Al-Qur'an & HadisAqidah & Akhlak

Pandangan Ulama Terhadap Mukjizat Al-Qur’an Sepanjang Zaman

TATSQIF ONLINE  Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, bukan hanya dianggap sebagai wahyu yang memberi petunjuk hidup, tetapi juga sebagai mukjizat terbesar yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Para ulama, meskipun sepakat bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat, memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai aspek kemukjizatan Al-Qur’an. Secara umum, para ulama sepakat bahwa mukjizat Al-Qur’an memiliki daya keajaiban yang tiada duanya, baik dalam aspek kebahasaan, kedalaman makna, maupun pengaruhnya terhadap umat manusia sepanjang zaman.

1. Pandangan Ali ash-Shabuny

Menurut Ali ash-Shabuny, mukjizat Al-Qur’an adalah sebuah tantangan yang diberikan kepada umat manusia untuk menandingi atau membuat hal serupa dengan Al-Qur’an. Ali ash-Shabuny menegaskan bahwa mukjizat ini adalah penetapan terhadap kelemahan manusia, baik secara individu maupun kelompok, untuk menghasilkan sesuatu yang setara dengan Al-Qur’an. Mukjizat Al-Qur’an tidak hanya terletak pada keindahan bahasanya, tetapi juga pada ketidakmampuan manusia untuk menandinginya.

Menurutnya, mukjizat ini adalah bukti nyata bahwa Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW dengan wahyu yang tidak dapat disangkal dan tidak dapat diimitasi oleh siapa pun. Hal ini memperkuat keimanan umat Islam terhadap kenabian Muhammad SAW dan wahyu yang dibawanya. Seperti yang dijelaskan oleh Ali ash-Shabuny dalam Tafsir al-Ashbah wa al-Nadhir, Al-Qur’an menantang umat manusia untuk menghasilkan sesuatu yang setara dengannya, namun tidak ada yang mampu.

2. Pandangan Manna’ Khalil al-Qaththan

Manna’ Khalil al-Qaththan berpendapat bahwa mukjizat Al-Qur’an adalah sarana untuk menunjukkan legitimasi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Al-Qur’an, dalam pandangannya, bukan hanya sekadar kitab yang mengandung petunjuk hidup, tetapi juga bukti sahih atas kenabian Muhammad SAW. Al-Qur’an memberi tantangan langsung kepada masyarakat Arab yang saat itu sangat fasih dalam berbahasa dan bersyair.

Namun, tidak ada satupun yang mampu menandingi keindahan dan kedalaman makna Al-Qur’an. Dalam hal ini, mukjizat Al-Qur’an adalah cara Allah untuk memperlihatkan bahwa wahyu yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah benar dan berasal dari Tuhan yang Maha Kuasa. Pandangan ini dijelaskan oleh Manna’ Khalil al-Qaththan dalam Al-Mukjizat al-Qur’aniyah.

3. Pandangan Aswaja (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)

Pandangan Aswaja terhadap kemukjizatan Al-Qur’an lebih menekankan pada aspek ketepatan dan relevansi Al-Qur’an untuk semua zaman. Menurut ulama Aswaja, mukjizat Al-Qur’an tidak hanya terletak pada keindahan bahasa dan kesastraannya yang luar biasa, tetapi juga pada kemampuannya untuk memberikan petunjuk yang benar dan tepat untuk umat manusia di setiap waktu dan tempat.

Al-Qur’an, menurut mereka, memiliki dimensi spiritual dan praktis yang selalu relevan dengan tantangan zaman. Setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari etika, hukum, hingga panduan spiritual, semuanya sudah tercakup dalam Al-Qur’an. Seperti yang dijelaskan oleh Hasyim Asy’ari dalam Risalah Al-Awqaf, Al-Qur’an memberikan petunjuk hidup yang tidak terbatas pada masa dan tempat tertentu.

4. Pandangan Al-Jahiz

Al-Jahiz, seorang ulama dan pemikir besar dari kalangan Mu’tazilah, berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada keindahan bahasa dan gaya penulisannya yang tiada bandingannya. Ia menyoroti betapa Al-Qur’an menyajikan bahasa yang penuh dengan keindahan, kesempurnaan retorika, dan irama yang menggugah perasaan.

Keindahan ini tidak hanya menarik perhatian orang pada masa itu, tetapi juga mampu bertahan hingga masa kini. Bahasa Al-Qur’an, menurutnya, adalah tantangan yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun. Dalam al-Bayan wa al-Tabyin, Al-Jahiz menulis bahwa Al-Qur’an memukau umat manusia dengan struktur bahasanya yang menakjubkan.

5. Pandangan Al-Khattabi

Sementara itu, Al-Khattabi berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada kebenaran isi dan maknanya. Menurutnya, Al-Qur’an mengandung kebenaran mutlak yang tidak dapat dibantah atau diperdebatkan. Apa yang disampaikan dalam Al-Qur’an terbukti benar dan sesuai dengan kenyataan yang ada.

Di samping itu, Al-Qur’an memuat petunjuk hidup yang sangat relevan dan bermanfaat bagi umat manusia, sehingga menjadi sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam. Setiap ayat dan surah dalam Al-Qur’an mengandung hikmah yang sangat dalam, dan itu adalah bukti dari kemukjizatan-Nya. Hal ini juga diungkapkan oleh Al-Khattabi dalam Ma’ani al-Qur’an, yang mengamati bahwa setiap isi dalam Al-Qur’an adalah wahyu yang tak terbantahkan.

6. Pandangan Hamka

Ulama besar Indonesia, Hamka, dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada kesempurnaan dan susunan tatanan yang teratur dalam kitab tersebut. Al-Qur’an tidak hanya sekadar kumpulan wahyu, tetapi memiliki sistem yang sangat terstruktur dan menyeluruh, baik dalam aspek hukum, moral, maupun spiritual.

Hamka menyebutkan bahwa Al-Qur’an mengandung keseimbangan antara tuntunan hidup yang praktis dan petunjuk-petunjuk spiritual yang mendalam. Ia juga menekankan bahwa Al-Qur’an, meskipun diturunkan lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tetap relevan dan memberikan petunjuk yang dapat diikuti di setiap zaman. Pandangan ini tercermin dalam Tafsir al-Azhar oleh Hamka, di mana ia menyatakan bahwa kesempurnaan Al-Qur’an dalam tatanannya adalah mukjizat yang tak tertandingi.

Kesimpulan

Pandangan ulama terhadap mukjizat Al-Qur’an menunjukkan betapa luar biasanya kitab ini, baik dalam aspek bahasa, makna, maupun dampaknya terhadap umat manusia. Baik dari segi kebahasaan yang tak tertandingi, kebenaran isinya, maupun sistem yang terstruktur dengan sempurna, Al-Qur’an terus memberikan petunjuk hidup yang relevan dan menginspirasi umat Islam di seluruh dunia. Mukjizat Al-Qur’an bukan hanya untuk dilihat sebagai fenomena luar biasa, tetapi juga sebagai panduan hidup yang tak lekang oleh waktu. Wallahua’lam.

Muhammad Ammar Azzakiroh Harahap (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

6 komentar pada “Pandangan Ulama Terhadap Mukjizat Al-Qur’an Sepanjang Zaman

  • Dwi syahrani

    Apa saja bentuk mukjizat Alquran yang sering dibahas oleh para ulama dari masa ke masa?

    Balas
  • Nurul Awalia Siregar

    Apa perbedaan pandangan ulama klasik dan ulama kontemporer terhadap mukjizat Al-Qur’an?

    Balas
  • Nikmah Agustina Lubis

    Bagaimana para ulama memandang aspek bahasa dalam mukjizat al quran?

    Balas
  • Yenni Arpina Pasaribu

    Apa tantangan yang di hadapi dalam memahami ke mukjijatan Al Qur’an

    Balas
  • Wita Sahra Tumanggor

    Mengapa Al quran menjadi mikjizat yang sangat agung dan besar sepanjang masa

    Balas
  • Mei Linda

    Mengapa para ulama menganggap Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *