Hikmah Metafora Fauna dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memiliki banyak cara dalam memikat hati manusia. Di samping melalui keindahan susunan ayat-ayatnya, ia juga menggunakan keunikan penamaan surah-surahnya, termasuk penggunaan nama-nama hewan. Beberapa surah secara khusus menggunakan nama yang merujuk pada satwa, seperti surah al-Baqarah (sapi betina), an-Naḥl (lebah), an-Naml (semut), al-‘Ankabut (laba-laba), dan al-Fil (gajah). Penamaan ini merupakan sebuah metode edukasi ilahi yang penuh hikmah. Allah menegaskan bahwa makhluk sekecil apa pun, seperti nyamuk, tidak membuat-Nya segan untuk menjadikannya sebagai perumpamaan dan sarana pembelajaran bagi manusia.
Hal tersebut terlihat juga bahwa penamaan surah-surah ini pada dasarnya bersifat tauqifiyah, yakni bersumber langsung dari petunjuk wahyu melalui Rasulullah, dan bukan ijtihad manusia. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh nama surah telah ditetapkan secara taufiqi melalui hadis dan asar. Beliau mengutip riwayat dari Ibnu Abi Hatim bahwa ketika orang-orang musyrik mengejek nama surah al-Baqarah dan al-‘Ankabut, Allah menurunkan ayat untuk membela Nabi-Nya. Hal ini membuktikan bahwa nama-nama hewan tersebut memiliki dasar spiritual dan nilai subtansif yang mengikat.
Nama-nama surah ini pada dasarnya berkait kelindan dengan ajakan bagi manusia untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, semisal surah al-Baqarah, al-An‘am, al-‘Adiyat, dan al-Fil yang menstimulasi lahirnya ilmu biologi dan anatomi fauna. Adapun surah an-Naml, al-‘Ankabut, dan an-Naḥl yang mengisyaratkan pentingnya mempelajari ilmu binatang artropoda. Di samping itu, ayat-ayat yang berada di dalam Al-Qur’an juga secara ilmiah membedah penciptaan hewan yang berjalan di atas perut, dua kaki, maupun empat kaki, yang mana hal tersebut memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta.
Setiap satwa yang diabadikan menjadi nama surah selalu menyimpan analogi mendalam terkait karakter manusia. Surah al-Baqarah, misalnya, mengambil nama sapi betina untuk menyoroti kisah Bani Israil yang diperintahkan Allah untuk menyembelih hewan tersebut. Yang mana peristiwa tersebut menjadi representasi dan simbol sifat keras kepala, gemar berdebat, dan keengganan suatu kaum dalam menaati perintah wahyu.
Pesan kepemimpinan dan kebijaksanaan juga tergambar dengan sangat indah pada surah an-Naml (semut) yang merepresentasikan kecerdasan, komunikasi, dan organisasi sosial yang sangat rapi. Terdapat kisah seekor semut yang menyeru kawanannya agar masuk ke sarang demi menghindari injakan pasukan Nabi Sulaiman yang menunjukkan sistem kehidupan makhluk kecil yang mengagumkan. Pelajaran moral dari dunia serangga ini membuktikan bahwa makhluk yang tampak tak berdaya pun memiliki sistem sosial yang patut diteladani.
Eksplorasi nilai etos kerja juga tampak sangat jelas melalui filosofi lebah pada surah an-Naḥl. Lebah mengajarkan kedisiplinan dan dedikasi dalam menghasilkan madu yang menyembuhkan dan memberi manfaat bagi keberlangsungan hidup makhluk lain. Karakter luhur ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Ahmad: “Perumpamaan seorang mukmin seperti lebah, ia tidak memakan kecuali yang baik dan tidak menghasilkan kecuali yang baik.”
Terdapat pula ruang perenungan tentang teologi dan akidah yang dibingkai melalui metafora jaring laba-laba dalam surah al-‘Ankabut. Allah menggunakan sarang laba-laba sebagai perumpamaan bagi rapuhnya perlindungan orang-orang musyrik yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung. Ayat ini menjadi kritik yang tajam bahwa keyakinan dan tempat yang dibangun di luar pondasi tauhid pada hakikatnya sangatlah lemah dan mudah hancur.
Walhasil, dari penyematan nama-nama satwa tersebut, dapat berfungsi meruntuhkan sifat unggul manusia agar lebih mensyukuri nikmat yang ada. Manusia juga diajak menyadari keajaiban teknologi alam ciptaan-Nya lewat perenungan terhadap hewan ternak yang mampu mengolah makanan menjadi susu murni bergizi tinggi di antara kotoran dan darah, sebagaimana yang tertuang dalam QS. an-Nahl ayat 66. Pemaparan tersebut mampu menegaskan bahwa fondasi peradaban dan pelajaran terbesar justru sering kali dititipkan pada makhluk yang kerap dianggap kecil oleh mata manusia.
Penulis: Muhammad Dini Syauqi Al Madani dan Dwi Rudita Saputri
