Rahasia di Balik Banjir Nabi Nuh: Membaca QS Hūd 44 dengan Kacamata Spiritual Nu‘man bin Ḥayyūn
Kisah banjir Nabi Nuh dalam QS Hud [11] ayat 44 adalah salah satu cerita Qurani yang paling sering dibaca sebagai tragedi besar berskala dunia. Kita membayangkannya sebagai hujan deras yang turun tanpa henti, bumi yang memuntahkan air dari segala penjuru, dan bahtera besar yang terapung di atas lautan luas hingga akhirnya berlabuh di Bukit Judi.
Gambaran seperti ini hidup dalam imajinasi banyak orang sejak kecil. Namun, bagi Nu’man bin Hayyun, seorang ulama dan pemikir esoteris dari golongan Ismailiyah, kisah itu jauh lebih besar daripada kejadian fisik. Ia bukan sekadar potongan sejarah, melainkan peta batin manusia, sebuah simbol perjalanan panjang jiwa dari kebingungan menuju pencerahan.
Menurut Nu’man, Al-Qur’an tidak datang hanya sebagai kitab cerita, tetapi juga sebagai isyarat bagi mereka yang ingin membaca ke dalam dirinya sendiri. Maka ayat “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit, berhentilah” bukan sekadar dialog kosmik antara bumi dan langit, melainkan petunjuk tentang bagaimana seorang manusia harus memperlakukan kegelisahan dan pencarian dalam dirinya. Banjir besar Nabi Nuh adalah cerminan dari badai-badai kehidupan yang menenggelamkan kita dari dalam sebelum kita menemukan keteguhan hati sebagai tempat berlabuh.
Dalam tafsirnya, Nu’man memulai dengan memaknai “gelombang” yang memisahkan Nuh dari anaknya. Jika dibaca secara zahir, gelombang itu adalah ombak besar yang muncul saat banjir. Namun bagi Numan, gelombang itu bukan air yang berombak, tetapi gelombang kesesatan, yaitu kondisi batin seseorang yang terhijab dari kebenaran. Ia menyebut bahwa orang bisa mati bukan hanya karena tenggelam dalam air, tetapi karena tenggelam dalam pandangan hidup yang keliru, dalam ego yang membutakan dan dalam kebiasaan buruk yang memutus hubungan seseorang dengan jalan kebenaran. Gelombang ini adalah simbol kekuatan yang memisahkan orang beriman dari orang yang menolak kebenaran, meskipun keduanya berada dalam keluarga yang sama. Dengan kata lain, tragedi tenggelamnya anak Nuh tidak hanya tragedi keluarga, melainkan tragedi spiritual: jarak batin yang demikian besar hingga gelombang kesesatan menjadi penghalang yang tak bisa dilewati. “Asas al-takwil( hal 83)”
Pandangan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Setiap manusia pernah merasakan gelombang yang membuatnya jauh dari ketenangan dan kebenaran. Ada orang yang tenggelam dalam ambisi, ada yang terseret arus pergaulan, ada yang dihanyutkan amarah, iri, atau kekecewaan yang tidak pernah selesai. Kita semua pernah berdiri seperti Nuh, memanggil seseorang yang kita sayang agar naik ke kapal keselamatan, namun mereka tetap memilih gunung mereka sendiri, gunung kesombongan atau gunung ketidaktahuan yang mereka kira bisa melindungi. Gelombang itu adalah bagian dari perjalanan manusia.
Nu’man kemudian menafsirkan bagian ayat yang paling dramatis: “Bumi, telanlah airmu.” Dalam cerita zahirnya, perintah ini mengakhiri banjir. Air bah berhenti, dan bumi kembali seperti sediakala. Tetapi Nu’man mengubah perintah ini menjadi perintah batin untuk manusia, yakni agar seseorang belajar menenangkan diri. Bumi dalam tafsirnya melambangkan jiwa manusia yang menjadi wadah pengalaman, emosi, dan pengetahuan. Ketika bumi diperintahkan untuk menelan air, artinya seorang hamba diperintahkan untuk mengendalikan hawa nafsunya, meredam gejolak batin, dan menyimpan ilmu yang ia dapatkan agar menjadi pondasi yang kokoh dalam dirinya. Ini adalah proses internalisasi: air yang meluap-luap, simbol pengetahuan, ujian, dan pengalaman besar, akhirnya meresap menjadi kedalaman jiwa.
Di sisi lain, perintah kepada langit untuk berhenti menurunkan hujan juga memiliki makna khusus. Langit dalam tafsir Numan adalah simbol para nabi, yakni pembawa wahyu. Berhenti bukan berarti wahyu hilang, melainkan bahwa fase penyampaian lahiriah telah selesai. Setelah masa dakwah besar yang diibaratkan sebagai banjir pengetahuan berakhir, kini rahasia batin agama tidak lagi disebarkan secara terbuka. Ia dijaga oleh para pewaris spiritual, disampaikan hanya kepada orang-orang yang matang dan siap menerimanya. Dalam kehidupan nyata, hal ini serupa dengan fase ketika seseorang sudah tidak lagi membutuhkan pengingat-pengingat keras dalam hidupnya. Setelah melalui banyak ujian, seseorang mulai memahami hikmah tanpa harus dipaksa oleh kejadian-kejadian besar. Langit berhenti menurunkan hujan, tetapi bukan berarti ia tidak lagi memberikan cahaya. Cahaya itu kini datang dari dalam diri.
Pada bagian akhir ayat, Allah menyebut bahwa bahtera itu berlabuh di Bukit Judi. Secara zahir, bahtera Nabi Nuh memang mendarat di sebuah lokasi geografis. Namun dalam tafsir batin Numan, bahtera itu adalah ajaran agama, yaitu dakwah yang membawa manusia menuju keselamatan. Bukit Judi melambangkan hati orang-orang yang menerima kebenaran dengan tulus. Ketika kapal itu berlabuh, artinya ajaran itu telah menemukan tempat yang aman, hati yang bersih, tenang, dan siap menyimpan kearifan. Tidak semua hati adalah Bukit Judi, hanya hati yang telah melalui badai dan tetap memilih kejujuran dan pencarian kebenaran yang bisa menjadi tempat berlabuhnya ajaran.
Nu’man bahkan menjelaskan bagaimana ilmu itu berpindah dari satu hati ke hati lain: dari Nabi, ke penerus spiritualnya yang ia sebut Asas, kemudian ke para pembela kebenaran, para pewaris ruhani, hingga akhirnya sampai ke mereka yang tulus menerima. Ketika ilmu itu sampai di hati orang yang siap, barulah kapal itu stabil dan ajaran itu menjadi bagian dari hidupnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa merasakan momen ini sebagai titik balik: momen ketika sebuah nasehat, pelajaran hidup, atau pengalaman pahit tiba-tiba terasa masuk akal dan mengubah cara kita memandang dunia. Itulah Bukit Judi versi kita masing-masing.
Tafsir esoteris Nu’man bin Hayyun mengubah kisah banjir Nabi Nuh menjadi cermin bagi hidup manusia modern. Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan ujian besar yang kadang membuat seseorang merasa terhanyut oleh masalah. Gelombang adalah simbol dari kesesatan batin yang membuat seseorang menjauh dari kebaikan. Bumi adalah diri kita sendiri yang harus belajar meredakan ego dan menelan air, yakni pengalaman pahit dan pelajaran hidup. Langit adalah petunjuk Tuhan yang kadang datang begitu deras, lalu tiba-tiba berhenti ketika kita sudah matang untuk memahaminya. Kapal Nabi Nuh adalah simbol dari ilmu, bimbingan, dan ketulusan yang membawa kita menuju keselamatan.
Dengan membaca kisah ini secara batin, kita belajar bahwa badai tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk mengajarkan. Banjir bukan akhir dari cerita, tetapi awal dari ketenangan baru. Setiap orang, sekeras apapun hidupnya, pasti memiliki Bukit Judi, tempat di mana ia akhirnya menemukan arah, keteguhan, dan kedamaian. Tafsir Nu’man bin Hayyun mengingatkan kita bahwa di balik setiap gelombang besar, selalu ada tempat berlabuh yang menunggu ketika jiwa sudah siap mencapainya.
