Popularitas 7 Imam Qiraat Lengkap dengan Contoh Bacaan, Simak
TATSQIF ONLINE – Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam bahasa Arab. Salah satu keunikan Al-Qur’an adalah adanya variasi dalam cara membacanya yang disebut qiraat. Qiraat bukan hanya sekadar perbedaan logat atau aksen, melainkan bentuk keluwesan yang diberikan Allah untuk memudahkan umat Islam membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan mereka.
Ilmu qiraat berkembang pesat pada zaman tabi’in, yaitu generasi setelah sahabat Nabi. Para ulama kemudian memilih dan menetapkan bacaan yang sanadnya kuat, hingga dikenal tujuh imam qiraat yang paling terkenal. Mereka adalah para imam besar dengan sanad bacaan mutawatir, artinya bacaan mereka diriwayatkan oleh banyak orang terpercaya di setiap generasi, sehingga terjamin kebenarannya.
Mengenal Tujuh Imam Qiraat dan Perawinya
Berikut penjelasan tentang tujuh imam qiraat beserta dua perawi utama yang meriwayatkan bacaan mereka.
1. Nafi’ al-Madani (Wafat 169 H)
- Perawi: Qalun dan Warsh
- Wilayah Populer: Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Aljazair, Libya)
Imam Nafi’ berasal dari Madinah, kota suci tempat Nabi Muhammad ﷺ wafat. Bacaan Nafi’ dikenal sangat halus dan mudah diikuti. Riwayat Warsh ‘an Nafi’ sampai hari ini menjadi bacaan utama di negara-negara Afrika Utara. Shabir Ahmad dalam bukunya The Seven Readings of the Quran menjelaskan bahwa kemudahan dan kefasihan bacaan Nafi’ membuatnya cepat diterima di berbagai komunitas.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Baqarah ayat 2:
- Bacaan Hafs:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ - Bacaan Warsh:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ (dibaca dengan imalah pada “la” menjadi mirip ‘lé’).
- Bacaan Hafs:
Penjelasan:
Dalam riwayat Warsh, bacaan ‘la’ memiliki nada sedikit miring (imalah) seperti setengah ke arah ‘lé’. Ini menunjukkan keindahan dalam pengucapan tanpa mengubah arti.
2. Ibn Katsir al-Makki (Wafat 120 H)
- Perawi: Al-Bazzi dan Qunbul
- Wilayah Populer: Makkah (pada masa lalu)
Ibn Katsir adalah seorang imam dari Makkah yang dikenal ahli dalam bahasa Arab Quraisy. Karena tinggal di tempat turunnya wahyu, bacaannya sangat dekat dengan bahasa aslinya. Menurut Muhammad Sa’id dalam Ilmu Qiraat dan Sejarahnya, meski saat ini kurang populer, bacaan Ibn Katsir tetap dihormati dalam kajian ilmu qiraat.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Fatihah ayat 4:
- Hafs: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Mālik)
- Ibn Kathir: مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Malik)
Penjelasan:
Ibn Katsir membaca “Malik” (raja) bukan “Mālik” (pemilik). Kedua bacaan ini sah karena dalam bahasa Arab, Raja dan Pemilik keduanya menggambarkan sifat Allah pada hari kiamat.
3. Abu ‘Amr al-Bashri (Wafat 154 H)
- Perawi: Ad-Duri dan As-Susi
- Wilayah Populer: Yaman, Sudan, Afrika Timur
Abu ‘Amr berasal dari kota Bashrah, Irak. Bacaan beliau terkenal lembut, dengan cara mengucapkan huruf yang fleksibel. Ahmad Mukhtar dalam bukunya At-Tarikh As-Syarif li Qiraat al-Qur’an menyatakan bahwa bacaan Abu ‘Amr menjadi bacaan utama di Sudan dan sekitarnya, bahkan hingga sekarang masih diajarkan di sebagian wilayah Afrika.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Baqarah ayat 2:
- Hafs: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ
- Abu ‘Amr: ذَالِكَ الْكِتَابُ (tanpa mad panjang pada ذَٰلِكَ)
Penjelasan:
Bacaan Abu ‘Amr memendekkan mad pada beberapa tempat di mana Hafs memanjangkannya. Ini memperlihatkan fleksibilitas dalam hukum tajwid.
4. Ibn ‘Amir asy-Syami (Wafat 118 H)
- Perawi: Hisham dan Ibn Zakwan
- Wilayah Populer: Suriah (pada masa lalu)
Ibn ‘Amir adalah imam besar dari Damaskus. Ia dikenal sangat teliti dalam melafalkan huruf dan menjaga keaslian bacaan. Dalam Qiraat Qur’aniyah: Sejarah dan Perkembangannya karya Khalid Ahmad, dijelaskan bahwa qiraat Ibn ‘Amir banyak digunakan di Suriah sebelum kemudian berkurang seiring perkembangan zaman.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Fatihah ayat 5:
- Hafs: إِيَّاكَ نَعْبُدُ
- Ibn ‘Amir: إِيَّاكَ نَعْبُدُ (dengan sedikit perbedaan dalam ghunnah – dengungnya lebih kuat).
Penjelasan:
Bacaan Ibn ‘Amir mempertegas dengungan di beberapa tempat, membuat lafaz terdengar lebih berat di hidung.
5. ‘Asim al-Kufi (Wafat 127 H)
- Perawi: Hafs dan Syu’bah
- Wilayah Populer: Dunia Islam secara luas (terutama Timur Tengah, Asia Selatan, Indonesia)
Inilah qiraat yang paling dikenal di seluruh dunia Islam. Riwayat Hafs dari ‘Asim menjadi standar dalam banyak mushaf Al-Qur’an modern. Mustafa Al-A’zami dalam The History of the Qur’anic Text menyatakan bahwa popularitas qiraat ini diperkuat oleh percetakan massal Mushaf Madinah dan dukungan dari Kekhalifahan Utsmaniyah.
Contoh Qiraat:
- Ini bacaan yang paling kita kenal, seperti:
- Surat Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Penjelasan:
Bacaan ‘Asim, terutama melalui Hafs, menjadi bacaan standar dunia Islam. Bacaan ini seimbang antara kejelasan, kefasihan, dan hukum tajwid.
6. Hamzah al-Kufi (Wafat 156 H)
- Perawi: Khalaf dan Khallad
- Wilayah Populer: Irak (pada masa lalu)
Hamzah berasal dari Kufah, Irak. Bacaan Hamzah dikenal dengan ciri khas memperpanjang mad (panjangan huruf) dan memiliki aturan tajwid yang agak lebih kompleks. Dalam banyak madrasah khusus qiraat, qiraat Hamzah masih dipelajari secara mendalam.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Baqarah ayat 2:
- Hafs: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ
- Hamzah: ذَٰلِكِ الْكِتَابُ (huruf “k” di “dzalika” dibaca kasrah)
Penjelasan:
Hamzah lebih banyak menggunakan bacaan dengan kasrah (harakat bawah) di tempat-tempat tertentu, dan memiliki teknik mad yang sangat panjang.
7. Al-Kisai al-Kufi (Wafat 189 H)
- Perawi: Ad-Duri dan Abu al-Harith
- Wilayah Populer: Irak (pada masa lalu)
Al-Kisai adalah salah satu ulama besar ahli bahasa Arab di Kufah. Bacaan Al-Kisai sangat memperhatikan kaidah tata bahasa Arab (nahwu) sehingga terkesan lebih ilmiah. Ahmad Mukhtar dalam Qiraat wa Lughat Qur’aniyah mencatat bahwa banyak ahli linguistik mengagumi kedalaman bacaan Al-Kisai.
Contoh Qiraat:
- Surat Al-Baqarah ayat 2:
- Hafs: لاَ رَيْبَ
- Al-Kisai: لاَ رَيْبَ (dengan ikhfa’ lebih jelas antara huruf lam dan ra’)
Penjelasan:
Al-Kisai sangat memperhatikan tata bahasa Arab sehingga bacaan menjadi lebih presisi, termasuk dalam pengucapan samar (ikhfa’).
Tabel Ringkasan
| No | Imam Qiraat | Perawi | Contoh Perbedaan | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Nafi’ al-Madani | Qalun, Warsh | Imalah pada “la” menjadi “lé” | Bacaan lebih ringan |
| 2 | Ibn Kathir al-Makki | Al-Bazzi, Qunbul | “Malik” bukan “Mālik” | Perbedaan makna kecil |
| 3 | Abu ‘Amr al-Bashri | Ad-Duri, As-Susi | Mad dipendekkan | Mempermudah bacaan |
| 4 | Ibn ‘Amir asy-Syami | Hisham, Ibn Zakwan | Ghunnah lebih kuat | Pengucapan lebih berat |
| 5 | ‘Asim al-Kufi | Hafs, Syu’bah | Bacaan standar | Seimbang dan jelas |
| 6 | Hamzah al-Kufi | Khalaf, Khallad | Kasrah tambahan | Tajwid lebih kompleks |
| 7 | Al-Kisai al-Kufi | Ad-Duri, Abu al-Harith | Ikhfa’ lebih tegas | Tajwid ilmiah |
Kenapa Hafs ‘an ‘Asim Menjadi Bacaan yang Paling Populer?
Di antara semua qiraat yang ada, riwayat Hafs dari ‘Asim menjadi yang paling banyak digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Ada beberapa alasan mengapa bacaan ini menjadi dominan:
- Dukungan Pemerintah Islam
Kesultanan Utsmaniyah menjadikan mushaf dengan riwayat Hafs ‘an ‘Asim sebagai mushaf resmi. Ini menyebabkan bacaan ini tersebar luas ke berbagai penjuru dunia (dijelaskan oleh Ahmad Shalabi dalam Tarikh Al-Tashri’ Al-Islami). - Lebih Mudah Dipelajari
Struktur bacaan Hafs sederhana dan hukum tajwidnya jelas, membuatnya lebih cepat dipahami bahkan oleh yang baru belajar. - Didukung Lembaga Pendidikan Islam
Banyak universitas dan madrasah Islam, seperti Universitas Al-Azhar di Mesir, mengajarkan bacaan Hafs ‘an ‘Asim sebagai standar. - Mushaf Cetak dan Digital
Hampir semua mushaf modern, baik yang tercetak maupun yang berbentuk aplikasi digital, menggunakan riwayat Hafs, sehingga memperkuat kepopulerannya.
Kesimpulan
Ilmu qiraat adalah salah satu kekayaan besar dalam Islam yang menunjukkan keindahan variasi bacaan Al-Qur’an. Tujuh imam qiraat yang terkenal telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga orisinalitas bacaan dari generasi ke generasi.
Meskipun qiraat Hafs ‘an ‘Asim paling banyak digunakan hari ini, qiraat lain seperti Warsh ‘an Nafi’ atau Ad-Duri ‘an Abu ‘Amr tetap dihormati dan dipelajari, terutama di kalangan para ulama qiraat.
Sebagaimana disampaikan oleh Muhammad Abu Zahrah dalam Al-Qur’an fi Madkhal, mengenal berbagai macam qiraat dapat memperluas pemahaman kita terhadap kekayaan makna dan keindahan lafaz Al-Qur’an. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu menghormati seluruh qiraat yang valid sebagai bagian dari warisan keilmuan Islam yang agung. Wallahua’lam.
Nikmah Atika Hutasuhut (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)

jelaskan secara mendalam dari sekian banyak nya imam mengapa mereka yang terpilih apa yang menjadi pembeda mereka dengan imam yang lainnya?
Bagaimana pengaruh popularitas qira’at terhadap penyebaran Islam di berbagai wilayah?
Mengapa riwayat Hafs dari Asim menjadi qiraat yang paling banyak digunakan di dunia Muslim saat ini?
Bagaimana peran 7 imam qiraat dalam pelestarian dan pengembangan al – quran?