Parenting

Pendidikan Inklusif dan Adaptasi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus

TATSQIF ONLINE  Pendidikan merupakan hak setiap anak tanpa kecuali, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus (ABK). Untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan setara, sekolah memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademik dan sosial peserta didik. Salah satu tantangan besar yang dihadapi ABK di sekolah adalah proses adaptasi sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan norma dan pola interaksi sosial yang berlaku.

Sebagaimana dijelaskan oleh Zafrullah dalam tulisan Pengaruh Sosial dan Motivasi Belajar, lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan motivasi individu, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, interaksi sosial yang positif menjadi salah satu faktor utama dalam membantu adaptasi ABK di lingkungan sekolah.

Bentuk Interaksi Anak Berkebutuhan Khusus dengan Teman Sebaya di Lingkungan Sekolah

1. Interaksi Akademik

Interaksi akademik terjadi dalam proses belajar-mengajar seperti kerja kelompok, diskusi kelas, hingga saling membantu memahami materi. Rika Yulita Chusata dalam tulisannya Pendidikan Anak Tahanan G30S di Pulau Buru 1969–1976, mengungkapkan bahwa interaksi akademik memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan identitas sosial, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Keterlibatan dalam kelompok belajar dapat memperkuat rasa percaya diri dan keberdayaan sosial ABK.

2. Interaksi Sosial dan Emosional

Dalam interaksi sosial dan emosional, hubungan terjalin melalui aktivitas non-akademik seperti bermain, beristirahat bersama, atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Dedy Agus Setiawan melalui karyanya Perkembangan Sosio-Emosi pada Anak Berkebutuhan Khusus, menegaskan pentingnya pengalaman emosional positif untuk menunjang perkembangan adaptasi sosial anak. Teman sebaya yang menunjukkan empati dan penerimaan membantu ABK merasa dihargai dan lebih nyaman dalam berinteraksi.

3. Interaksi Instrumental

Interaksi instrumental melibatkan tindakan teman sebaya yang membantu ABK dalam aktivitas rutin, seperti menunjukkan arah ruang kelas atau membantu penggunaan fasilitas sekolah. Yulia Delfi dalam penelitiannya Peran Pemerintah Desa dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Muslim, menyoroti pentingnya dukungan sosial instrumental dalam mempercepat adaptasi kelompok rentan terhadap lingkungan sosial baru.

Hambatan dalam Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus

Meskipun interaksi sosial memiliki banyak manfaat, hambatan tetap ada, khususnya kurangnya pemahaman dari teman sebaya tentang kebutuhan khusus. Halimatuzzuhratulaini dalam artikelnya Pendidikan Karakter pada PAUD dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis, menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini untuk membentuk sikap inklusif dan empatik. Tanpa pemahaman ini, ABK rentan mengalami isolasi sosial dan diskriminasi.

Peran Guru dan Sekolah dalam Mendorong Interaksi Positif

Guru memiliki peran kunci dalam membangun lingkungan belajar yang mendukung semua siswa. Rohani Dwimarta dalam tulisannya Rancangan pada Pendidikan Inklusif: IEP (Individualized Educational Program) Bagi Anak Berkebutuhan Khusus, menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran yang mempertimbangkan kebutuhan individu sangat efektif dalam mendorong partisipasi ABK.

Selain itu, Hasanuddin Moh. Djahapar dalam karyanya Kepedulian Sosial dalam Perspektif Hadis, mengingatkan bahwa nilai-nilai sosial yang diajarkan dalam agama harus menjadi bagian dari budaya sekolah agar tercipta kepedulian dan empati di antara siswa.

Persepsi Guru terhadap Peran Teman Sebaya

Guru umumnya melihat teman sebaya sebagai agen penting dalam membantu adaptasi sosial ABK. Basyruddin Basyar dalam karyanya Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, menegaskan bahwa pendidikan karakter yang berlandaskan nilai sosial dan keagamaan dapat membentuk kepekaan terhadap perbedaan, sebuah nilai penting dalam pendidikan inklusif.

Bambang Harsanto dalam bukunya Inovasi Pembelajaran di Era Digital: Menggunakan Google Sites dan Media Sosial, juga menekankan bahwa inovasi dalam metode pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi kolaboratif, mampu mempererat hubungan sosial antara siswa reguler dan ABK.

Lebih lanjut, Miftahul Kosim dalam artikelnya Urgensi Pendidikan Karakter Budaya Keislaman, menekankan pentingnya habituasi nilai-nilai sosial melalui rutinitas sehari-hari di sekolah sebagai landasan membangun komunitas yang toleran dan saling menghargai.

Penutup

Interaksi positif antara anak berkebutuhan khusus dan teman sebaya adalah kunci penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang sesungguhnya. Dukungan dari teman sebaya, guru yang memahami, serta lingkungan sekolah yang inklusif adalah kombinasi penting untuk membantu adaptasi sosial ABK. Oleh karena itu, seluruh elemen pendidikan harus bekerja sama menciptakan suasana sekolah yang ramah, penuh empati, dan berkeadilan bagi semua siswa. Wallahua’lam.

Penulis: Rina Ronita Siregar (rinaronita3@gmail.com) dan Rizki Amalia Ritonga (rizki@uinsyahada.ac.id)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *