Aqidah & AkhlakSirah Nabawiyah

Mukjizat dalam Islam: Definisi, Tujuan, dan Bentuk-Bentuknya

TATSQIF ONLINE  Mukjizat adalah salah satu konsep yang sangat penting dalam ajaran Islam. Kata “mukjizat” berasal dari bahasa Arab “mujiza,” yang berarti sesuatu yang mengagumkan dan tidak bisa ditiru oleh manusia. Dalam konteks Islam, mukjizat merujuk pada peristiwa-peristiwa luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT kepada nabi dan rasul sebagai tanda kebenaran risalah mereka.

Mukjizat menjadi bukti keistimewaan para nabi dan rasul, serta membuktikan bahwa mereka benar-benar utusan Allah. Dalam artikel ini, kita akan mengupas lebih dalam tentang pengertian mukjizat, jenis-jenis mukjizat, serta mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi pilihan Allah SWT.

Pengertian Mukjizat

Secara etimologis, mukjizat berasal dari kata “mujiza,” yang memiliki arti sesuatu yang luar biasa atau mengagumkan yang tidak bisa ditiru oleh manusia. Dalam pandangan Islam, mukjizat adalah kejadian yang terjadi di luar kemampuan akal manusia dan hanya diberikan oleh Allah SWT kepada nabi dan rasul-Nya untuk menguatkan dakwah mereka. Mukjizat tidak hanya sekadar tanda keajaiban, tetapi juga menjadi bukti bahwa seorang nabi atau rasul memang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia.

Menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din, mukjizat adalah suatu kejadian yang melanggar hukum alam, yang terjadi sebagai bentuk bantuan Allah kepada nabi atau rasul dalam menghadapi ujian dakwah yang berat. Mukjizat ini tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, karena hanya Allah yang memiliki kuasa atas segala hal.

Tujuan Mukjizat

Tujuan utama dari pemberian mukjizat adalah untuk memperkuat risalah para nabi dan rasul dalam dakwah mereka. Mukjizat ini ditujukan untuk meyakinkan umat bahwa mereka adalah utusan Allah yang membawa wahyu yang benar. Mukjizat menjadi tanda yang menunjukkan bahwa dakwah yang mereka sampaikan berasal dari Allah, bukan dari mereka sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdurrahman al-Sa’di dalam Tafsir al-Sa’di, mukjizat juga menjadi alat untuk menarik perhatian masyarakat yang keras kepala, yang enggan menerima kebenaran wahyu.

Selain itu, mukjizat juga berfungsi untuk meneguhkan iman bagi orang-orang yang telah beriman. Bagi umat yang telah menerima wahyu, mukjizat menjadi bukti nyata yang semakin memperkuat keyakinan mereka terhadap kebenaran agama yang dibawa oleh nabi dan rasul. Seperti yang dikatakan oleh Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azim, mukjizat berfungsi sebagai sarana untuk mendidik umat dalam memahami kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

Jenis-jenis Mukjizat

Mukjizat dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yang masing-masing memiliki karakteristik dan ciri-ciri tersendiri. Berikut adalah pembagian jenis mukjizat:

1. Mukjizat Hissiyah atau Kauniyah

Mukjizat ini adalah mukjizat yang dapat dilihat, didengar, atau dirasakan oleh indra manusia. Mukjizat jenis ini bersifat material dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh mukjizat hissiyah adalah pembelahan bulan yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut dapat dilihat langsung oleh umat pada saat itu, sebagai bukti keajaiban yang diberikan oleh Allah SWT.

2. Mukjizat Maknawiyah atau Aqliyah

Berbeda dengan mukjizat hissiyah, mukjizat maknawiyah bersifat non-material dan tidak bisa dilihat atau dirasakan oleh indra manusia. Mukjizat ini bersifat kekal dan abadi, salah satu contoh yang paling penting adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat maknawiyah yang dijamin oleh Allah SWT kemurnian dan keasliannya hingga akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Qurtubi dalam “Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,” Al-Qur’an bukan hanya berfungsi sebagai petunjuk hidup, tetapi juga sebagai mukjizat yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun.

3. Mukjizat Syakhsiyyah

Mukjizat syakhsiyyah adalah mukjizat yang keluar dari tubuh seorang nabi atau rasul. Salah satu contoh terkenal dari mukjizat jenis ini adalah air yang mengalir dari jari-jari tangan Nabi Muhammad SAW, yang dapat mencukupi kebutuhan air bagi banyak orang dalam keadaan sulit. Selain itu, mukjizat syakhsiyyah juga termasuk mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa AS, seperti kemampuan untuk menyembuhkan orang buta dan kusta, serta membangkitkan orang yang telah mati.

4. Mukjizat Salbiyyah

Mukjizat salbiyyah adalah mukjizat yang menyebabkan suatu hal menjadi tidak berdaya. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari pembakaran api oleh Raja Namrud, yang seharusnya membunuhnya. Namun, api tersebut malah menjadi dingin dan tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim, yang merupakan mukjizat luar biasa dari Allah SWT. Mukjizat ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah SWT dapat mengubah hukum alam menurut kehendak-Nya.

    Mukjizat Rasul Ulul Azmi

    Rasul-rasul Ulul Azmi adalah nabi-nabi yang memiliki ketabahan dan kesabaran luar biasa dalam menghadapi ujian dakwah mereka. Allah SWT memberikan mukjizat yang luar biasa kepada mereka sebagai tanda keimanan dan kebenaran risalah yang dibawa. Berikut adalah beberapa mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi Ulul Azmi:

    1. Mukjizat Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS diberikan mukjizat berupa pembuatan kapal besar untuk menyelamatkan orang beriman dan hewan-hewan dari banjir besar yang menjadi azab bagi umatnya yang kafir. Hal ini dijelaskan dalam Surah Nuh ayat 1-18 dan Surah Hud ayat 27-48. Mukjizat ini menunjukkan kuasa Allah dalam mengatur alam semesta.

    2. Mukjizat Nabi Ibrahim AS

    Mukjizat Nabi Ibrahim AS antara lain adalah selamat dari kobaran api yang seharusnya membakar tubuhnya, serta kemampuan untuk menghidupkan burung yang mati. Hal ini menunjukkan keagungan Allah dalam mengalahkan hukum alam.

    3. Mukjizat Nabi Musa AS

    Nabi Musa AS diberikan mukjizat berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular besar, serta membelah Laut Merah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam melawan tirani dan penyiksaan terhadap umat-Nya.

    4. Mukjizat Nabi Isa AS

    Nabi Isa AS diberikan mukjizat luar biasa, seperti mampu menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT. Mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam menyembuhkan penyakit dan memberikan kehidupan.

    5. Mukjizat Nabi Muhammad SAW

    Mukjizat Nabi Muhammad SAW sangat banyak, di antaranya adalah Al-Qur’an yang menjadi mukjizat terbesar beliau, serta peristiwa pembelahan bulan yang terjadi di Makkah. Mukjizat lainnya termasuk air yang mengalir dari jari-jari tangan beliau, serta makanan sedikit yang bisa mencukupi banyak orang.

      Kesimpulan

      Mukjizat adalah bukti nyata dari kekuasaan Allah SWT yang diberikan kepada para nabi dan rasul-Nya sebagai tanda kebenaran risalah mereka. Mukjizat ini mengandung banyak pelajaran bagi umat manusia, terutama dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

      Mukjizat tidak hanya terbatas pada kejadian yang melanggar hukum alam, tetapi juga mencakup wahyu-wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Oleh karena itu, mukjizat menjadi salah satu aspek penting dalam ajaran Islam yang harus dipahami dan diterima sebagai bagian dari keyakinan umat Islam. Wallahua’lam.

      Sahril Sahbana (Mahasiswa Prodi Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

      Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

      Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

      4 komentar pada “Mukjizat dalam Islam: Definisi, Tujuan, dan Bentuk-Bentuknya

      • Abdul Tanzil

        Mengapa Al-Qur’an disebut sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW? Jelaskan minimal 3 keistimewaannya!

        Balas
      • Bagaimana mukjizat digunakan sebagai bukti kenabian dan kebenaran ajaran Islam?

        Balas

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *