Para Imam dan Bayang-Bayang Kesucian: Menyelami Doktrin Ishmah dalam Pemikiran Syiah
Dalam wacana keagamaan, ada satu gagasan yang selalu memancing rasa ingin tahu sekaligus perdebatan keyakinan bahwa pemimpin spiritual tertentu tidak mungkin terjatuh pada kekeliruan ataupun lupa. Konsep tersebut dikenal sebagai ishmah, sebuah pandangan dalam teologi Syiah yang menempatkan imam pada posisi sangat luhur. Mereka bukan sekadar pembimbing, tetapi figur yang dipercaya selalu berada dalam lindungan Tuhan sehingga tak tersentuh noda perilaku, pikiran, maupun keputusan. Definisi ini muncul dari perpaduan pemahaman linguistik dan penafsiran teologis, serta diperkuat oleh pendapat tokoh seperti al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, yang memandang kemurnian imam setinggi kedudukan para nabi.
Landasan utama yang sering diajukan untuk mendukung pandangan tersebut terdapat dalam QS. al-Waqi’ah ayat 78–79. Ayat itu menyebut adanya kitab maknun yang hanya dapat disentuh oleh mereka yang disucikan. Kalangan Syiah menempatkan Ahlul Bait sebagai kelompok yang dimaksud, sehingga penafsir seperti al-Tabataba’i dalam al-Mizan dan al-Kashani melalui al-Shafi memberikan pijakan bahwa imam memiliki akses pada kebenaran Ilahi yang tidak dimiliki manusia lain. Dari sudut pandang tersebut, kemaksuman bukan sekadar atribut, melainkan prasyarat bagi seseorang yang dipercaya membawa warisan spiritual Nabi.
Namun, cara pandang seperti itu tidak hadir tanpa sanggahan. Sebagian pemikir mempersoalkan metode hermeneutik yang digunakan karena lebih condong pada pendekatan batin atau ra’yi dibandingkan makna tekstual. Kritik diarahkan pada kecenderungan penafsiran Asas al-Ta’wi>l yang dinilai terlalu ideologis. Menurut mereka, istilah al-muthahharu>n lebih mendekati makna malaikat atau hamba yang menjaga kesucian dari hadas, bukan spesifik merujuk pada imam. Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan lebih besar mengenai batas antara devosi dan objektivitas akademik.
Dari perdebatan itu tampak bahwa ishmah bukan sekadar rumusan doktrin, tetapi titik temu antara teologi, otoritas religius, dan interpretasi kitab suci. Di satu sisi, keyakinan ini menjadi fondasi penting bagi tradisi Syiah dalam menempatkan imam sebagai figur ideal. Di sisi lain, keberatan metodologis memunculkan diskursus yang memperkaya khazanah pemikiran Islam. Pada akhirnya, yang paling menarik bukan hanya klaim kesucian itu sendiri, tetapi bagaimana teks suci dipahami berbeda oleh komunitas yang sama-sama berusaha mendekati kebenaran.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keilmuan justru tumbuh lewat pertemuan pandangan. Jika semua sepakat, mungkin tidak ada ruang untuk bertanya dan memperdalam pengetahuan. Karena itu, memahami ishmah bukan semata mencari siapa yang benar atau keliru, melainkan mengamati bagaimana gagasan besar lahir, berkembang, ditafsirkan kembali, lalu diuji melalui dialog. Di sana letak hidupnya tradisi intelektual dalam Islam.

.