Mengungkap Latar Belakang Perbedaan Qira’at Al-Qur’an, Simak
TATSQIF ONLINE – Dalam kajian Ulumul Qur’an, salah satu cabang penting yang harus dipahami dengan baik adalah Ilmu Qira’at. Ilmu ini berfungsi untuk mempelajari cara membaca Al-Qur’an yang berbeda-beda, sebagaimana yang diriwayatkan dari para imam qira’at. Dengan memahami ilmu ini, umat Islam akan mampu mengerti berbagai variasi bacaan Al-Qur’an yang semuanya bersumber dari Rasulullah ﷺ dan memiliki dasar yang sah.
Pengertian Al-Qira’at
Secara bahasa, al-Qira’at berasal dari kata kerja bahasa Arab قَرَأَ – يقرأ – قراءة yang berarti “membaca”. Kata qira’at adalah bentuk jamak dari qira’ah yang bermakna bacaan. Istilah lain yang memiliki makna serupa adalah تلاوة (tilawah), yang juga berarti membaca atau melafalkan.
Sedangkan secara istilah, para ulama telah memberikan berbagai definisi tentang Qira’at, di antaranya:
🔹Ibn al-Jazari dalam An-Nashr fi al-Qira’at al-‘Ashr mendefinisikan Qira’at sebagai ilmu tentang bagaimana cara menyampaikan kata-kata Al-Qur’an, baik dari sisi lafaz maupun perbedaan-perbedaannya, yang dikaitkan kepada perawi yang meriwayatkannya.
🔹Sajiqli Zaadah dalam Al-Wafi fi Sharh al-Shatibiyyah menyatakan bahwa Qira’at adalah ilmu tentang metode membaca Al-Qur’an menurut sekelompok imam Qira’at.
🔹Abdul ‘Adzim az-Zarqani dalam Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa Qira’at adalah pendapat para imam dalam melafalkan Al-Qur’an, baik dalam aspek pengucapan huruf maupun bentuk kata, dengan jalur riwayat tertentu.
🔹Ad-Dimyati dalam Iqamatul Hujjah menyebutkan bahwa Qira’at adalah ilmu yang memuat kesepakatan dan perbedaan para perawi mengenai penghapusan (hazf), penetapan (isbath), pembarisan (tahrik), pentasydidan (taskin), pemisahan (fashl), penyambungan (washl), dan perubahan (ibdal) dalam membaca Al-Qur’an.
🔹Abdul Fattah al-Qadhi dalam Al-Qira’at fi Nazhri al-Mutaqaddimin mengartikan Qira’at sebagai ilmu yang mengatur tata cara pengucapan kalimat-kalimat Al-Qur’an dan metode penyampaiannya dari berbagai sisi periwayatan.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Qira’at merupakan ilmu yang membahas tata cara pengucapan Al-Qur’an, baik dalam bentuk yang disepakati (ittifaq) maupun yang diperselisihkan (ikhtilaf), berdasarkan riwayat yang sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui sanad yang terpercaya.
Latar Belakang Munculnya Perbedaan Qira’at
1. Kondisi Sosial dan Bahasa Arab di Masa Nabi
Masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad ﷺ terdiri dari berbagai kabilah yang masing-masing memiliki logat (lahjah) yang berbeda-beda. Perbedaan ini bukan hanya dalam pengucapan huruf, tetapi juga dalam penggunaan kata-kata tertentu. Allah yang Maha Mengetahui realitas ini memudahkan umat Islam dengan menurunkan Al-Qur’an dalam beberapa bentuk bacaan yang disebut sab’ah ahruf (tujuh huruf).
Manna’ Khalil al-Qattan dalam Mabahits fi Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa perbedaan bacaan ini untuk memberikan kemudahan kepada umat Islam yang beragam dari segi suku dan tingkat kemampuan bahasa mereka.
2. Permintaan Nabi Muhammad ﷺ
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memohon kepada Allah agar Al-Qur’an diberikan dengan kemudahan bacaan, karena umatnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang memiliki perbedaan dalam usia, kemampuan membaca, dan latar belakang pendidikan. Permintaan ini dikabulkan Allah dengan membolehkan bacaan Al-Qur’an dalam beberapa bentuk.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ»
Artinya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darimu,” (Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa sejak masa Nabi, sudah ada pengakuan terhadap variasi bacaan yang berbeda, dan semua bentuk tersebut diakui keabsahannya.
3. Perselisihan Sahabat dalam Bacaan
Salah satu bukti kuat mengenai adanya perbedaan Qira’at adalah peristiwa yang terjadi antara Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim. Umar mendengar Hisyam membaca Surah al-Furqan dengan cara berbeda dari yang ia pelajari. Setelah membawa Hisyam ke hadapan Nabi, Rasulullah ﷺ membenarkan kedua bacaan tersebut, karena keduanya termasuk dalam variasi tujuh huruf yang diizinkan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis berikut:
«سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَاسْتَمَعْتُ لِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا هُوَ يَقْرَأُ عَلَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمْ يُقْرِئْنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكِدْتُ أُسَاوِرُهُ فِي الصَّلَاةِ، فَتَمَهَّلْتُ حَتَّى سَلَّمَ، فَلَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَقُلْتُ: مَنْ أَقْرَأَكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ؟ قَالَ: أَقْرَأَنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: كَذَبْتَ، فَوَاللَّهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ أَقْرَأَنِي هَذِهِ السُّورَةَ عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأْتَ، فَانْطَلَقْتُ أَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: إِنِّي سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ بِسُورَةِ الْفُرْقَانِ عَلَى حُرُوفٍ لَمْ تُقْرِئْنِيهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْسِلْهُ، اقْرَأْ، يَا هِشَامُ، فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةَ الَّتِي سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَكَذَا أُنْزِلَتْ، ثُمَّ قَالَ: اقْرَأْ، يَا عُمَرُ، فَقَرَأْتُ الْقِرَاءَةَ الَّتِي أَقْرَأَنِيهَا، فَقَالَ: هَكَذَا أُنْزِلَتْ، إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، فَاقْرَءُوا مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ».
Artinya: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surah al-Furqan di masa hidup Rasulullah ﷺ. Aku memperhatikannya, dan ternyata ia membaca dengan banyak huruf yang tidak diajarkan kepadaku oleh Rasulullah ﷺ. Aku hampir saja memukulnya saat shalat, tetapi aku bersabar hingga ia selesai. Setelah selesai, aku menariknya dengan keras dan berkata, ‘Siapa yang mengajarkanmu bacaan ini?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah ﷺ.’ Aku berkata, ‘Engkau dusta, demi Allah! Rasulullah ﷺ telah mengajarkanku surah ini dengan bacaan yang berbeda.’ Lalu aku membawanya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Aku mendengar dia membaca dengan huruf yang berbeda dari apa yang engkau ajarkan kepadaku.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah, wahai Hisyam.’ Maka Hisyam membaca. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Begitulah ia diturunkan.’ Lalu beliau berkata, ‘Bacalah, wahai Umar.’ Aku pun membaca, dan Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Begitulah ia diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah darinya apa yang mudah bagimu, “ (HR Bukhari).
Hal ini berarti bahwa Rasulullah ﷺ membenarkan bahwa kedua bacaan itu adalah sah karena memang Al-Qur’an diturunkan dengan berbagai bacaan dalam tujuh huruf.
Bentuk-Bentuk Perbedaan Qira’at
Berikut adalah beberapa bentuk perbedaan dalam Qira’at yang terjadi:
🔹Perbedaan dalam I’rab (harakat) tanpa mengubah makna. Contoh dalam Surah an-Nisa ayat 37 pada kata “بِالْبُخْلِ” yang bisa dibaca “بِالْبَخْلِ” dengan perbedaan harakat pada huruf Ba’.
🔹Perbedaan dalam I’rab yang menyebabkan perubahan makna. Dalam Surah Saba’ ayat 19, kata “باعد” dapat dibaca sebagai “باعد” (fi’il amr: jauhkanlah) atau “باعَد” (fi’il madhi: telah menjauh).
🔹Perbedaan dalam huruf tanpa mengubah bentuk tulisan. Dalam Surah al-Baqarah ayat 259, kata “نُنشِزُهَا” (Kami menyusunnya) bisa dibaca “نُنْشِرُهَا” (Kami menghidupkannya).
🔹Perubahan bentuk kata tanpa perubahan makna. Dalam Surah al-Qari’ah ayat 5, kata “كالعهن” (seperti bulu) kadang dibaca dengan variasi “كالصوف” (seperti bulu domba).
🔹Perbedaan yang menyebabkan perubahan makna dan bentuk. Perubahan dari “طلع منضود” menjadi “طَلْحٍ مَنْضُودٍ” dalam Surah Al-Waqi’ah.
🔹Perbedaan dalam mendahulukan atau mengakhirkan kata. Dalam Surah Qaf ayat 19, bacaan “وجاءت سكرة الموت بالحق” dapat dibaca dengan susunan berbeda.
🔹Perbedaan dalam penambahan atau pengurangan huruf. Dalam Surah al-Baqarah ayat 25, variasi terjadi dalam bentuk kata jamak dan mufrad.
Kesimpulan
Perbedaan Qira’at adalah bagian dari rahmat Allah kepada umat Islam. Dengan berbagai macam bacaan yang sah, Al-Qur’an menjadi lebih mudah diakses, dipahami, dan dihafal oleh seluruh lapisan masyarakat, baik pada masa Nabi maupun sampai sekarang. Perbedaan ini bukan menunjukkan ketidakterjagaan Al-Qur’an, melainkan menunjukkan keluasan kasih sayang Allah dalam memudahkan syariat-Nya bagi manusia.
Sebagaimana ditegaskan oleh Abdul Fattah al-Qadhi dalam Al-Qira’at fi Nazhri al-Mutaqaddimin, memahami perbedaan Qira’at adalah memahami keunikan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang terjaga dalam berbagai bentuk bacaannya hingga hari kiamat. Wallahua’lam.
Salsa Aulia (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Apa yang melatarbelakangi timbulnya qiraat yang berbeda-beda?
Apa saja qiraat yang di akui secara mutawir dan siap saja imam qiraat yang terkenal
Bagaimana cara mengetahui suatu qiraat itu benar
Siapa saja tokoh-tokoh utama dalam perkembangan qiroat Sab’ah dan Asyrah?
Mengapa terdapat perbedaan dalam qiraat Al-Qur’an?
Siapa saja sahabat nabi yang terkenal sebagai rujukan dalam qiraat?