama’ah?

    Balas
  • Yusnita Fitri

    Bagaimana peran kita sebagai generasi muda bisa mengamalkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kehidupan sehari-hari dengan benar?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *