Mengenal Qira’at Al-Qur’an: Simak Sejarah, Jenis, dan Urgensinya
TATSQIF ONLINE – Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab, yang pada masa itu digunakan sebagai bahasa untuk berkomunikasi. Namun, bangsa Arab terdiri dari berbagai suku dengan variasi dialek bahasa yang berbeda, yang menyebabkan sebagian dari mereka yang tidak menggunakan lahjah Quraisy mengalami kesulitan dalam pelafalan. Dalam proses turunnya wahyu, terdapat riwayat yang menyebutkan perbedaan cara Rasulullah SAW dalam membaca Al-Qur’an, yang kemudian melahirkan perbedaan qira’at di kalangan umat Islam. Ilmu qira’at ini berkembang hingga muncul berbagai variasi, seperti qira’at sab’ah, qira’at asy’arah, dan lainnya.
Menurut ‘Abd al-Hadi, qira’at itu berasal dari Rasulullah SAW, kemudian sahabat-sahabat mengambilnya langsung dari beliau, dan tabi’in mengambil dari sahabat, sehingga sampai kepada ulama yang kemudian meneruskannya ke generasi berikutnya. Variasi dalam pelafalan qira’at Al-Qur’an adalah hal yang tidak bisa dihindari, mengingat Rasulullah SAW sendiri memohon kepada Allah untuk diberi kemudahan dalam melafalkan ayat-ayat-Nya. Perbedaan-perbedaan ini semakin diperkuat dengan adanya variasi dialek di antara suku-suku Arab yang menyebabkan munculnya banyak variasi qira’at.
Definisi Qira’at
Qira’at secara etimologis berasal dari kata “qira’ah” yang berarti bacaan. Menurut Al-Zarqani, qira’at adalah variasi dalam pelafalan ayat-ayat Al-Qur’an yang disandarkan kepada riwayat dan sanad yang sahih dari Nabi SAW, serta sesuai dengan mazhab yang digunakan oleh imam qira’at tertentu. Al-Jazariy, dalam kitab Munjid al-Muqri’in, juga menyatakan bahwa qira’at adalah pengetahuan mengenai variasi dalam melisankan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merujuk kepada penukilnya.
Jenis-Jenis Qira’at
Qira’at Al-Qur’an dikelompokkan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain:
Mutawatir: Merupakan qira’at yang diriwayatkan oleh banyak orang hingga mencapai tingkat kepastian bahwa pernyataan tersebut tidak mungkin palsu, seperti qira’at sab’ah, asy’arah, dan arba’ah asy’arah.
Masyhur: Merupakan qira’at yang dikenal luas oleh masyarakat dan ahli qira’at, meskipun tidak mencapai tingkat mutawatir. Qira’at ini mengikuti rasm Utsmani, dan sah di kalangan ulama.
Ahad: Merupakan qira’at yang sanadnya shahih tetapi melanggar aturan rasm Utsmani atau tidak sepopuler qira’at yang masyhur. Qira’at jenis ini tidak dapat diterima sebagai qira’at yang sahih.
Syadz: Merupakan qira’at yang sanadnya lemah, sehingga tidak diterima sebagai bagian dari Al-Qur’an.
Mudraj: Qira’at yang melibatkan penambahan kata atau kalimat sebagai penjelasan dari teks yang ada, tetapi tidak termasuk dalam teks Al-Qur’an itu sendiri.
Qira’at sab’ah merupakan jenis yang paling terkenal dan memiliki pengaruh besar dalam pemahaman Al-Qur’an, dengan tujuh imam besar yang menyebarkan variasi bacaan tersebut.
Perbedaan Qira’at dengan Al-Qur’an
Meskipun qira’at adalah variasi dalam pelafalan ayat-ayat Al-Qur’an, perbedaan antara keduanya terletak pada pengertian dan cakupannya. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW secara mutawatir dan dijamin keasliannya, sedangkan qira’at adalah variasi dalam pelafalan ayat-ayat tersebut yang berpengaruh pada pengucapan, harakat, dan kadang-kadang makna yang dapat diterima, selama memenuhi syarat tertentu.
Urgensi Mempelajari Perbedaan Qira’at
Mempelajari qira’at memiliki banyak urgensi, terutama untuk memahami variasi dalam pelafalan ayat-ayat yang dapat mempengaruhi pengambilan hukum. Beberapa urgensi mempelajari qira’at antara lain:
1. Memahami variasi bacaan yang sah
Masyarakat yang beragam dengan berbagai latar belakang bahasa Arab memerlukan variasi qira’at untuk dapat melafalkan Al-Qur’an dengan benar. Dengan memahami berbagai qira’at, umat Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan cara yang lebih mudah dan sesuai dengan konteks budaya mereka.
2. Menghindari perbedaan yang mengarah pada perselisihan
Perbedaan dalam membaca Al-Qur’an sering kali menimbulkan perdebatan di kalangan umat Islam. Dengan mempelajari qira’at yang sahih, umat dapat lebih menerima perbedaan ini tanpa menimbulkan konflik.
3. Melestarikan qira’at yang sahih
Salah satu alasan penting untuk mempelajari qira’at adalah untuk melestarikan variasi bacaan yang sahih agar tidak hilang seiring waktu. Ini sangat penting agar pengaruh perbedaan qira’at dalam makna dan penetapan hukum dapat terus dipahami.
Kesimpulan
Qira’at Al-Qur’an adalah salah satu aspek penting dalam mempelajari dan memahami wahyu Allah SWT. Variasi dalam bacaan bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang sahih dan memiliki pengaruh terhadap pengambilan hukum dalam fiqh. Oleh karena itu, mempelajarinya sangat penting, baik untuk mendalami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, maupun untuk menjaga keaslian dan keberagaman pemahaman umat Islam terhadap wahyu Allah.
Pentingnya mempelajari qira’at tidak hanya untuk tujuan keilmuan semata, tetapi juga untuk mempererat persatuan umat Islam dengan memahami dan menerima perbedaan bacaan yang sahih, yang pada gilirannya berkontribusi pada keberagaman dalam pemahaman hukum Islam. Wallahua’lam.
Farida Hannum Siregar (Mahasiswa Prodi PGMI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Apa urgensi mempelajari ilmu qiraat dalam penafsiran al-Qur’an?
Apa yang melatarbelakangi timbulnya qiraat yang berbeda-beda?
Bagaimana qira’at mempengaruhi tafsir dan pemahaman terhadap ayat Al-quran?
9. Bagaimana proses kodifikasi qira’at dilakukan oleh para ulama?