Gaya Hidup

Shalawat dalam Irama Al-Banjari sebagai Ekspresi Cinta kepada Nabi

Di berbagai ruang kehidupan umat Islam, mulai dari halaman pesantren hingga acara keagamaan di tengah masyarakat, irama al-banjari sering terdengar mengalun dengan khidmat. Tabuhan rebana yang berpadu dengan lantunan shalawat menghadirkan suasana religius yang menenangkan sekaligus menggugah batin. Al-banjari tidak sekadar hadir sebagai hiburan, melainkan menjadi sarana ekspresi spiritual yang merefleksikan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad.

Tradisi al-banjari berakar kuat dalam praktik shalawatan yang telah lama hidup di Nusantara. Melalui syair-syair pujian kepada Nabi, musik ini menjadi jembatan antara ajaran agama dan kebudayaan lokal. Irama yang sederhana namun teratur menciptakan kesan sakral, seolah mengajak setiap pendengarnya untuk larut dalam ingatan kepada Rasulullah. Dalam konteks ini, al-banjari berfungsi sebagai media dakwah yang halus dan menyentuh, karena pesan-pesan cinta dan keteladanan disampaikan melalui nada dan kebersamaan.

Bagi para pemain al-banjari, memainkan musik ini sering dipahami sebagai bentuk pengabdian. Rebana ditabuh bukan semata mengikuti pola ritme, tetapi juga disertai niat dan penghayatan. Shalawat yang dilantunkan tidak berhenti sebagai rangkaian kata, melainkan menjelma menjadi pengalaman batin. Dari sini terlihat bahwa cinta kepada Nabi dapat diekspresikan melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan keikhlasan dan konsistensi.

Menariknya, al-banjari tetap memiliki daya tarik di tengah perubahan zaman. Generasi muda tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pemain aktif yang menghidupkan kembali tradisi ini. Dengan sentuhan kreatif yang tetap menjaga nilai dasarnya, al-banjari mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna. Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspresi religius tidak harus kaku, melainkan dapat hadir selaras dengan konteks sosial yang terus berkembang.

Selain dimensi spiritual, al-banjari juga mengandung nilai sosial yang kuat. Praktik bermusik secara berkelompok menuntut kerja sama, kedisiplinan, dan saling menghargai. Setiap penabuh dan pelantun memiliki peran yang sama pentingnya sehingga harmoni hanya tercipta ketika semua berjalan seirama. Nilai ini sejalan dengan pesan shalawat yang mengajarkan keseimbangan antara kecintaan personal kepada Nabi dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bersama.

Pada akhirnya, al-banjari mengajarkan bahwa shalawat bukan hanya untuk dilafalkan, tetapi juga untuk dihidupi. Melalui irama dan kebersamaan, cinta kepada Nabi menemukan bentuk yang nyata dan membumi. Tradisi ini terus berdenyut sebagai warisan spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan umat.

Juga al-banjari ini di kala saat ini juga terdapat banyak sekali perlombaan seperti festival Al-Banjari yang di ikuti oleh 10 orang, baik putra/putri/campuran, disitu lah para pemain al-banjari saling sharing serta menunjukkan penampilan terbaik nya untuk mengukur tingkat kemampuannya dan juga di festival al-banjari ini banyak sekali peraturan-peraturan terbaru baik dari segi vocal maupun ketukan al-banjari nya contohnya pada festival al-banjari yang di adakan oleh IQMA Surabaya disitu setiap mengadakan lomba pasti ada peraturan terbaru seperti pukulan al-banjari formasi streo dan masih banyak lagi, dari situ lah al-banjari sampai saat ini di gemari oleh kalangan muslim baik dari anak-anak maupun dewasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *