Bahasa Arab

Fi’il Amr, Nahyi, dan Isim: Fondasi Penting dalam Ilmu Sharaf

TATSQIF ONLINE  Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang kaya akan struktur dan aturan tata bahasa. Dalam mempelajari bahasa ini, pemahaman terhadap berbagai elemen gramatikal menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin menguasai bahasa Arab secara mendalam. Di antara elemen-elemen tersebut, fi’il amr dan fi’il nahyi memiliki peranan yang signifikan dalam menyampaikan perintah dan larangan, yang merupakan bagian integral dari komunikasi sehari-hari.

Fi’il amr, yang digunakan untuk memberikan instruksi atau perintah, dan fi’il nahyi, yang berfungsi untuk melarang suatu tindakan, memiliki bentuk dan penggunaan yang berbeda, sehingga pemahaman yang tepat terhadap keduanya sangat diperlukan. Selain itu, isim zaman, isim makan, dan isim alat juga merupakan komponen penting dalam bahasa Arab. Isim zaman menunjukkan waktu, isim makan menunjukkan tempat, dan isim alat merujuk pada alat atau sarana yang digunakan dalam suatu aktivitas. Ketiga jenis isim ini tidak hanya memperkaya kalimat, tetapi juga memberikan konteks yang jelas dalam komunikasi.

A. Fi’il Amr

Fi’il amr adalah bentuk kata kerja perintah dalam bahasa Arab yang berfungsi untuk menyuruh atau menginstruksikan lawan bicara. Fi’il ini terbentuk dari fi’il tsulatsi mujarrad yang diberi tambahan hamzah washl di awal kata. Hamzah washl sendiri merupakan huruf hamzah yang tidak dibaca jika didahului oleh kata lain.

Fi’il amr hanya digunakan untuk orang kedua, karena dalam praktiknya, perintah hanya dapat diberikan kepada orang yang diajak bicara secara langsung. Sebagai contoh, bentuk fi’il amr dari kata كتب (menulis) adalah:

  1. اُكْتُبْ (uktub) – untuk orang kedua tunggal
  2. اُكْتُبَا (uktubā) – untuk orang kedua ganda
  3. اُكْتُبُوا (uktubū) – untuk orang kedua jamak

Fi’il amr memiliki fungsi utama dalam:

  • Memberikan instruksi
  • Menyampaikan perintah langsung
  • Menyatakan ajakan atau anjuran

Sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Al-Hamalawiy dalam kitab Syadza Al-Arfi Fi Fanni As-Sharfi, fi’il amr dalam bentuk tsulatsi mujarrad selalu diawali oleh hamzah washl dan diakhiri dengan sukun ketika dalam bentuk tunggal.

B. Fi’il Nahyi

Fi’il nahyi merupakan bentuk kata kerja yang digunakan untuk melarang suatu tindakan. Dalam pembentukannya, fi’il nahyi mengambil bentuk dari fi’il mudhari’ yang diawali dengan huruf لا (lā) yang disebut lā nahiyah. Prosedur pembentukannya adalah sebagai berikut:

  1. Ambil fi’il mudhari’ contoh: يَكْتُبُ
  2. Sukunkan akhirnya: يَكْتُبْ
  3. Ganti huruf ya menjadi ta: تَكْتُبْ
  4. Tambahkan lā nahiyah: لَا تَكْتُبْ

Dengan demikian, bentuk fi’il nahyi dari كتب menjadi:

  • لَا تَكْتُبْ – untuk orang kedua tunggal
  • لَا تَكْتُبَا – untuk orang kedua ganda
  • لَا تَكْتُبُوا – untuk orang kedua jamak

Fi’il nahyi memiliki karakteristik gramatikal yang mirip dengan fi’il mudhari’, hanya saja ia bermakna negatif sebagai larangan. Penjelasan mengenai hal ini juga dapat ditemukan dalam karya Jami’ud Durus karya Syekh Musythafa Al-Gholazini.

C. Isim Zaman, Isim Makan, dan Isim Alat

1. Isim Zaman

Isim zaman digunakan untuk menunjukkan waktu terjadinya suatu perbuatan. Misalnya, dari fi’il نَزَلَ (turun) dapat dibentuk isim zaman مَنْزِلٌ yang berarti waktu turun atau tempat turun tergantung konteks.

2. Isim Makan

Isim makan menunjukkan tempat terjadinya perbuatan. Contoh lain dari fi’il نَزَلَ adalah مَنْزِلٌ dalam arti tempat tinggal. Pembentukan isim zaman dan makan biasanya menggunakan wazan مَفْعِلٌ atau مَفْعَلٌ, tergantung pada huruf tengah dari fi’il tsulatsi tersebut.

3. Isim Alat

Isim alat menunjukkan alat atau sarana yang digunakan dalam suatu perbuatan. Misalnya, dari fi’il فَتَحَ (membuka) dibentuk isim alat مِفْتَاحٌ yang berarti “kunci”, alat untuk membuka. Wazan umum yang digunakan dalam pembentukan isim alat antara lain:

  • مِفْعَالٌ seperti مِفْتَاحٌ
  • مِفْعَلٌ seperti مِبْرَدٌ
  • فَعَّالَةٌ seperti غَسَّالَةٌ

Kaidah-kaidah ini dipaparkan secara sistematis dalam karya Ilmu Nahwu oleh Moch Anwar serta didukung dalam pengembangan praktik oleh Syekh Abu Hasan Ali Bin Hisyam dalam karya klasiknya Kailani. Wallahua’lam.

Hamdan Syukri Nasution (Mahasiswa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *