Rahasia Lapisan Batin Al-Quran: Menelusuri Cara Syiah Imamiyah Memahami Makna Wahyu
Bagi umat Muslim, Al-Quran merupakan kitab suci yang sarat dengan petunjuk kehidupan. Namun dalam tradisi Syiah Itsna ‘Asyariyah Imamiyah, pesan Al-Quran tidak berhenti pada makna yang tampak di permukaan. Keyakinan terhadap Imam Mahdi dan otoritas para Imam Ahl al-Bayt membawa mereka pada pandangan bahwa Al-Quran memiliki kedalaman makna yang berlapis. Ayat-ayatnya tidak hanya berbicara kepada manusia umum, tetapi menyimpan rahasia teologis yang hanya bisa dipahami oleh Imam yang ma‘shum.
Inilah akar dari doktrin tafsir batin atau ta’wil esoteris. Bagi Syiah, penafsiran tidak sekadar persoalan linguistik atau sejarah, melainkan sebuah mekanisme untuk menunjukkan bahwa seluruh struktur Al-Quran sejatinya terhubung dengan keberadaan Imam ahl al-Bait sebagai Pemimpin umat.
Empat Lapisan Makna Menurut Syiah
Salah satu hadis yang sering dijadikan sandaran adalah riwayat dari Imam Ja‘far al-Shadiq, bahwa Al-Quran memiliki empat tingkatan makna: ibarah, isyarah, latha’if, dan haqa’iq. Dalam versi lain disebutkan bahwa setiap ayat memiliki zahir (makna luar) dan batin (makna dalam).
Empat lapisan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
- Zahir: Makna bahasa dan konteks literal ayat, sebagaimana dipahami oleh pembaca umum.
- Isyarah: Makna simbolik yang hanya ditangkap oleh orang-orang yang lebih mendalam pengetahuannya.
- Latha’if: Makna halus bernuansa mistik yang dipahami oleh para arif.
- Batin: Makna hakiki tertinggi yang hanya diketahui para Imam dari Ahl al-Bayt.
Yang menarik, tafsir batin bukanlah tandingan bagi tafsir zahir. Dalam penjelasan mufassir besar Syiah, seperti Allamah Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan, makna batin justru menjadi “ruh” yang menghidupkan makna zahir.
Ketika Ayat Menjadi Metafora Imamah
Pendekatan batin dalam tafsir Syi’ah menjadi semakin terlihat mencolok ketika sejumlah ayat Al-Quran tidak hanya dipahami dalam kerangka makna zahir atau konteks historisnya, tetapi juga dibaca sebagai rujukan simbolik yang secara halus merujuk pada posisi dan otoritas para Imam ahl bayt.
Salah satunya dapat kita ambil dari penafsiran Kitab Tafsir al-Safi karya al-Kasyani terhadap Q.S. al-Nisa’ [4]: 59.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ………””
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu…..”
Dalam penafsiran arus utama di luar tradisi Syiah, istilah ulil amri dipahami sebagai “pemimpin” dalam arti luas yangmencakup pemimpin agama maupun pemimpin pemerintahan. Makna ini berangkat dari pembacaan zahir ayat, yang menekankan pentingnya struktur kepemimpinan bagi stabilitas umat.
Namun, dalam tradisi Syiah Imamiyah, ayat tersebut dianggap menyimpan lapisan makna batin yang lebih dalam. Al-Kasyani, dalam Tafsir al-Safi, menegaskan bahwa ulil amri bukan sekadar pemimpin umum, melainkan secara khusus menunjuk kepada para Imam dari Ahl al-Bayt. Dengan penekanan ini, ia mengarahkan makna zahir ayat menuju satu titik pusat, bahwa Para Imam sebagai pemilik otoritas hukum dan spiritual setelah wafatnya Rasulullah. (Mula Muhsin Fayd al-Kasyani, Tafsir al-Safi, Jilid 1, 1091, hal 212).
Lebih jauh lagi, penafsiran Al-Kasyani mengalir hingga pada doktrin ghaibah Imam Mahdi. Berdasar dari keberadaan otoritas Imam ahl-Bait yang harus tetap berjalan di bumi, Ia mengatakan, bahwa Imam Mahdi walaupun tersembunyi dari pandangan dunia tetap menjadi poros otoritas batin Al-Quran. Dengan demikian, ayat ini bukan hanya berbicara tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang kontinuitas cahaya Imamah yang tetap berjalan di balik tabir kegaiban bagi golongan syi’ah. (Mula Muhsin Fayd al-Kasyani, Tafsir al-Safi, Jilid 1, 1091, hal. 213).
Dalam Tafsir al-Mizan, Thabathaba’i menafsirkan ayat Q.S. An-Nur [24]:35 dengan kedalaman makna batin. Ia memahami ungkapan “pohon yang diberkahi” sebagai simbol Nabi Muhammad atau Imam Ali, sementara frasa “cahaya yang berlapis-lapis” digambarkan sebagai silsilah Imam yang meneruskan cahaya Ilahi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam penafsiran ini, para Imam muncul sebagai pusat keilmuan spiritual, yang melalui “minyak cahaya” mereka menyalurkan pengetahuan suci dan hikmah Ilahi kepada umat, menjaga agar nur wahyu terus mengalir tanpa henti.Para Imam digambarkan sebagai pusat keilmuan spiritual yang mengalirkan “minyak cahaya” berupa pengetahuan suci kepada umat., Allamah Muhammad Husayn al-Tabattaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, jilid 5,1997).
Ayat-ayat Syariat yang Bermakna Ganda
Bahkan ibadah praktis sehari-hari dalam pandangan tafsir batin, tidak lagi sekadar rutinitas lahiriah atau kepatuhan formal terhadap syariat. Misalnya pada perintah puasa, anjuran ini bukan hanya bertujuan menahan lapar dan haus, tetapi menjadi latihan spiritual untuk menjaga rahasia Ahl al-Bayt, melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran akan dimensi ilahi yang lebih tinggi. Zakat pun tidak hanya berupa tindakan sosial atau kewajiban materi, melainkan ekspresi kesetiaan, pengabdian, dan dukungan terhadap Imam suci yang memelihara cahaya wahyu. Dengan demikian, setiap ritualdari ibadah yang paling sederhana hingga yang paling kompleks bagi syi’ah menjadi jembatan yang menghubungkan lahir dan batin, dunia dan rohani.
Mengapa Tafsir Batin Penting bagi Syiah?
Tafsir batin dalam tradisi Imamiyah memiliki tiga fungsi teologis utama.
Pertama, legitimasi Imamah. Bila setiap ayat menyimpan pesan tersembunyi tentang para Imam, maka Imamah bukan sekadar urusan politik, tetapi bagian dari rancangan Ilahi.
Kedua, kebutuhan akan Imam. Makna batin dianggap tidak dapat dicapai tanpa bimbingan Imam ma‘shum. Hal ini membuat keberadaan Imam tetap vital, bahkan ketika Imam Mahdi berada dalam masa ghaib.
Ketiga, kesatuan akidah. Makna batin memastikan bahwa seluruh ayat, hukum, dan narasi Qurani selaras dengan doktrin wilayah dan kesetiaan spiritual kepada Ahl al-Bayt.
Penutup
Pada akhirnya, tafsir batin dalam tradisi Syiah Imamiyah menunjukkan bahwa setiap ayat Al-Quran membawa kedalaman makna yang terhubung dengan doktrin Imamah dan spiritualitas Ahl al-Bayt. Namun sebagai pembaca tafsir, kita perlu bersikap cermat dan hati-hati, sebab setiap karya penafsiran selalu dibentuk oleh latar belakang teologis, pengalaman, dan cara pandang mufassirnya. Tafsir bukan sekadar bacaan ilmiah, tetapi jejak pemikiran yang mencerminkan dunia batin penafsir. Karena itu, memahami tafsir menuntut kita untuk tidak hanya menyimak isi ayat, tetapi juga menimbang konteks yang menyelubungi lahirnya penafsiran tersebut. Dengan kehati-hatian dan keluasan pandangan, kita dapat memetik hikmah tanpa kehilangan jernihnya pesan Al-Quran.
Tentang Penulis
- Nama : Aqila Syaswana Dimitri Afza
- Institusi : UIN Sunan Ampel Surabaya
- Pekerjaan : Mahasiswa prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir
- Media Sosial : (Instagram) @Aqila_dimitr
