Makna Sihir: Dari Tipu Daya Indra hingga Distorsi Tauhid, Simak
TATSQIF ONLINE – Dalam kesadaran populer, sihir kerap dipersempit sebagai praktik ritual tersembunyi, ilusi visual, atau aktivitas perdukunan yang berlangsung di ruang-ruang gelap dan penuh misteri. Pandangan semacam ini, meskipun tidak sepenuhnya keliru, sesungguhnya belum menyentuh akar persoalan sihir yang paling mendasar. Untuk memahami sifat destruktif sihir secara utuh, kita perlu melampaui manifestasi fisiknya dan masuk ke wilayah makna yang lebih dalam: ranah teologis dan worldview keimanan.
Di sinilah pendekatan teo-semantis Al-Qur’an memainkan peranan penting. Analisis terhadap medan makna (worldview) kata siḥr menunjukkan bahwa sihir dalam Al-Qur’an bukan sekadar tindakan praktis, melainkan kondisi penyimpangan keyakinan yang fundamental. Ia bekerja dengan cara memutarbalikkan realitas, merusak orientasi tauhid, dan mengalihkan ketergantungan manusia dari Tuhan kepada selain-Nya.
Makna Sihir dalam Al-Qur’an: Sebuah Analisis Teo-Semantis
Dalam Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān jilid 1 halaman 400, al-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan bahwa kata siḥr digunakan dalam Al-Qur’an sebanyak 14 kali dengan spektrum makna yang beragam. Dari keseluruhan penggunaannya, dapat ditarik tiga medan makna utama.
Pertama: Sihir sebagai Tipuan dan Ilusi
Makna pertama menunjuk pada sihir sebagai penipuan visual dan manipulasi persepsi, bukan kekuatan hakiki yang berdiri sendiri. Ia serupa dengan keterampilan pesulap yang mengelabui mata, atau kelicikan retorika yang memutarbalikkan fakta.
Makna ini tergambar jelas dalam firman Allah SWT:
قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ
“Mereka berkata: ‘Lemparkanlah!’ Maka ketika mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang-orang dan menjadikan mereka takut.”
(QS. al-A‘rāf [7]: 116)
Ayat serupa juga ditemukan dalam QS. Ṭāhā [20]: 66 dan QS. az-Zukhrūf [43]: 49. Dalam konteks ini, sihir adalah tipu daya kognitif, bukan kekuatan ontologis yang sejati.
Kedua: Sihir sebagai Persekutuan dengan Setan
Makna kedua lebih serius dan berbahaya, yaitu sihir sebagai praktik meminjam kekuatan setan melalui persekutuan ideologis dan spiritual. Al-Qur’an memotret jenis sihir ini sebagai instrumen degradasi tauhid.
Allah SWT berfirman:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa.”
(QS. asy-Syu‘arā’ [26]: 221–222)
Puncak penjelasan makna ini terdapat dalam QS. al-Baqarah [2]: 102, yang secara eksplisit mengaitkan sihir dengan kekufuran karena keterlibatan setan sebagai sumber otoritas.
Ketiga: Sihir sebagai Efek Psikologis dan Retoris
Makna ketiga menunjuk pada efek tindakan atau ucapan yang mampu memengaruhi kesadaran, pikiran, dan persepsi manusia. Dalam konteks ini, sihir tidak selalu berbentuk ritual gaib, melainkan bisa hadir dalam daya retoris yang kuat, sugesti psikologis, bahkan praktik medis seperti pembiusan.
Makna ini tersirat dalam sejumlah ayat seperti QS. al-Ḥijr [15]: 15, QS. al-Isrā’ [17]: 47 dan 101, QS. Saba’ [34]: 43, serta QS. Yūnus [10]: 77. Sederhananya, siḥr pada makna ketiga adalah efek manipulatif yang bekerja pada kesadaran manusia, bukan pada perubahan hakikat realitas.
Sihir dan Tauhid: Oposisi yang Tak Terhindarkan
Dari ketiga medan makna tersebut, satu benang merah dapat ditarik dengan tegas: sihir selalu beroposisi dengan tauhid. Ia menjanjikan hasil instan, tetapi menuntut pengorbanan keyakinan. Ia menawarkan solusi cepat, tetapi dengan harga mahal: rusaknya orientasi iman.
Sihir, dalam perspektif worldview agama, adalah pemalsuan kebenaran. Ia menggeser ketergantungan manusia dari Allah kepada entitas lain, atau paling tidak menjerumuskannya pada keraguan yang perlahan mengikis keimanan. Inilah sebabnya mengapa sihir, dalam bentuk apa pun, kerap disinonimkan dengan kekufuran atau syirik, baik secara eksplisit maupun implisit.
Dari Fitnah Antropomorfis Malakain ke Sihir Narasi
Narasi paling problematis tentang sihir terdapat dalam kisah Hārūt dan Mārūt. Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbās, keduanya digambarkan sebagai malaikat yang turun ke Babilonia dan mengajarkan sihir. Narasi ini menimbulkan dilema teologis serius: bagaimana mungkin malaikat yang ma‘ṣūm menjadi sumber pengajaran kekufuran?
Fakhruddīn al-Rāzī dengan tegas menolak pemahaman literal ini. Dalam Mafātīḥ al-Ghaib jilid 3 halaman 237, ia menyebutnya sebagai logical fallacy. Berdasarkan QS. at-Taḥrīm [66]: 6, malaikat mustahil durhaka kepada Allah.
Menurut al-Rāzī, entitas yang mengajarkan sihir di Babilonia bukanlah malaikat sejati, melainkan setan atau jin yang melakukan fitnah antropomorfis—menjelma sebagai malaikat untuk memberikan legitimasi palsu pada ajaran sesat. Dengan strategi ini, kebatilan tampil seolah-olah bersumber dari langit.
Lebih lanjut, al-Rāzī menegaskan bahwa tugas Hārūt dan Mārūt—jika pun disebutkan—bukan untuk mengajarkan sihir agar diamalkan, melainkan agar manusia mampu membedakan antara sihir dan mukjizat, khususnya pada masa Nabi Sulaiman, sebagaimana dijelaskan dalam Mafātīḥ al-Ghaib jilid 3 halaman 238.
Sihir Modern: Ketika Narasi Menjadi Alat Penyesatan
Dari sini kita memahami bahwa bentuk sihir paling berbahaya bukanlah sihir mata, melainkan sihir narasi. Ia bekerja dengan membelokkan otoritas, memanipulasi simbol kesucian, dan mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan.
Di era modern, sihir semacam ini dapat menjelma dalam otoritas keagamaan semu, retorika indah tanpa tanggung jawab ilmiah, dan popularitas yang dibangun di atas manipulasi emosi publik. Agama direduksi menjadi komoditas, sementara kebenaran dikorbankan demi citra dan pengaruh.
Penutup: Menjaga Kemurnian Agama dan Tanggung Jawab Sosial
Sihir, dalam pengertian luasnya, adalah segala bentuk manipulasi yang merusak tauhid dan kesadaran manusia. Menghadapi realitas ini, tugas kita bukan sekadar mengecam, melainkan membangun ekosistem keagamaan yang sehat, kritis, dan saling menasihati.
Dakwah membutuhkan otoritas, tetapi lebih dari itu, ia menuntut amanah. Di tengah keterbatasan manusia yang penuh salah dan lupa, menjaga keharmonisan antara agama, tanggung jawab sosial, dan kejujuran intelektual adalah bentuk perlawanan paling nyata terhadap sihir dalam wajah modernnya. Wallahu’alam.
