Al-Qur'an & HadisAqidah & Akhlak

Tafsir Ayat Istawā dan Penolakan Tafsir Antropomorfis, Simak

TATSQIF ONLINE – Perdebatan mengenai ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an terus menyita perhatian para cendekiawan muslim sepanjang sejarah. Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi itu kembali menguat terutama di tengah meningkatnya budaya membaca teks agama secara instan dan literal melalui jejaring media sosial. Salah satu ayat yang menjadi pusat polemik adalah firman Allah dalam Q.S. Ṭāhā ayat 5:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

Artinya: “(Dialah) Yang Maha Pengasih, berkuasa secara sempurna atas ‘Arasy.”

Interpretasi terhadap kata istawā dalam ayat ini melahirkan percabangan paham: apakah ayat ini menggambarkan Allah bertempat, bersemayam, duduk, atau memiliki posisi fisikal tertentu? Ataukah ayat ini sekadar ungkapan metaforis dan teologis tentang keagungan dan kekuasaan Allah?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar perdebatan terminologi, melainkan jantung dari bagaimana umat Islam memahami konsep ketuhanan secara proporsional dan penuh penghormatan. Kesalahan dalam menafsirkan ayat mutasyabihat dapat mengantar seseorang pada dua ekstrem berbahaya: pertama, menggambarkan Tuhan dengan sifat fisik makhluk, dan kedua, menganggap ayat itu tidak berarti apa-apa. Padahal Islam bukan hanya menolak gambaran Tuhan secara fisik, tetapi juga menolak pengosongan makna dari firman-Nya. Oleh sebab itu, diperlukan kerangka intelektual yang utuh—menggabungkan tafsir riwayat, bahasa, akal, dan prinsip tauhid—untuk memahami ayat semacam ini.

Firman Allah dalam ayat dimaksud berbunyi:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

Artinya: “(Dialah) Yang Maha Pengasih (dan) berkuasa atas ʻArsy.” (Q.S. Ṭāhā: 5)

Ayat ini tidak turun untuk menggambarkan posisi fisikal Allah, tetapi menghadirkan gambaran ketuhanan yang menegaskan kekuasaan absolut-Nya atas alam semesta. Para mufasir klasik menafsirkan kata istawā bukan dalam kerangka gerak, arah, ruang, atau perpindahan fisik, tetapi dalam kerangka pemilikan otoritas, supremasi, dan penguasaan total. Dengan kata lain, makna “bersemayam” dalam bahasa tafsir tidak identik dengan “duduk” atau “menempati ruang”, melainkan “menguasai”.

Pandangan ini sejalan dengan prinsip teologis Al-Qur’an:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (Q.S. Asy-Syūrā: 11)

Ayat di atas memberikan pagar metodologis bagi setiap mufasir: Tuhan tidak boleh dipahami dengan kategori makhluk. Jika metode penafsiran mengantarkan pada keserupaan Tuhan dengan makhluk, maka metode itu harus ditolak.

Posisi Para Mufasir Klasik: Menolak Tafsir Fisik terhadap Istawā

Mayoritas mufasir otoritatif memiliki pandangan selaras bahwa istawā tidak boleh dipahami secara fisikal. Al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān menyajikan banyak riwayat, namun setelah membandingkannya, beliau menegaskan bahwa makna paling kuat adalah “berkuasa dan menundukkan”. Al-Rāzī secara tegas membantah penafsiran duduk atau bertempat dengan argumen rasional dan teologis yang kokoh. Ibn ‘Aṭiyyah menegaskan bahwa ayat ini tidak boleh dipahami secara inderawi karena bertentangan dengan kesucian Allah dari kebutuhan akan ruang. Al-Syaukānī yang dikenal moderat menyatakan bahwa makna hakiki ayat diketahui oleh Allah, tetapi batasannya jelas: Allah mustahil serupa dengan makhluk.

Khusus pada Al-Rāzī, keberatannya terhadap penafsiran antropomorfis sangat sistematik. Menurutnya, jika istawā dimaknai duduk atau bertempat, maka konsekuensinya adalah Allah membutuhkan ruang. Jika Allah butuh ruang, maka ruang lebih dulu ada daripada Allah, atau setidaknya memiliki kekuasaan membatasi Allah. Konsekuensi ini bertentangan dengan prinsip kemahasaan dan keabsolutan Tuhan. Selain itu, sesuatu yang bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain pasti berada dalam waktu, sebab gerak tidak terjadi tanpa waktu. Jika Allah berada dalam waktu dan ruang, maka Dia bukan lagi pencipta waktu dan ruang. Argumentasi rasional ini tidak dimaksudkan mereduksi ayat, namun membela kemurnian tauhid.

Ayat Mutasyabihat dalam Kerangka Bahasa Metaforis

Dalam khazanah ilmu Al-Qur’an, ayat mutasyabihat memang sering menggunakan gaya bahasa metaforis (majaz) untuk menanamkan kesan keagungan. Tujuan utamanya bukan memberi gambaran visual tentang Allah, melainkan membangkitkan rasa tunduk dan ketakjuban. Karena itu, penafsiran terhadap ayat seperti Q.S. Ṭāhā: 5 mengharuskan:

  1. Menjaga kaidah bahasa Arab klasik.
  2. Mematuhi prinsip tauhid bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk.
  3. Menghindari pengosongan makna dengan alasan kehati-hatian.
  4. Menjaga agar makna tidak menurunkan kesucian Tuhan.

Perbedaan metode bukan pada menerima atau menolak ayat, tetapi pada cara memahami ayat tanpa menjadikan Allah sebagai objek visual.

Mengapa Penafsiran Antropomorfis Berbahaya?

Ada beberapa konsekuensi jika ayat ini dipahami secara fisikal:
• Allah digambarkan sebagai tubuh.
• Allah dikurung oleh ruang dan waktu.
• Allah memiliki arah dan lokasi.
• Allah membutuhkan tempat untuk berdiam.

Semua konsekuensi ini jelas bertentangan dengan konsep tauhid. Jika Allah membutuhkan tempat, berarti ada sesuatu selain Allah yang menjadi prasyarat keberadaan-Nya. Jika Allah “duduk”, maka Dia menyerupai makhluk. Jika Allah berada pada arah tertentu, maka arah yang lain seakan kosong dari-Nya. Sebaliknya, akidah Islam mengajarkan bahwa Allah tidak bergantung pada apa pun dan keberadaan-Nya tidak dibatasi ruang.

Membaca Ayat Mutasyabihat secara Dewasa pada Era Modern

Di era penyebaran informasi tanpa filter, umat Islam memerlukan kecerdasan keagamaan yang matang. Mengambil makna literal terhadap ayat metaforis dapat menyebabkan konflik pemahaman antar kelompok dan menghambat kedewasaan beragama. Dalam penyikapan ayat mutasyabihat, langkah ilmiah yang ideal adalah:

  1. Mengedepankan prinsip tanzīh — menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk.
  2. Mengutip pandangan para mufasir otoritatif, bukan sekadar preferensi kelompok.
  3. Memahami bahwa bahasa metaforis tidak mengurangi keagungan Tuhan.
  4. Menjaga adab ilmiah: berhati-hati, tidak tergesa-gesa, dan tidak mudah memvonis.

Semakin seseorang memahami dalil, semakin ia rendah hati dalam bicara tentang Allah. Kesadaran akan keterbatasan ilmu bukan kelemahan, tetapi bentuk penghormatan terhadap kesucian Tuhan.

Penutup

Q.S. Ṭāhā ayat 5 bukanlah ayat tentang lokasi Allah, melainkan ayat tentang keagungan Allah. Ayat ini memberi pesan bahwa kekuasaan Tuhan meliputi seluruh alam semesta dengan cara yang tidak dapat disamai makhluk apa pun. Kata istawā tidak layak dipahami secara fisik karena menyalahi tauhid dan menjatuhkan martabat keilahian.

Ayat mutasyabihat membutuhkan pembacaan yang penuh kehati-hatian — bukan untuk mengaburkan makna, tetapi untuk menjaga agar makna tidak berubah menjadi penyerupaan Allah dengan makhluk. Kemuliaan akidah Islam tidak dibangun dengan gambaran fisik Tuhan, melainkan dengan pengakuan bahwa Allah Mahasempurna, Mahaabsolut, dan tidak terbatas oleh ruang, arah, bentuk, ataupun bayangan.

Semoga umat Islam di era modern diberi keluasan ilmu, ketenangan hati, dan kedewasaan intelektual dalam membaca Al-Qur’an. Karena semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin ia memahami bahwa kemahasempurnaan-Nya tidak dapat dijelaskan dengan kategori apa pun yang dimiliki makhluk. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *