Aqidah & Akhlak

Iman kepada Para Nabi dalam Tauhid: Pemahaman dan Praktik

TATSQIF ONLINE  Iman kepada para nabi merupakan salah satu pilar fundamental dalam aqidah Islam. Keberadaan nabi dan rasul dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan sangat penting sebagai pembimbing dan penerang jalan menuju kebenaran yang diridhai Allah SWT. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa para nabi diutus dengan membawa misi utama yaitu menyeru umat manusia kepada tauhid, serta membimbing mereka dalam segala aspek kehidupan.

Tanpa keimanan yang benar terhadap para nabi, keislaman seseorang tidak dianggap sah. Maka memahami makna, aspek, dan implikasi iman kepada para nabi menjadi keharusan, tidak hanya secara teoritis dalam bentuk keyakinan di dalam hati, tetapi juga secara praktis dalam bentuk amal perbuatan yang mencerminkan ajaran kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

Imam al-Tahawi dalam al-Aqidah al-Tahawiyyah menegaskan bahwa termasuk dalam prinsip iman adalah “mengimani semua rasul, baik yang disebutkan maupun yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, tanpa membedakan di antara mereka dalam hal keimanan”. Prinsip ini menuntut seorang Muslim untuk bersikap adil dalam beriman kepada seluruh nabi dan rasul.

1. Pengertian Iman kepada Para Nabi

Iman kepada para nabi berarti mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah memilih individu-individu tertentu dari kalangan manusia untuk menyampaikan wahyu-Nya, memberikan petunjuk kepada umat, dan menegakkan syariat Allah. Mereka adalah manusia biasa, namun memiliki sifat-sifat istimewa yang menjadikan mereka layak untuk menerima amanah kenabian.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa iman kepada para nabi meliputi empat hal: membenarkan kenabian mereka, mempercayai ajaran mereka, menghormati pribadi mereka, dan meneladani perilaku mereka. Semua ini harus dilakukan secara bersamaan untuk membentuk iman yang utuh.

Dalam Surah an-Nisa’ ayat 136 Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.”

Ayat ini menegaskan pentingnya iman kepada semua rasul, tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.

2. Sifat-Sifat Para Nabi

Para nabi diberi sifat-sifat khusus untuk menjamin keabsahan misi kerasulan mereka. Sifat-sifat tersebut adalah:

  • Shiddiq (jujur): Para nabi selalu berkata benar dalam setiap keadaan. Mereka tidak mungkin berdusta, apalagi dalam hal menyampaikan wahyu. Seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang dijuluki “al-Amin” oleh kaumnya sebelum diangkat menjadi rasul.
  • Amanah (dapat dipercaya): Para nabi selalu menjaga amanah yang diberikan Allah kepada mereka, yakni menyampaikan risalah tanpa mengurangi atau menambahkan sesuatu.
  • Tabligh (menyampaikan): Para nabi pasti menyampaikan semua yang diperintahkan Allah kepada umatnya, sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Ma’idah ayat 67: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
  • Fathanah (cerdas): Para nabi dikaruniai kecerdasan luar biasa untuk bisa memahami wahyu, mengelola umat, dan menjawab berbagai tantangan dalam dakwah.

Imam al-Baqillani dalam al-Tamhid menekankan bahwa semua nabi terbebas dari dosa besar (ismah), baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi, agar kepercayaan umat kepada mereka tetap utuh.

3. Iman kepada Para Nabi secara Teoritis

Iman kepada para nabi secara teoritis mengandung beberapa aspek penting:

  • Meyakini Semua Nabi: Baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an (seperti Musa, Isa, Ibrahim, Nuh, dan Muhammad) maupun yang tidak disebutkan. Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan jumlah nabi mencapai 124.000, namun hanya beberapa yang kisahnya diketahui.
  • Tidak Membedakan antara Mereka: Sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 285:

لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

Artinya: “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya.”

  • Meyakini Wahyu yang Dibawa: Setiap nabi membawa wahyu dari Allah. Dalam hal ini, Syekh Muhammad Abduh dalam Risalah al-Tauhid menegaskan bahwa wahyu adalah dasar pengetahuan agama yang tidak bisa dijangkau hanya dengan akal semata.
  • Meyakini bahwa Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir: Tidak ada nabi setelah beliau, sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Ahzab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”

4. Iman kepada Para Nabi secara Praktis

Aspek praktis dari iman kepada para nabi sangat penting untuk membuktikan keimanan yang sejati. Di antaranya:

  • Meneladani Akhlak Nabi: Nabi Muhammad SAW disebutkan dalam Surah al-Qalam ayat 4:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Meneladani beliau berarti mengutamakan kejujuran, kasih sayang, kesabaran, serta keadilan dalam setiap aspek kehidupan.

  • Mengikuti Sunnah Nabi: Sunnah Rasulullah SAW adalah pedoman hidup setelah Al-Qur’an. Melaksanakan sunnah menunjukkan cinta sejati kepada Nabi, sebagaimana sabdanya dalam hadis riwayat al-Bukhari:

“Barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga.”

  • Mengucapkan Shalawat: Membaca shalawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, seperti yang disebutkan dalam Surah al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

  • Mengajarkan dan Menyebarkan Ajaran Nabi: Menyampaikan dakwah sesuai dengan prinsip kenabian menjadi bentuk implementasi iman kepada para nabi.
  • Membela Nama Baik Nabi: Di era modern, pembelaan terhadap kehormatan Rasulullah SAW menjadi salah satu bentuk nyata keimanan kepada beliau.

Kesimpulan

Iman kepada para nabi merupakan rukun iman yang tidak boleh diabaikan. Ia harus dimiliki oleh setiap Muslim dalam bentuk keyakinan yang kokoh, ilmu yang benar, dan amal perbuatan yang nyata. Iman ini meliputi pembenaran terhadap semua nabi, penghormatan terhadap pribadi mereka, penerimaan terhadap ajaran mereka, serta usaha untuk mengikuti jejak mereka dalam kehidupan.

Melalui iman kepada para nabi, seorang Muslim meneguhkan identitasnya, memperkokoh hubungannya dengan Allah SWT, dan membangun kepribadian mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi. Sebagaimana ditegaskan oleh Saaduddin al-Taftazani dalam Syarh al-Aqaid al-Nasafiyyah, iman yang benar kepada para nabi merupakan syarat keselamatan di dunia dan akhirat.

Dengan pemahaman ini, iman kepada para nabi menjadi bukan hanya keyakinan kosong, melainkan energi penggerak untuk memperbaiki diri, membangun masyarakat yang adil dan beradab, serta menuju ridha Allah SWT. Wallahua’lam.

Nurul Sakinah Sitompul (Mahasiswa Prodi Teknologi Informasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

8 komentar pada “Iman kepada Para Nabi dalam Tauhid: Pemahaman dan Praktik

  • Abdul Tanzil

    Bandingkan konsep kenabian dalam Islam dengan pandangan Yahudi dan Kristen tentang nabi-nabi Allah!

    Balas
  • NUR HAYANA PUTRI

    Bagaimana iman kepada nabi membantu seseorang memahami dan mengamalkan tauhid dalam kehidupannya

    Balas
  • SALMA DAMAYANTI

    Bagaimana iman kepada nabi dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, dan apa konsekuensi nya dari tidak mempercayai nabi?

    Balas
  • Ribi yani

    Bagaimana mengimani para nabi dapat mempengaruhi kehidupan spiritual dan moral kita ?

    Balas
  • Nanda handayani hasibuan

    Bagaimana kita dapat mengamalkan ajaran para nabi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara?

    Balas
  • Bagaimana Iman kepada para nabi dapat mempengaruhi perilaku dan sikap kita terhadap orang lain?

    Balas
  • Dina Asmita

    Dalam konteks keimanan kepada para nabi, bagaimana cara kita menghargai keberagaman agama dan keyakinan tanpa mengorbankan prinsip tauhid?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *