Bahasa Arab

Transformasi Makna Fi’il Mazid Biharfain dalam Bahasa Arab

TATSQIF ONLINE  Ilmu Sharaf adalah cabang dari tata bahasa Arab yang fokus utamanya adalah pada bentuk-bentuk kata dan perubahan-perubahan morfologis yang terjadi padanya. Tujuan utama ilmu ini adalah untuk memahami struktur kata serta perubahan makna yang ditimbulkan oleh modifikasi bentuk. Dalam studi morfologi Arab, kata kerja (fi‘l) dapat diklasifikasikan sebagai fi‘l mujarrad (kata kerja dasar) dan fi‘l mazīd fīhi (kata kerja yang mengalami penambahan huruf).

Salah satu bentuk fi‘l mazīd adalah ziyādah bi ḥarfain, yaitu penambahan dua huruf pada akar kata dasar. Perubahan ini tidak hanya berfungsi untuk memperluas struktur morfologis kata, tetapi juga memiliki peran penting dalam memperkaya nuansa makna seperti penekanan (mubālaghah), partisipasi, permintaan (ṭalab), kemauan sendiri (mutawā’ah), dan penggambaran proses atau keadaan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Ramadhan Abdul Hamid dalam bukunya Ilmu Sharaf Lengkap, studi terhadap wazan-wazan dalam bentuk ziyādah bi ḥarfain sangat penting, terutama dalam menganalisis makna ayat Al-Qur’an dan hadis, karena ketepatan makna sangat menentukan dalam pengambilan hukum dan pemahaman keagamaan.

Pembahasan Wazan-Wazan Ziyādah bi Ḥarfain

1. Wazan Tafa‘‘ala – Yatafa‘‘alu (تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ)

Tanda pola ini adalah tambahan huruf ta (ت) di awal dan syaddah pada huruf kedua (ain fi‘l). Pola ini memberikan berbagai makna berikut:

MaknaContoh KalimatArti
Mutawā‘ah (ketundukan atau keterpengaruhan)كَسَّرْتُ الزُّجَاجَ فَتَكَسَّرَAku pecahkan kaca itu, lalu kaca itu pecah
Penekanan usahaتَشَجَّعَ زَيْدٌZaid memberanikan diri
Menjadikan objek sebagai bagian dari makna kataتَبَنَّيْتُ يُوسُفَAku jadikan Yusuf sebagai anak angkat
Menghindari sifat tertentuتَذَمَّمَ زَيْدٌZaid menjauhkan diri dari aib
Proses menjadi sesuatuتَأَيَّمَتِ الْمَرْأَةُPerempuan itu menjadi janda
Terjadi berkali-kaliتَجَرَّعَ زَيْدٌZaid meneguk berkali-kali
Meminta sesuatuتَبَيَّنَ زَيْدٌ الأُسْتَاذَZaid minta penjelasan kepada ustadz
2. Wazan Tafā‘ala – Yatafā‘alu (تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ)

Tanda wazan ini adalah penambahan ta (ت) dan alif setelah huruf pertama.

MaknaContoh KalimatArti
Saling melakukan (partisipatif)تَصَالَحَ الْقَوْمُKaum itu saling berdamai
Berpura-puraتَمَارَضَ زَيْدٌZaid pura-pura sakit
Terjadi bertahapتَوَارَدَ الْقَوْمُKaum itu datang satu per satu
Menunjukkan asal maknaتَعَالَى اللهُAllah Maha Tinggi
Mutawā‘ah dari fā‘alaبَاعَدْتُهُ فَتَبَاعَدَAku menjauhkannya lalu dia menjauh
3. Wazan Ifta‘ala – Yafta‘ilu (افْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ)

Ditandai dengan tambahan hamzah washl (ا) dan ta di antara huruf pertama dan kedua.

MaknaContoh KalimatArti
Mutawā‘ahجَمَعْتُ الْإِبِلَ فَاجْتَمَعَتْAku kumpulkan unta lalu mereka berkumpul
Membuatاخْتَبَزَ زَيْدٌZaid membuat roti
Penekanan maknaاكْتَسَبَ زَيْدٌZaid bekerja keras
Sama dengan arti asalاجْتَذَبَ زَيْدٌZaid menarik
Saling (partisipasi)اخْتَصَمَ زَيْدٌ وَعَمْرٌوZaid dan Amar saling berselisih
Permintaanاكْتَدَّ زَيْدٌ عَمْرًاZaid meminta Amar untuk bekerja keras
4. Wazan Infa‘ala – Yanfa‘ilu (انْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ)

Memiliki tambahan hamzah dan nun di awal kata.

MaknaContoh KalimatArti
Mutawā‘ah dari fa‘alaكَسَرْتُ الزُّجَاجَ فَانْكَسَرَAku pecahkan kaca, lalu kaca itu pecah
Mutawā‘ah dari af‘alaأَزْعَجَهُ فَانْزَعَجَIa ganggu dia, lalu ia merasa terganggu
5. Wazan If‘alla – Yaf‘allu (افْعَلَّ – يَفْعَلُّ)

Tandanya adalah penambahan hamzah di awal dan syaddah pada huruf terakhir.

MaknaContoh KalimatArti
Masuk dalam sifat tertentuاحْمَرَّ الْبُسْرُBuah kurma itu menjadi merah
Mubālaghah (berlebihan)اسْوَدَّ اللَّيْلُMalam itu sangat gelap
Penyakit atau cacatأَعْوَرَّ زَيْدٌZaid menjadi buta sebelah

Kesimpulan

Studi mendalam terhadap wazan ziyādah bi ḥarfain dalam ilmu sharaf memberikan pemahaman mendalam mengenai mekanisme pembentukan kata dan nuansa semantik yang dikandungnya. Wazan-wazan seperti tafa‘‘ala, tafā‘ala, ifta‘ala, infa‘ala, dan if‘alla tidak hanya mengubah bentuk kata secara struktural, tetapi juga mengandung makna tambahan yang sangat kaya dan kontekstual.

Pemahaman terhadap pola-pola ini sangat diperlukan dalam menganalisis teks-teks keislaman, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis, karena banyak perintah, larangan, atau deskripsi dalam teks suci tersebut disampaikan melalui bentuk-bentuk sharaf ini. Oleh karena itu, mahasiswa dan peneliti ilmu bahasa Arab perlu memperkuat pemahaman terhadap kaidah sharaf agar dapat membaca, menafsirkan, dan mengkaji teks Arab secara lebih tepat dan mendalam.  Wallahua’lam.

Siti Wirna Hannum Harahap (Mahasiswa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *