Struktur dan Konjugasi Fi’il Rubā‘ī dalam Ilmu Sharaf, Simak
TATSQIF ONLINE – Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang memiliki struktur morfologi (ilmu sharaf) yang sangat kompleks dan terstruktur. Dalam konstruksi katanya, terutama kata kerja (fi’il), bahasa Arab memiliki sistem akar kata (jذر) yang sangat penting dan sistematis. Akar kata ini bisa terdiri dari tiga (tsulāthī) atau empat huruf asli (rubā‘ī). Meski fi’il tsulāthī lebih banyak dijumpai dalam kosakata Arab, namun fi’il rubā‘ī memiliki posisi istimewa dalam ilmu sharaf karena keunikannya dalam bentuk dan makna.
Fi’il rubā‘ī merupakan bentuk kata kerja yang terdiri dari empat huruf asli. Bentuk ini kemudian terbagi menjadi dua, yaitu rubā‘ī mujarrad, yakni fi’il murni tanpa tambahan huruf, dan rubā‘ī mazīd, yaitu fi’il yang telah ditambahkan huruf untuk menghasilkan makna atau fungsi baru.
Definisi dan Contoh Fi’il Rubā‘ī Mujarrad dan Mazīd
Fi’il Rubā‘ī Mujarrad
Rubā‘ī mujarrad adalah fi’il yang terdiri dari empat huruf asli tanpa tambahan huruf apapun. Contoh:
- دَحْرَجَ (dahraja) – menggulingkan
- قَشْعَرَ (qasha‘ara) – menggigil
- زَلْزَلَ (zalzala) – mengguncang
Keempat huruf dalam setiap kata tersebut merupakan huruf asal (jذر) yang tidak mengalami penambahan struktur.
Fi’il Rubā‘ī Mazīd
Rubā‘ī mazīd adalah fi’il yang memiliki empat huruf asal dan ditambah huruf tambahan seperti ta, alif, atau nun. Contoh:
- تَدَحْرَجَ (tadahraja) – terguling
- اِحْرَنْجَمَ (ihranjama) – berkumpul padat
- اِقْشَعَرَّ (iqsha‘arra) – menggigil hebat
Fi’il ini dibentuk berdasarkan wazan atau pola tertentu yang memuat huruf tambahan. Huruf-huruf yang biasa menjadi tambahan disebut huruf az-ziyādah seperti: س، أ، ل، ت، م، و، ن، ي، ه، ا — disingkat dalam bentuk سَأَلْتُمُوْنِيْهَا
Tashrīf Istilāhī Fi’il Rubā‘ī Mujarrad
Abdul Hamid Yunus dalam Al-Tashrīf Al-Arabī menyebutkan bahwa Fi’il rubā‘ī mujarrad memiliki bentuk dasar wazan فَعْلَلَ يُفَعْلِلُ. Bentuk ini biasanya digunakan dalam fi’il lazim (intransitif), tetapi bisa juga digunakan dalam fi’il muta‘addi tergantung konteksnya.
Contoh tasrīf (konjugasi):
| Bentuk | Contoh |
|---|---|
| Madi (lampau) | دَحْرَجَ |
| Mudhāri‘ (sedang/akan) | يُدَحْرِجُ |
| Masdar (kata benda kerja) | دَحْرَجَةً |
| Ism Fā‘il (pelaku) | مُدَحْرِجٌ |
| Ism Maf‘ūl (yang dikenai) | مُدَحْرَجٌ |
| Amar (perintah) | دَحْرِجْ |
| Nahy (larangan) | لَا تُدَحْرِجْ |
Mulhaq Ruba‘ī Mujarrad (Lampiran Wazan)
Muhammad bin Abdullah dalam Al-Muyassar fi Ilm al-Sharf menjelaskan bahwa ada 6 pola tambahan (mulhaq) yang mengikuti pola fi’il rubā‘ī mujarrad:
| Bab | Wazan | Contoh | Makna |
|---|---|---|---|
| Bab 1 | فَوْعَلَ | حَوْقَلَ | Mengucap “lā ḥaula…” |
| Bab 2 | فَيْعَلَ | بَيْطَرَ | Memotong ranting |
| Bab 3 | فَعْوَلَ | جَهْوَرَ | Mengeraskan suara |
| Bab 4 | فَعْيَلَ | عَثْيَرَ | Terpeleset |
| Bab 5 | فَعْلَلَ (mulhaq) | جَلْبَبَ | Memakai atau menutup |
| Bab 6 | فَعْلَى | سَلْقَى | Menidurkan terlentang |
Tashrīf Istilāhī Fi’il Rubā‘ī Mazīd
Rubā‘ī mazīd memiliki beberapa bab berdasarkan banyaknya huruf tambahan. Hasan Ahmad dalam Ilmu Sharaf Praktis menjelaskan di antaranya:
Bab 1 Mazīd Satu Huruf – TAF‘ALALA (تَفَعْلَلَ)
Contoh: تَدَحْرَجَ
Makna: terguling – faedah muthawa‘ah
Bab 2 Mazīd Satu Huruf – TAF‘ALĀ (تَفَعْلَى)
Contoh: تَسَلْقَى
Makna: tidur terlentang
Bab 3 Mazīd Dua Huruf – IF‘ANLALA (اِفْعَنْلَلَ)
Contoh: اِحْرَنْجَمَ
Makna: berkumpul padat
Bab 4 Mazīd Dua Huruf – IF‘ALALLA (اِفْعَلَلَّ)
Contoh: اِقْشَعَرَّ
Makna: menggigil hebat
Ziyādah Bi Ḥarfain (Penambahan Dua Huruf)
Fi’il dengan dua huruf tambahan bisa berupa:
- اِفْعَنْلَلَ: Penambahan hamzah dan nun → faedah: muthawa‘ah
Contoh: اِحْرَنْجَمَ – unta-unta berkumpul - اِفْعَلَلَّ: Penambahan hamzah dan tasydīd di akhir → faedah: mubālaghah
Contoh: اِقْشَعَرَّ – kulit menggigil
Penutup
Kajian fi’il rubā‘ī dalam ilmu sharaf menunjukkan betapa kompleks dan terstrukturnya tata bahasa Arab. Baik mujarrad maupun mazīd, keduanya memainkan peran penting dalam memahami nuansa makna dalam teks Arab klasik, Al-Qur’an, dan hadis. Kejelian dalam mengenali bentuk asal dan tambahan dapat membantu pelajar bahasa Arab menafsirkan teks secara lebih akurat dan kontekstual.
Sebagaimana ditegaskan oleh Abu Al-Baqa’ Al-Kafawi dalam karyanya Al-Kulliyyāt, pemahaman terhadap struktur kata adalah kunci memahami bahasa secara menyeluruh, karena di dalamnya terkandung perubahan makna dan fungsi yang sangat kaya. Wallahua’lam.
Azhari Harahap (Mahasiswa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)
