Al-Qur'an & Hadis

Menyingkap Makna Ru’yatullah dalam Kitab Hamya>n al-Za>d Ila> Da>r al-Ma’a>d

Ketika logika mulai ragu, apakah hati kecil ini yang akan bersuara?

 

Pertanyaan tentang apakah manusia bisa “melihat Allah” sering kali muncul dalam diskusi teologi islam. Sebagian bertanya dengan rasa ingin tahu, Sebagian lain dengan rasa kagum, bahkan ada yang merasa takut membahasnya. Padahal, tema ini merupakan salah satu pembahasan klasik dalam literatur islam mulai dari kitab tafsir, teologi hingga karya sufistik.

 

Salah satu rujukan spiritual yang memuat pemaknaan mendalam tentang tema ini adalah dalam kitab Hamya>n al-Za>d Ila> Da>r al-Ma’a>d. Kitab ini tidak hanya mengulas perjalanan ruhani seorang hamba, tetapi juga menyingkap bagaimana ulama klasik memahami pengalaman penyaksian terhadap Allah. Maka disini dalam kitab Hamya>n al-Za>d Ila> Da>r al-Ma’a>d karya Muhammad bin Yusuf ‘Athaillah menjelaskan dalam QS. Al-Qiyamah [75]: 23 berikut ini :

 

اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌۚ ۝٢٣

 

“(karena) memandang tuhannya”

 

Sebagian ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai dalil bahwa orang beriman akan melihat Allah di akhirat. Namun, ada ulama lain yang memberikan pendekatan berbeda. Itfisy memberikan penafsiran yang unik dan mendalam: ia memahami frasa “ilā rabbihā nāẓirah” bukan sebagai “melihat allah secara fisik, melainkan sebagai menanti Rahmat-Nya”. Penafsiran ini menggunakan pendekatan balaghah (taqdim wa ta’khir). Menurut Itfisy, struktur bahasa ayat ini menunjukkan bahwa pandangan dan orientasi kaum beriman sepenuhnya tertuju kepada Allah, namun bukan sebagai pandangan mata. Sebaliknya , itu Adalah bentuk:

 

Harapan spiritual

 

Penantian penuh keikhlasan

 

Orientasi batin yang sepenuhnya mengarah kepada Allah.

 

Atau dengan kata lain, ayat ini tidak berbicara tentang penglihatan visual, tetapi tentang kesadaran ruhani yang berharap anugerah dan Rahmat Allah. Ini Adalah bentuk ru’yah yang bersifat spiritual, bukan fisik.

 

Ru’yatullah sebagai Gerbang Kedekatan Ilahi

 

Dalam kitab Hamya>n al-Za>d, ru’yatullah dipahami sebagai puncak perjalanan spiritual manusia. Bukan sebuah visualisasi, tetapi penyaksian batin yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa dunia. Dalam isi kitab ini menegaskan tiga hal penting : Pertama, Ru’yatullah adalah anugerah tertinggi di akhirat: melampaui kenikmatan surga lainnya. Kedua, merupakan bentuk kedekatan, bukan penglihatan fisik: Allah tidak berada dalam dalam ruang, bentuk atau arah. Ketiga, Ru’yatullah adalah buah dari hati yang bersih dan amal yang tulus: siapa yang menjaga hati di dunia, akan diberikan penyingkapan di akhirat. Pendekatan ini sangat selaras dengan penafsiran Itfisy yang menempatkan ru’yah sebagai penantian batin orientasi spiritual, bukan pengalaman visual.

 

Lalu muncullah pertanyaan, mengapa konsep “Melihat Allah” diangkat? Dan apa relevansi dalam hidup kita?

 

Mungkin kita bertanya: “kalau ru’yatullah terjadi di akhirat, apa hubungannya dengan kehidupan sekarang?”. Justru hubungan itu sangat besar. Konsep Ru’yatullah “Melihat Allah” mengajarkan kita bahwa: Hidup bukan sekadar rutinitas, tetapi perjalanan menuju penjumpaan dengan Allah, harapan kepada rahmat Allah menguatkan manusia melewati ujian, orientasi batin kepada Allah menumbuhkan ketenangan. Sama seperti makna “ilā rabbihā nāẓirah” yaitu hati yang akan tertuju kepada-Nya.

 

Penutup: Ru’yatullah sebagai Cahaya Harapan

 

Menyingkap makna Ru’yatullah melalui Hamya>n al-Za>d dan penafsian Itfisy tentang ayat “ilā rabbihā nāẓirah” memberikan gambaran yang kebih jernih tentang hubungan manusia dengan Allah. Bahwa konsep “melihat Allah” tidak dimaknai sebagai pesepsi visual atau bentuk fisik, melainkan sebagai pengalaman teologis yang merefleksikan kedekatan eksistensial, harapan spiritual, penantian terhadap karunia Ilahi, serta penyaksian batin yang bersifat transenden. Dengan demikian, Ru’yatullah dipahami sebagai bentuk janji eskatologis bagi hamba yang menjaga kesucian hatinya dan senantiasa menanti limpahan Rahmat-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *