Pembagian Mukjizat dalam Islam: Bentuk, Sifat, dan Penerima
TATSQIF ONLINE – Mukjizat merupakan konsep yang sangat fundamental dalam memahami kerasulan dan keotentikan wahyu dalam Islam. Ia adalah kejadian luar biasa yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum alam dan nalar manusia biasa. Mukjizat tidak terjadi secara sembarangan, melainkan dihadirkan oleh Allah SWT sebagai bukti kenabian dan sarana penguatan iman umat.
Dalam ilmu Ulumul Qur’an, mukjizat memiliki kedudukan istimewa karena menyangkut otoritas penyampaian wahyu serta keistimewaan risalah kenabian. Salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam adalah diturunkannya Al-Qur’an, yang merupakan mukjizat maknawi abadi Nabi Muhammad SAW.
Pengertian Mukjizat
Secara terminologis, mukjizat berasal dari kata “a’jaza” yang berarti melemahkan. Artinya, mukjizat adalah sesuatu yang tidak mampu ditandingi oleh manusia. Dalam perspektif Ulumul Qur’an, mukjizat menjadi bukti yang mengiringi risalah kenabian dan menjadi tantangan bagi umat manusia untuk membuktikan bahwa wahyu tersebut benar-benar berasal dari Tuhan, seperti dijelaskan oleh Manna’ al-Qattan dalam kitab Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an bahwa mukjizat adalah hal luar biasa yang tidak dapat ditandingi oleh manusia sebagai penguat kenabian.
Pembagian Mukjizat
Para ulama membagi mukjizat menjadi beberapa kategori berdasarkan bentuknya, sifatnya, dan siapa penerimanya. Berikut penjelasannya:
1. Berdasarkan Bentuknya
a. Mukjizat Hissiyah (Fisik/Indrawi)
Mukjizat jenis ini dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh pancaindra. Contohnya:
- Nabi Musa AS membelah Laut Merah dengan tongkatnya sebagaimana disebutkan dalam QS. Asy-Syu‘ara: 63
- Nabi Ibrahim AS tidak terbakar dalam api besar yang disediakan oleh Raja Namrud (QS. Al-Anbiya: 69)
- Nabi Isa AS menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah (QS. Ali Imran: 49)
Semua mukjizat ini terjadi secara konkret dan dapat disaksikan oleh orang-orang sezaman dengan nabi tersebut.
b. Mukjizat Ma’nawiyah (Maknawi/Non-Fisik)
Mukjizat ini tidak terindra langsung, namun kekuatannya terletak pada kandungan makna, hikmah, dan dampak spiritualnya. Mukjizat terbesar dalam kategori ini adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya keindahan bahasa, tetapi juga mencakup keutuhan struktur, keuniversalan ajaran, serta tantangan abadi bagi manusia untuk menandinginya sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 23.
Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang mencakup berbagai keistimewaan: dari segi susunan kata, kekuatan makna, hingga pengaruh ruhani yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab lainnya.
2. Berdasarkan Sifatnya
a. Tashdiqiyah (Pembenar Kenabian)
Mukjizat ini hadir untuk memperkuat klaim kenabian, membuktikan bahwa seorang nabi benar-benar utusan Allah. Contohnya adalah mukjizat Nabi Musa AS yang mengubah tongkat menjadi ular untuk menghadapi para penyihir Firaun.
b. Irsyadiyah (Bersifat Edukatif dan Petunjuk)
Mukjizat jenis ini berfungsi untuk menyampaikan pelajaran moral dan spiritual. Misalnya, peristiwa Isra’ Mi’raj yang mengandung ajaran tentang kedekatan manusia dengan Allah dan kewajiban shalat.
Abdul Wahhab Khallaf dalam bukunya Ilmu Ushul al-Fiqh menjelaskan bahwa mukjizat irsyadiyah memiliki nilai pedagogis dan memperluas pemahaman umat terhadap wahyu.
3. Berdasarkan Penerimanya
a. Mukjizat Para Nabi
Mukjizat yang dimiliki oleh para nabi sebagai bukti keotentikan risalah yang dibawa. Setiap nabi dibekali mukjizat yang sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Nabi Nuh dengan bahteranya, Nabi Saleh dengan unta yang keluar dari batu, Nabi Musa dengan tongkatnya, dan Nabi Muhammad SAW dengan Al-Qur’an.
b. Karamah (Untuk Wali)
Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada hamba Allah yang saleh, namun tidak bertujuan untuk membuktikan kenabian. Karamah juga tidak bisa ditiru atau dipelajari karena merupakan anugerah langsung dari Allah.
Dalam buku Qawaid al-Tahqiq fi Usul al-Fiqh karya Muhammad Amin al-Kurdi dijelaskan bahwa karamah adalah bentuk kemuliaan Allah kepada wali-wali-Nya sebagai tanda kedekatan spiritual mereka.
c. Ma’unah (Pertolongan Ilahi untuk Orang Biasa)
Ma’unah adalah bentuk pertolongan Allah yang tidak bersifat kenabian atau kewalian, namun hadir dalam situasi genting yang melampaui logika manusia. Misalnya, seorang hamba Allah yang lolos dari kecelakaan maut secara misterius.
Hikmah di Balik Mukjizat
Mukjizat memiliki banyak hikmah, di antaranya:
- Menguatkan keimanan umat terhadap nabi dan risalahnya.
- Membungkam argumen para penentang yang tidak percaya pada kebenaran wahyu.
- Menjadi bukti bahwa kekuasaan Allah melampaui batas-batas hukum alam.
- Menanamkan keyakinan dalam hati umat bahwa para nabi adalah utusan Tuhan yang sah.
Penutup
Pemahaman tentang mukjizat dalam Ulumul Qur’an memperluas wawasan kita terhadap cara Allah berinteraksi dengan umat manusia melalui para utusan-Nya. Mukjizat bukanlah hiburan semata, melainkan sarana penyampaian pesan Ilahi yang sarat dengan hikmah dan nilai spiritual. Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW tetap hidup dan menjadi bukti keagungan risalah Islam hingga hari kiamat. Wallahua’lam.
Anugrah Sentosa (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Bagaimana peran mukjizat dalam menegaskan kebenaran risalah seorang nabi?
Apa tujuwan Allah memberikan mujiat kepadah nabi nabi
Bagaimana pengaruh mukjizat terhadap umat pada zaman nabi yang menerima mukjizat tersebut ?
Mukjizat yang mana yang terkait dengan kejadian rasional atau masuk akal
Mengapa mukjizat hanya diberikan kepada para nabi dan rasul?