Fiqh KontemporerGaya Hidup

Kesehatan Mental dan Psikoterapi Islami di Era Modern, Simak

TATSQIF ONLINE – Kesehatan mental merupakan fondasi kehidupan manusia yang seimbang dan bermakna. Dalam keseharian, banyak orang berasumsi bahwa kesehatan hanya mencakup fisik—padahal tubuh yang kuat tanpa ketenangan batin hanyalah separuh dari kesejahteraan manusia. Dunia modern menghadirkan berbagai kemajuan luar biasa dalam bidang teknologi, ekonomi, dan komunikasi, tetapi di balik pencapaian itu, manusia dihadapkan pada krisis makna, stres eksistensial, dan kelelahan spiritual.

Fenomena gangguan mental menjadi semakin nyata. Menurut World Health Organization (WHO, 2023), sekitar 970 juta orang di dunia mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Di Indonesia, data Riskesdas (2023) menunjukkan hampir 10% penduduk mengalami gangguan emosional, dengan kecenderungan meningkat di kalangan remaja dan mahasiswa. Ironisnya, generasi muda yang diharapkan menjadi agen perubahan justru banyak yang mengalami burnout, cemas kronis, bahkan kehilangan tujuan hidup.

Krisis mental ini tidak hanya disebabkan oleh tekanan eksternal seperti pekerjaan dan lingkungan sosial, tetapi juga karena kekosongan spiritual. Manusia modern hidup dalam paradoks: serba terkoneksi secara digital, namun semakin terputus dari Tuhan dan dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, pendekatan spiritual menjadi relevan kembali—bukan sekadar pelarian emosional, tetapi sebagai sumber penyembuhan sejati. Di tengah dominasi terapi Barat yang cenderung sekuler, psikoterapi Islami hadir sebagai jalan tengah yang mengintegrasikan dimensi ilmiah dan spiritual manusia.

Kesehatan Mental dalam Pandangan Ilmiah dan Islam

Dalam perspektif psikologi modern, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi keseimbangan antara pikiran, emosi, dan perilaku yang memungkinkan seseorang berfungsi optimal dalam kehidupan sosialnya. Sigmund Freud melihat kesehatan mental sebagai kemampuan menyeimbangkan dorongan naluriah (id), moralitas (superego), dan kesadaran diri (ego). Sementara Abraham Maslow menempatkan kesehatan mental pada puncak piramida kebutuhan manusia—yaitu self-actualization, pencapaian diri yang penuh makna.

Namun, di balik berbagai teori tersebut, ada satu hal yang tidak dapat diabaikan: manusia bukan hanya entitas psikologis, tetapi juga makhluk spiritual. Kesehatan mental yang sejati tidak hanya menyangkut keseimbangan antara akal dan emosi, melainkan juga antara diri manusia dengan Tuhannya.

Dalam perspektif Islam, kesehatan mental dikenal dengan istilah الصِّحَّةُ النَّفْسِيَّةُ (ash-shihhah an-nafsiyyah), yakni kondisi jiwa yang tenang, bersih dari penyakit hati, dan tunduk kepada kehendak Allah SWT. Islam memandang manusia secara utuh—meliputi jasad, akal, dan ruh. Ketika ketiganya selaras, tercapailah keseimbangan batin yang menjadi ciri orang beriman.

Al-Qur’an menggambarkan dinamika jiwa manusia dalam tiga lapisan spiritual yang membentuk fondasi kesehatan mental. Pertama, النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ, jiwa yang cenderung mengikuti hawa nafsu dan mendorong pada kejahatan (QS. Yusuf [12]: 53). Kedua, النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ, jiwa yang menyesali kesalahan dan berjuang melawan kelemahan dirinya (QS. Al-Qiyāmah [75]: 2). Ketiga, النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ, jiwa yang tenang karena kedekatannya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)

Ayat ini menegaskan bahwa kesehatan mental tertinggi adalah ketenangan batin yang lahir dari keimanan dan keridhaan. Orang yang mencapai derajat nafs al-muthmainnah mampu menghadapi ujian hidup dengan sabar, memandang penderitaan sebagai sarana penyucian, dan merasakan ketenteraman di tengah kesulitan.

Al-Qur’an dan Hadis sebagai Sumber Terapi Jiwa

Dalam Islam, Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk moral, tetapi juga kitab penyembuhan (syifā’) bagi hati yang gelisah. Allah SWT berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 82)

Ayat ini menggambarkan bahwa ketenangan psikologis bukan sekadar hasil dari terapi perilaku atau obat medis, melainkan juga dari kedekatan spiritual dengan wahyu Allah. Ayat-ayat Al-Qur’an bekerja menenangkan sistem saraf, menurunkan hormon stres, dan memberi makna baru pada penderitaan.

Rasulullah ﷺ sendiri merupakan teladan dalam pengelolaan emosi. Dalam banyak hadis, beliau mencontohkan bagaimana kesabaran, dzikir, dan tawakal menjadi kunci menghadapi tekanan. Salah satu sabdanya yang terkenal berbunyi:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِندَ الْغَضَبِ

Artinya: “Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam konteks psikoterapi, hadis ini menunjukkan pentingnya self-regulation — kemampuan mengendalikan dorongan emosional. Rasulullah bahkan memberikan solusi fisiologis bagi amarah:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud)

Air wudhu memberi efek menenangkan pada sistem saraf dan menjadi simbol spiritual dari pendinginan emosi. Islam mengajarkan bahwa puncak kekuatan manusia bukan pada agresi, melainkan pada kemampuan menaklukkan diri.

Psikoterapi Islami sebagai Integrasi Iman dan Ilmu

Psikoterapi Islami merupakan bentuk penyembuhan yang menggabungkan prinsip ilmiah psikologi modern dengan nilai-nilai tauhid dan spiritualitas. Pendekatan ini tidak menolak sains, tetapi melengkapinya dengan dimensi ilahi. Jika psikologi modern berfokus pada “bagaimana berpikir dan berperilaku”, maka psikoterapi Islami menambahkan pertanyaan lebih mendasar: “Untuk siapa dan mengapa manusia hidup?”

Kesehatan mental dalam Islam bersumber dari hubungan harmonis antara manusia dan Tuhannya. Ketika hubungan ini rusak, hati kehilangan arah, muncul kegelisahan dan depresi. Karena itu, inti dari terapi Islami adalah mengembalikan hati kepada Allah.

Firman Allah SWT menegaskan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Ayat ini menjadi pondasi utama dalam psikoterapi Islami. Dalam praktiknya, dzikir tidak hanya berfungsi sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai teknik relaksasi spiritual yang membangun kesadaran penuh (mindfulness of God). Dengan mengingat Allah, individu belajar menurunkan ketegangan emosional, menata kembali pikirannya, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa.

Dimensi Spiritual dalam Penyembuhan Jiwa

Dalam Islam, setiap masalah mental selalu dikaitkan dengan kebersihan hati. Jiwa yang penuh iri, sombong, putus asa, dan dengki menjadi sumber penderitaan psikologis. Oleh karena itu, inti dari psikoterapi Islami adalah tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa dari penyakit hati. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Konsep ini mengajarkan bahwa penyembuhan bukan sekadar menghilangkan gejala, tetapi memperbaiki orientasi hidup. Seseorang sembuh bukan hanya karena bebas dari kecemasan, tetapi karena ia kembali pada fitrah ketundukan kepada Allah.

Terapi Islami menggunakan berbagai pendekatan, seperti dzikir, doa, shalat khusyuk, tadabbur ayat, dan introspeksi (muhasabah). Misalnya, ketika seseorang dilanda kecemasan dan rasa takut, ia diajak merenungkan ayat:

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Katakanlah, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang beriman bertawakal.” (QS. At-Taubah [9]: 51)

Ayat ini menumbuhkan coping mechanism berbasis iman — meyakinkan bahwa di balik ketidakpastian hidup, ada kekuasaan Allah yang menenangkan.

Tantangan dan Peluang Psikoterapi Islami di Era Modern

Meski potensinya besar, pengembangan psikoterapi Islami di Indonesia menghadapi tantangan serius. Pertama, masih terbatasnya tenaga profesional yang memahami integrasi antara psikologi dan nilai-nilai keislaman. Banyak praktisi psikologi yang terjebak dalam paradigma sekuler, sehingga mengabaikan dimensi spiritual pasien. Kedua, masih kurangnya riset ilmiah yang mengukur efektivitas terapi Islami secara empiris. Ketiga, adanya stigma sosial bahwa gangguan mental adalah tanda kelemahan iman, membuat banyak penderita enggan mencari bantuan.

Namun, di balik tantangan itu, terdapat peluang besar. Pandemi COVID-19, misalnya, telah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental dan spiritual. Banyak lembaga pendidikan dan dakwah kini membuka layanan konseling Islami berbasis daring, menggabungkan teknologi dan nilai-nilai keagamaan. Pemerintah melalui Rencana Aksi Nasional Kesehatan Jiwa (RANKESWA) juga mulai membuka ruang untuk pendekatan keagamaan dalam pelayanan psikologis.

Selain itu, perkembangan teknologi menghadirkan bentuk baru terapi spiritual digital: aplikasi dzikir, podcast motivasi Islami, hingga kelas konseling berbasis Al-Qur’an. Dengan dukungan lembaga seperti MUI dan Kementerian Agama, psikoterapi Islami dapat diinstitusionalisasi secara nasional, menjadikannya model khas Indonesia dalam penanganan kesehatan jiwa yang humanistik dan religius.

Jiwa yang Tenang sebagai Tujuan Tertinggi

Pada hakikatnya, setiap terapi, baik medis maupun spiritual, bertujuan mengantarkan manusia pada ketenangan. Namun Islam tidak menempatkan ketenangan sekadar sebagai keadaan emosional, melainkan sebagai tanda kedekatan eksistensial dengan Sang Pencipta. Jiwa yang tenang bukanlah jiwa yang bebas dari masalah, tetapi jiwa yang menerima semua masalah dengan sabar dan ridha.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 عَجِبْتُ لأمرِ المؤمنِ ، إنَّ أمرَهُ كُلَّهُ خيرٌ ، إن أصابَهُ ما يحبُّ حمدَ اللَّهَ وَكانَ لَهُ خيرٌ ، وإن أصابَهُ ما يَكْرَهُ فصبرَ كانَ لَهُ خيرٌ ، وليسَ كلُّ أحدٍ أمرُهُ كلُّهُ خيرٌ إلَّا المؤمنُ

Artinya: “Aku sungguh kagum terhadap urusan seorang mukmin, karena sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan resiliensi spiritual, bahwa ketenangan jiwa tumbuh bukan dari absennya penderitaan, tetapi dari kemampuan melihat rahmat Allah di balik penderitaan itu. Inilah puncak kesehatan mental menurut Islam — jiwa yang bahagia karena berserah diri sepenuhnya kepada Allah.

Penutup

Kesehatan mental adalah keseimbangan antara jasmani, akal, dan ruhani. Dalam Islam, penyembuhan tidak hanya berarti pemulihan fungsi psikologis, tetapi juga penyucian hati dan penguatan iman. Psikoterapi Islami hadir sebagai jembatan antara sains dan spiritualitas, menggabungkan pengetahuan empiris dengan bimbingan wahyu.

Dengan memperkuat landasan spiritual dalam setiap terapi, manusia tidak hanya sembuh dari luka batin, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang sabar, bersyukur, dan sadar akan makna hidupnya. Pendekatan ini sangat relevan untuk masyarakat Indonesia yang religius dan kolektif, karena mengembalikan penyembuhan jiwa pada fitrah manusia sebagai hamba yang bergantung kepada Tuhannya.

Ketenangan sejati, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an, hanya dapat dicapai melalui hubungan yang mendalam dengan Allah SWT:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Wallahu’alam.

Alwala Mustaqim Tampubolon (Mahasiswa Prodi PAI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

One thought on “Kesehatan Mental dan Psikoterapi Islami di Era Modern, Simak

  • Ilman saputra harahap

    Mengapa pendekatan psikoterapi Islami dianggap lebih holistik dibandingkan pendekatan modern sekuler?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *