Al-Qur'an & HadisReview Buku

Menjernihkan Makna Wahyu: Tanzih Al-Qur’an dan Tafsir Mu‘tazilah

TATSQIF ONLINE – Pernahkah kita bertanya, mengapa satu ayat Al-Qur’an dapat melahirkan beragam penafsiran? Sebagian orang memahami ayat secara tekstual dan harfiah, sementara yang lain menekankan pendekatan rasional dan kontekstual. Perbedaan ini bukan semata-mata karena ketidaksepakatan, tetapi berakar pada metodologi, latar teologis, dan cara pandang (worldview) dalam memahami wahyu.

Dalam sejarah intelektual Islam, perdebatan ini paling tajam terlihat pada pembahasan ayat-ayat mutasyābihāt, terutama ayat-ayat yang secara lahiriah tampak menisbatkan sifat-sifat fisik kepada Allah. Apakah ayat tersebut harus dipahami apa adanya, atau perlu ditakwil agar selaras dengan prinsip keesaan dan kesucian Allah?

Di tengah perdebatan itulah muncul sosok al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār, seorang ulama besar Mu‘tazilah yang berupaya menjernihkan pemahaman umat melalui karyanya Tanzīh al-Qur’an ‘an al-Maṭā‘in—sebuah karya yang secara eksplisit bertujuan “membersihkan Al-Qur’an dari tuduhan, distorsi, dan kesalahpahaman.”

Biografi Singkat al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār

Nama lengkapnya adalah Abū al-Ḥasan ‘Abd al-Jabbār ibn Aḥmad ibn al-Khalīl ibn ‘Abd Allāh al-Hamzānī al-Asadābādī. Ia lahir di Asadabad, wilayah pegunungan Hamadan, sekitar tahun 320–325 H, dan wafat pada 415 H / 1025 M. Ia hidup pada masa ketika dinamika pemikiran Islam sedang mengalami pergeseran besar, khususnya kemunduran pengaruh Mu‘tazilah dan menguatnya mazhab-mazhab teologi lain.

Sejak muda, al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār dikenal memiliki semangat keilmuan yang tinggi. Ia menempuh perjalanan intelektual panjang dari Asadabad, Qazwin, Hamadan, Isfahan, hingga akhirnya menetap di Basrah, pusat intelektual Islam yang melahirkan banyak pemikir besar. Di sana, ia mendalami hadis, fikih, ushul fikih, bahasa Arab, dan ilmu kalam.

Menariknya, pada fase awal ia menganut akidah Asy‘ariyah dan fikih Syafi‘iyah. Namun setelah berguru kepada Abū Isḥāq ibn ‘Ayyāsh, ia berpindah ke mazhab Mu‘tazilah. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan mazhab, tetapi refleksi pencarian intelektual yang menempatkan akal sebagai instrumen utama dalam membela kemurnian tauhid.

Konteks Historis dan Latar Belakang Penulisan Kitab

Kitab Tanzīh al-Qur’an ‘an al-Maṭā‘in lahir dari kegelisahan teologis dan pedagogis. Al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār melihat bahwa banyak umat Islam membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya secara mendalam. Padahal, menurutnya, ibadah tidak akan sempurna tanpa pemahaman terhadap lafaz dan makna ayat yang dibaca, termasuk nama-nama dan sifat Allah yang diucapkan dalam doa dan salat.

Ia juga menyaksikan fenomena penafsiran literal terhadap ayat-ayat mutasyabih, yang menurutnya berpotensi menyeret umat pada tasybīh dan tajsīm—menyerupakan Allah dengan makhluk. Contohnya adalah pemahaman harfiah terhadap ayat tasbih makhluk, seolah-olah benda mati bertasbih dengan cara yang sama seperti manusia.

Dorongan lain datang dari hadis Nabi Muhammad SAW kepada ‘Ali bin Abi Ṭālib yang menyatakan bahwa Al-Qur’an memuat kabar masa lalu, masa depan, dan hukum bagi manusia. Pesan ini memperkuat keyakinannya bahwa segala petunjuk telah ada dalam Al-Qur’an, tetapi hanya bisa diakses melalui pemahaman yang benar.

Tujuan dan Struktur Kitab Tanzīh al-Qur’an

Secara umum, tujuan kitab ini dapat diringkas dalam beberapa poin:

  1. Menjelaskan perbedaan ayat muḥkamāt dan mutasyābihāt
  2. Menakwil ayat-ayat yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman teologis
  3. Membantah tuduhan bahwa Al-Qur’an mengandung kontradiksi atau antropomorfisme
  4. Menegaskan prinsip tauhid dan keadilan Tuhan sesuai doktrin Mu‘tazilah

Kitab ini disusun mengikuti urutan surah, dari al-Fātiḥah hingga an-Nās, namun tidak menafsirkan seluruh ayat. Fokusnya hanya pada ayat-ayat yang dianggap problematis atau sering dijadikan dasar oleh kelompok tertentu untuk menisbatkan sifat jasmani kepada Allah.

Metode dan Corak Penafsiran

Dari sisi metodologi, Tanzīh al-Qur’an ‘an al-Maṭā‘in menggunakan metode ijmālī, yakni penafsiran global dan ringkas, tetapi langsung menyasar inti persoalan. Al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār biasanya memulai dengan mengajukan sebuah syubhat (kerancuan pemahaman), lalu menjawabnya melalui analisis bahasa Arab, konteks ayat, dan prinsip teologi rasional.

Corak tafsirnya jelas teologis-rasional, dengan dua pilar utama sebagaimana dicatat oleh al-Dzahabī:

  1. As-shinā‘ah al-‘arabiyyah (analisis kebahasaan)
  2. Al-‘aqīdah al-i‘tiżāliyah (pembelaan teologi Mu‘tazilah)

Dengan demikian, tafsir ini bukan sekadar penjelasan makna ayat, tetapi juga arena debat intelektual untuk mempertahankan konsep tauhid yang murni menurut perspektif Mu‘tazilah.

Relevansi dan Nilai Pemikiran

Meskipun lahir dari rahim Mu‘tazilah, Tanzīh al-Qur’an ‘an al-Maṭā‘in tetap memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Karya ini menunjukkan bahwa akal tidak harus menjadi musuh wahyu, melainkan dapat berfungsi sebagai alat untuk menjaga kesucian makna Al-Qur’an.

Bagi pembaca kontemporer, kitab ini memberi pelajaran penting tentang urgensi literasi tafsir, kehati-hatian dalam memahami ayat mutasyabih, dan pentingnya membedakan antara makna literal dan makna teologis. Perbedaan pendekatan antara Mu‘tazilah dan Ahlussunnah bukan untuk dipertentangkan secara simplistis, melainkan dipahami sebagai kekayaan khazanah intelektual Islam.

Penutup

Tanzīh al-Qur’an ‘an al-Maṭā‘in bukan sekadar karya tafsir singkat, tetapi refleksi mendalam seorang ulama yang gelisah melihat Al-Qur’an disalahpahami. Melalui pendekatan rasional dan analisis bahasa, al-Qāḍī ‘Abd al-Jabbār berusaha menjaga kemuliaan wahyu dari penafsiran yang menodai prinsip tauhid.

Dari karya ini, kita belajar bahwa memahami Al-Qur’an menuntut keseimbangan antara teks, akal, dan iman. Dengan nalar yang jernih dan hati yang tunduk, Al-Qur’an akan tetap menjadi petunjuk, bukan sumber perpecahan. Wallahu’alam.

One thought on “Menjernihkan Makna Wahyu: Tanzih Al-Qur’an dan Tafsir Mu‘tazilah

  • MOH HOSNAN BAIHORI

    Sukses selalu neng Fatimah albatul

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *