Syahadat Tauhid: Makna, Keutamaan, dan Tanggung Jawabnya
TATSQIF ONLINE – Syahadat merupakan fondasi utama dalam Islam yang menjadi pintu gerbang bagi seseorang untuk memasuki agama ini. Secara bahasa, kata syahadah berasal dari kata kerja bahasa Arab syahida – yasyhadu (شهد – يشهد) yang berarti menyaksikan atau bersaksi. Dalam konteks agama, kata asyhadu berarti “saya bersaksi,” dan bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan juga ikrar hati serta tindakan nyata dalam kehidupan seorang Muslim.
Secara istilah, syahadat merupakan kesaksian yang tulus bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kesaksian ini mencakup dua kalimat yang disebut syahadatain, yaitu: Laa ilaaha illallah (syahadat tauhid) dan Muhammadur rasulullah (syahadat rasul).
A. Makna Syahadat Tauhid
Kalimat Laa ilaaha illallah mengandung pengakuan dan penegasan bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Ini ditegaskan dalam firman Allah dalam surah Muhammad ayat 19:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ
Artinya: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-‘Aqīdah menegaskan bahwa syahadat tauhid bukan hanya sekadar ucapan di lisan, melainkan pengetahuan dan keyakinan yang harus meresap ke dalam hati serta terwujud dalam amal.
1. Al-Iqraar (Ikrar)
Syahadat merupakan ikrar dan pernyataan tegas tentang tauhid. Dalam surah Ali Imran ayat 18 disebutkan:
شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۭا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
Artinya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan…” (QS. Ali Imran: 18)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa seluruh manusia pernah bersaksi atas keesaan Allah di alam azali. Kesaksian ini merupakan fitrah yang telah ditanamkan sejak penciptaan jiwa manusia.
2. Al-Qasam (Sumpah)
Syahadat juga bermakna sumpah yang menuntut tanggung jawab. Seseorang yang telah bersumpah kepada Allah berarti ia wajib menjaga loyalitas dan ketaatan kepada-Nya. Allah mengecam orang-orang yang melanggar sumpah ini dalam surah Al-Munafiqun ayat 1-2, di mana orang-orang munafik disebut sebagai pendusta karena menyatakan keimanan dengan lisan namun mengingkarinya dalam hati.
Ibnu Taimiyah dalam al-‘Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa orang munafik adalah mereka yang menampakkan keislaman, namun hatinya kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya. Syahadat mereka hanya formalitas tanpa penghayatan.
3. Al-Mitsaaq (Janji)
Syahadat juga merupakan janji setia untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam surah Al-Ma’idah ayat 7, Allah berfirman:
وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَـٰقَهُ ٱلَّذِى وَاثَقَكُم بِهِۦٓ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Artinya: “Ingatlah nikmat Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah Dia ikatkan kepadamu ketika kamu mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami menaati.’” (QS. Al-Ma’idah: 7)
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Kitab at-Tauhid menekankan bahwa konsekuensi dari pengucapan syahadat adalah kewajiban untuk melaksanakan syariat secara total, serta menjauhi segala bentuk syirik, baik besar maupun kecil.
B. Keutamaan Syahadat Tauhid
Syahadat tauhid tidak hanya menjadi dasar keimanan, tetapi juga memiliki berbagai keutamaan agung dalam ajaran Islam:
1. Kunci Surga
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas, maka ia akan masuk surga.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahihain.
2. Menghapus Dosa
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengampuni siapa saja yang menghadap-Nya tanpa menyekutukan-Nya, meskipun dosa-dosanya sepenuh bumi.” Hadis ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib.
3. Penyelamat dari Neraka
Hadis dalam riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ karena mengharap wajah Allah.”
4. Amalan Paling Utama
Rasulullah bersabda: “Amalan yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad dan dinilai hasan oleh sebagian ulama hadis.
5. Dasar Seluruh Amal
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 18, Allah, para malaikat, dan ulama bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Ini menandakan bahwa syahadat adalah landasan segala amal saleh.
6. Bentuk Keikhlasan dalam Ibadah
Dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5, Allah berfirman:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam agama yang lurus.”
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa keikhlasan ibadah hanya akan lahir dari orang yang benar-benar memahami dan mengamalkan syahadat tauhid.
Kesimpulan
Syahadat Tauhid, yaitu Laa ilaaha illallah, adalah inti ajaran Islam dan fondasi seluruh amal perbuatan. Syahadat bukanlah sekadar ucapan, melainkan mengandung tiga dimensi penting:
- Al-Iqraar: Pengakuan dan kesaksian sejak alam azali bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
- Al-Qasam: Sumpah dan komitmen untuk tunduk kepada syariat Islam.
- Al-Mitsaaq: Janji untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Syahadat membawa banyak keutamaan, seperti menjadi kunci surga, penghapus dosa, penyelamat dari neraka, amal paling utama, serta wujud keikhlasan dalam ibadah. Karenanya, seorang Muslim harus menjaga dan mewujudkan syahadat dalam hati, lisan, dan amal perbuatan sebagai bentuk totalitas penghambaan kepada Allah SWT. Wallahua’lam.
Muhammad Raihan Ritonga (Mahasiwa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Bagaimana cara mengimplementasikan makna syahadat Tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Apa perbedaan antara syahadat tauhid dengan syahadat rasul?