Aqidah & Akhlak

Makna Iman, Islam, dan Ihsan dalam Bingkai Tauhid, Simak

TATSQIF ONLINE  Ilmu tauhid sebagai cabang utama dalam studi Islam berfungsi sebagai fondasi keimanan bagi seorang Muslim. Di dalamnya terkandung konsep dasar yang menyatukan unsur keyakinan, pengamalan, dan kesadaran spiritual, yakni: iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya merupakan bangunan utuh ajaran agama yang dijelaskan secara langsung dalam Hadis Jibril dan dijabarkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menegaskan bahwa agama tidak cukup hanya dengan pengetahuan, tapi harus diiringi dengan amal dan keikhlasan hati. Maka, memahami tiga pilar ini sangat penting sebagai bekal bagi umat Islam dalam memperkuat fondasi agama dan menjalankan hidup secara utuh sesuai dengan kehendak Allah SWT.

A. Iman

Secara bahasa, iman berasal dari kata “آمن – يؤمن – إيمانا” yang berarti percaya atau membenarkan. Dalam pengertian istilah, iman berarti membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkannya dengan anggota badan. Definisi ini dipegang oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jama‘ah sebagaimana disebutkan dalam al-‘Aqidah al-Tahawiyyah karya Imam Abu Ja’far al-Tahawi.

Iman mencakup enam rukun, yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 285:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.”

Hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menguatkan rincian rukun iman ini:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik maupun buruk.” (HR. Muslim no. 8)

Selain sebagai keyakinan, iman juga tercermin dalam amal. Rasulullah SAW bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Iman itu memiliki lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘La ilaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim no. 35)

Iman yang sejati juga menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW sebagaimana sabda beliau:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari no. 15)

B. Islam

Islam berasal dari kata “أسلم” yang berarti berserah diri atau tunduk. Dalam konteks istilah, Islam adalah ketundukan dan ketaatan total kepada perintah Allah SWT melalui syariat-Nya. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19 Allah SWT menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam.”

Rukun Islam yang lima merupakan amalan lahiriah yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ لِمَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

artinya: “Islam dibangun di atas lima hal: bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Amalan-amalan inilah yang menjadi manifestasi keislaman seseorang secara praktis.

C. Ihsan

Ihsan secara bahasa berarti berbuat baik. Dalam istilah agama, ihsan adalah maqam (tingkatan) spiritual tertinggi dalam Islam. Dalam Hadis Jibril, Rasulullah SAW mendefinisikan ihsan sebagai berikut:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)

Al-Qur’an menegaskan bahwa ihsan adalah salah satu sifat utama orang bertakwa:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).”

Menurut Ibn Qayyim dalam Madarij al-Salikin, ihsan merupakan puncak dari perjalanan ruhani seorang hamba, yang ditandai dengan keikhlasan dalam beribadah dan kesadaran penuh akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas.

D. Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan

Ketiga konsep ini bukanlah entitas yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan utuh. Islam menggambarkan aspek lahiriah (amal), iman mencerminkan aspek batiniah (keyakinan), dan ihsan merupakan aspek spiritual terdalam (kesadaran ilahiah). Dalam Hadis Jibril disebutkan bahwa Jibril datang untuk mengajarkan agama secara utuh kepada umat Islam:

فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ

artinya: “Itulah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim no. 8)

Ketika ketiganya dipahami dan diamalkan secara menyeluruh, seorang Muslim akan menjadi pribadi yang lurus aqidahnya, benar amalnya, dan indah akhlaknya.

Kesimpulan

Iman, Islam, dan Ihsan adalah pilar utama yang membentuk struktur ajaran Islam secara keseluruhan. Iman menanamkan keyakinan, Islam membimbing pada pengamalan, dan ihsan menuntun pada keikhlasan dan kesadaran tertinggi dalam beribadah. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang harus terus disinergikan dalam kehidupan setiap Muslim agar mencapai kesempurnaan agama dan meraih ridha Allah SWT. Memahami dan mengamalkan ketiganya bukan hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi juga misi kolektif umat Islam dalam membangun peradaban yang penuh keberkahan. Wallahua’lam.

Muhammad Wahid Rangkuti (Mahasiwa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) 

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

3 komentar pada “Makna Iman, Islam, dan Ihsan dalam Bingkai Tauhid, Simak

  • Hengki pranata

    Bagaimana membedakan antara keikhlasan karena tauhid dengan sekadar rutinitas ibadah?

    Balas
  • Kaniya amirah barkah daulay

    Mengapa ihsan sangat penting dalam kehidupan umat muslim?

    Balas
  • Bagaimana makna Ihsan sebagai “beribadah seakan-akan engkau melihat Allah” dapat mereformasi praktik keagamaan di era digital yang penuh distraksi?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *