Al-Qur'an & Hadis

Apakah Kita Bisa Melihat Allah di Surga? Rahasia Syiah yang Menggemparkan!

Dalam dunia Islam, perdebatan tentang kemungkinanmelihat Allah secara langsung di akhirat selalu menarikperhatian. Bagi sebagian besar umat Islam Sunni, konsepruʾyat Allāh atau melihat Allah adalah sesuatu yang mungkinterjadi di surga sebagai bentuk pahala tertinggi. Namun, bagaimana dengan pandangan Syiah? Artikel ini menggaliperspektif Syiah berdasarkan tafsir kitab al-Ṣāfī karya FayḍKāshānī, seorang filsuf dan teolog Syiah. Mengapa merekamenolak gagasan melihat Allah secara fisik.

Kita akan melihat bagaimana mereka menafsirkan ayat-ayatAl-Qurʾān, khususnya QS. Al-Qiyamah [76]: 22-23 yang berbunyi:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ۝٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌۚ ۝٢٣

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya”.

Penafsiran Syiah lebih lanjut menjelaskan bahwamelihat Allah” berarti menyaksikan manifestasi rahmat, nikmat, dan ganjaran-Nya. Misalnya, al-Qummī menjelaskanbahwawajah-wajah yang memandangadalah wajah-wajahyang bercahaya setelah mandi di sungai al-Hayawān, lalumasuk surga dan menyaksikan bagaimana Allah memberikanpahala. Pendapat Imām al-Riḍā juga menguatkan ini, di mana beliau mengatakan bahwa maksudnya adalah wajah-wajahyang menunggu pahala Tuhan, bukan melihat dzat Allah langsung.

Latar belakang doktrin Syiah menunjukkan perbedaanmencolok dengan akidah Sunni. Mayoritas umat Islam Sunni meyakini bahwa di akhirat, orang mukmin bisa melihat Allah secara langsung sebagai bentuk pahala tertinggi. Namun, Syiah Iṯnā ʿAshariyyah atau Syiah Dua Belas Imam berpendapat sebaliknya melihat Allah secara fisik adalahmustahil karena bertentangan dengan keMutlak-an Allah yang tidak serupa dengan makhluk.

Doktrin ini berasal dari tafsir al-Ṣāfī oleh Fayḍ Kāshānī, yang mengadopsi riwayat dari ahl al-bayt atau keluarga Nabi dan mufasir sebelumnya seperti al-Qummī dan Imām al-Riḍā. Ayat kunci yang menjadi dasar pembahasan adalah Sūrat al-Qiyāmah ayat 22-23, yang berbunyi: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (Wujūhun yawmaʾidhin nāḍiratun ilā rabbihā nāẓiratun). Syiah menafsirkan kata “nāẓiratunbukan sebagai melihatfisik, melainkan menyaksikan rahmat dan pahala Allah.

Dasar teologis Syiah menekankan tauhid mutlak Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala karena itu akanmenyerupakan-Nya dengan makhluk. Penyingkapan ini lebihbersifat maknawi, seperti pengalaman spiritual di surga.

Analisis validitas penafsiran ini menunjukkan bahwatafsir ini kuat karena mengandalkan riwayat dari ahl al-bayt, meskipun riwayat tersebut tidak selalu diakui oleh ulama hadis Sunni. Fayḍ Kāshānī juga menggunakan kaidahkebahasaan, seperti memaknaiwajah-wajah yang memandangsebagai “yang menunggu,” meskipun inidiperdebatkan karena konteks ayat lebih condong kemelihat.” Beberapa analis menyatakan penafsiran ini terlalufanatik karena hanya mengandalkan sumber dari golonganSyiah sendiri.

Misalnya, dalam kamus bahasa Arab, kata “wajah-wajahyang memandanglebih tepat diterjemahkan sebagaimelihatdaripadamenunggujika ada huruf jar sepertiilā” di depannya. Kesimpulannya, meskipun bermanfaat untukmemahami perspektif Syiah, penafsiran ini tidak selalu valid sebagai rujukan universal karena bias sektarian. Namun, iatetap penting untuk dialog antar mazhab.

Implikasi bagi umat Islam modern sangat relevan. Perdebatan ini mengingatkan kita bahwa Islam memilikikeragaman penafsiran. Bagi pembaca umum, ini bisa menjadipintu untuk belajar lebih dalam tentang teologi Islam tanpaharus memihak. Di era digital, diskusi seperti ini seringmuncul di media sosial. Memahami perspektif Syiah bisamembantu menghindari kesalahpahaman dan mendorongdialog damai.

Saran untuk pembaca adalah jika tertarik, baca kitab asliseperti al-Ṣāfī Tafsīr al-Qurʾān oleh Muḥsin al-Kāshānī ataureferensi dari ulama seperti Maḥmūd ʿAbd al-Ḥamīd al-Asqalānī untuk pandangan lebih luas.

Kesimpulannya, perspektif Syiah dalam tafsir al-Ṣāfīmenawarkan pandangan unik bahwamelihat Allah” di akhirat bukanlah penglihatan fisik, melainkan pengalamanmenyaksikan rahmat dan pahala-Nya. Ini berbeda dari akidahSunni dan menunjukkan kekayaan intelektual Islam. Artikel ini disusun berdasarkan analisis objektif untuk memastikannetralitas dan kesesuaian publikasi tanpa mempromosikansatu mazhab. Jika Anda ingin mendalami lebih lanjut, konsultasikan dengan ulama terpercaya. Semoga artikel inibermanfaat dan membuka wawasan baru!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *