Retorika Pertanyaan dalam Al-Qur’an: Makna dan Fungsinya
TATSQIF ONLINE – Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya berisi perintah dan larangan, tetapi juga mengandung berbagai bentuk komunikasi yang kompleks dan mendalam. Salah satu bentuk komunikasi tersebut adalah pertanyaan (su’ālāt). Pertanyaan dalam Al-Qur’an tidak selalu bertujuan untuk memperoleh jawaban dalam arti informatif, melainkan sering berfungsi sebagai sarana retoris, instruktif, atau reflektif. Kajian terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting untuk memahami bagaimana Al-Qur’an membangun dialog dengan pembacanya, serta bagaimana wahyu berinteraksi dengan konteks sosial dan psikologis umat manusia.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, ilmu yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan dalam Al-Qur’an disebut Ilmu Su’ālāt al-Qur’an. Studi ini membantu kita memahami bentuk, fungsi, dan makna pertanyaan yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk memperkuat pesan wahyu dan membangun kesadaran spiritual umat Islam. Artikel ini akan mengulas pengertian, fungsi, dan contoh pertanyaan dalam Al-Qur’an, dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer.
Pengertian Ilmu Su’ālāt al-Qur’an
Ilmu Su’ālāt al-Qur’an adalah cabang ilmu dalam studi Ulumul Qur’an yang secara khusus mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat berasal dari:
- Allah SWT kepada manusia
- Manusia kepada Nabi Muhammad SAW
- Makhluk lain seperti malaikat atau jin
Pertanyaan dalam Al-Qur’an bukan sekadar interogasi biasa, tetapi sarat makna dan fungsi yang mendalam. Ibnu Jarir al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān menegaskan bahwa pertanyaan dalam Al-Qur’an memiliki tujuan retoris yang kuat, yaitu untuk mendidik, mengingatkan, mencela, atau meneguhkan kebenaran
Fungsi Pertanyaan dalam Al-Qur’an
Para ulama, seperti al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf, membagi fungsi pertanyaan dalam Al-Qur’an menjadi beberapa kategori, antara lain:
| Jenis Pertanyaan | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
| Taqrīrīyah | Menegaskan kebenaran | “أليس الله بأحكم الحاكمين؟” (Bukankah Allah hakim yang paling adil?) – QS At-Tīn: 8 |
| Tawbīkhīyah | Mencela atau menegur | “أفلا تعقلون؟” (Tidakkah kalian berpikir?) – QS Al-Baqarah: 44 |
| Ta’līmīyah | Memberikan pengajaran | “يسألونك عن الأهلة…” (Mereka bertanya kepadamu tentang hilal…) – QS Al-Baqarah: 189 |
| Imtihāniyah | Menguji pemikiran manusia | “قل هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون؟” – QS Az-Zumar: 9 |
Al-Rāzī dalam Tafsir al-Rāzī juga menekankan bahwa fungsi pertanyaan dalam Al-Qur’an erat kaitannya dengan pendidikan moral dan spiritual umat.
Contoh-Contoh Pertanyaan dalam Al-Qur’an
Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan dalam Al-Qur’an beserta maknanya:
1. Pertanyaan Allah kepada manusia
- “يا آدم هل أدلك على شجرة الخلد...” – QS Ṭāhā: 120
- “ألم نشرح لك صدرك؟” – QS Al-Insyirah: 1
Pertanyaan ini mengandung fungsi edukatif dan retoris, mengajak manusia merenungkan nikmat yang telah diberikan Allah.
2. Pertanyaan manusia kepada Nabi Muhammad SAW
- “يسألونك عن الساعة أيان مرساها…” – QS An-Nāzi‘āt: 42
- “يسألونك عن المحيض…” – QS Al-Baqarah: 222
Pertanyaan ini mencerminkan dinamika sosial dan kebutuhan umat terhadap penjelasan syariat.
3. Pertanyaan malaikat
- “قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها…” – QS Al-Baqarah: 30
Pertanyaan ini berfungsi untuk menggambarkan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan manusia.
Manfaat Mempelajari Ilmu Su’ālāt al-Qur’an
Mempelajari ilmu ini memberikan manfaat penting:
- Memahami nilai retoris dan edukatif dari Al-Qur’an
- Menyingkap interaksi antara wahyu dan umat manusia dalam konteks sosial dan spiritual
- Membantu penafsiran tematik yang mendalam dan kontekstual
Menurut M. Quraish Shihab dalam al-Miṣbāḥ, pertanyaan dalam Al-Qur’an adalah instrumen pedagogis yang menuntun pembaca untuk merenungkan pesan Allah secara kritis dan mendalam.
Kesimpulan
Kajian terhadap Su’ālāt al-Qur’an menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam Al-Qur’an memiliki fungsi yang penting sebagai sarana komunikasi Allah dengan manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan, tetapi juga untuk mendidik, menggugah kesadaran, dan menanamkan nilai-nilai moral. Dengan mempelajari ilmu ini, umat Islam dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap pesan-pesan ilahi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahua’lam.
Halimatussa’diah Nasution (Mahasiswa Prodi PAI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

retorika pertanyaan , dah ketemu , so saat itu aku berpikir kok aneh ya buat pertanyaan mbalik terus jawaban ne yo muter terus lagi ketemu ..
matur suwun .
alahmadulillah, sama-sama.