MuamalahMust Read

Stop Stigma Kurang Iman, Begini Islam Rangkul Gangguan Mental

TATSQIF ONLINE – Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day). Peringatan ini pertama kali diinisiasi oleh World Federation of Mental Health (WFMH) pada tahun 1992, yang dikukuhkan oleh Richard Hunter, selaku Wakil Sekretaris Jenderal organisasi tersebut. Momen ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global bahwa kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan manusia secara menyeluruh.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), pada tahun 2013 tercatat 9 juta jiwa di Indonesia mengalami depresi. Sementara itu, laman Tirto.id melaporkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia terjadi pada 3–4 orang dari setiap 100 ribu penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukanlah isu kecil yang bisa diabaikan atau dianggap hanya persoalan “kurang iman”.

Sayangnya, sebagian masyarakat masih salah memahami penderita gangguan mental. Mereka kerap diberi label negatif, bahkan sering dinasihati untuk “lebih banyak bersyukur” atau “memperbanyak salat” tanpa memahami kondisi medis yang dialaminya. Sebelum membahas bagaimana Islam memandang dan merangkul para penderita gangguan mental, penting untuk memahami lebih dahulu makna gangguan mental itu sendiri.

Makna Gangguan Mental

Menurut laman Halodoc.com, gangguan mental adalah sindrom atau kumpulan gejala yang memengaruhi pikiran, perasaan, serta perilaku seseorang, sehingga mengganggu aktivitas kehidupannya sehari-hari. Seseorang yang menderita gangguan mental dapat mengalami kesulitan dalam berpikir jernih, mengelola emosi, maupun berinteraksi sosial secara wajar.

Beberapa bentuk gangguan mental antara lain skizofrenia, depresi, gangguan kecemasan, gangguan kepanikan, bipolar, dan perilaku adiktif. Gangguan ini tidak selalu tampak dari luar, tetapi dapat melumpuhkan kehidupan seseorang secara psikologis dan sosial.

Faktor penyebab gangguan mental pun sangat kompleks. Beberapa di antaranya ialah:

  1. Riwayat keluarga dengan gangguan mental yang diturunkan secara genetik.
  2. Paparan lingkungan sebelum lahir, seperti zat kimia yang terakumulasi di tubuh ibu hamil atau gaya hidup ayah yang tidak sehat seperti merokok berat.
  3. Ketidakseimbangan kimia di otak (neurotransmitter imbalance), yang memengaruhi suasana hati dan reaksi emosional seseorang.

Gangguan mental dapat diobati melalui pengobatan medis oleh psikiater serta terapi psikologis oleh psikolog. Kedua pendekatan ini dikenal sebagai farmakoterapi dan psikoterapi, yang bertujuan memulihkan keseimbangan mental, memperbaiki pola pikir, serta meningkatkan kemampuan pasien untuk menjalani hidup secara normal.

Kepedulian Islam terhadap Penderita Gangguan Mental

Islam sejak awal peradabannya sudah menunjukkan perhatian besar terhadap kesehatan jiwa. Bukti sejarah mencatat bahwa pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, tepatnya abad ke-8 Masehi, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendirikan rumah sakit jiwa pertama di dunia Islam di Baghdad. Rumah sakit tersebut tidak hanya menyediakan layanan medis, tetapi juga fasilitas penenangan batin seperti taman hijau, air mancur, dan ruang untuk mendengarkan lantunan Al-Qur’an.

Menurut situs Muhammadiyah.or.id, metode pengobatan yang diterapkan pada masa itu menggunakan pendekatan holistik, yaitu memperhatikan aspek fisik, psikis, dan spiritual. Para dokter Muslim kala itu memberikan pengobatan seperti stimulan, sedatif, dan antidepresan alami yang dikenal sebagai mufarrah al-nafs (penggembira jiwa). Selain itu, pasien diajak mendengarkan tilawah Al-Qur’an, suara burung dan gemericik air untuk menenangkan hati, serta menjalani terapi mandi dan diet sehat alami.

Sejarah ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah menganggap gangguan mental sebagai aib atau tanda lemahnya iman, tetapi sebagai penyakit yang membutuhkan perhatian medis dan kasih sayang. Penderita gangguan mental bukan untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan dibantu agar kembali pulih dengan penuh cinta.

Cara Islam Merangkul Penderita Gangguan Mental

Masih banyak masyarakat Muslim yang beranggapan bahwa gangguan mental hanyalah karena iman yang lemah. Padahal, Islam mengajarkan empati, kesabaran, dan pendampingan, bukan penghakiman. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar masyarakat lebih bijak dalam merangkul penderita gangguan mental.

1. Jadilah Pendengar yang Baik

Menjadi pendengar yang baik adalah bentuk kasih sayang pertama yang bisa diberikan kepada seseorang yang sedang berjuang melawan gangguan mental. Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam hal ini. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan:

كُنَّا جُلُوسًا فِي الْمَسْجِدِ، فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ، لَا يَتَكَلَّمُ أَحَدٌ مِنَّا

Artinya: “Saat kami sedang duduk di masjid, keluarlah Rasulullah ﷺ dan duduk di hadapan kami. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung, tak satu pun dari kami yang berbicara.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ mendidik para sahabat untuk mendengar dengan penuh perhatian dan ketenangan. Bagi keluarga penderita gangguan mental, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan atau membandingkan masalah mereka dengan orang lain adalah bentuk dukungan yang sangat berarti.

Psikolog dan dokter Tirta Mandira Hudhi (Dr. Tirta) juga menegaskan dalam kanal YouTube-nya #suaratirta : MENTAL ILLNESS! bahwa komunikasi sehat harus dilakukan secara bergantian dan penuh empati. Seseorang yang ingin bercerita harus diberi ruang penuh tanpa diinterupsi atau disalahkan.

2. Dampingi Pengobatan dengan Sabar dan Doa

Islam tidak menafikan sains dan pengobatan medis. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً، إِلَّا الدَّاءَ الْهَرَمَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan menurunkan pula obatnya, kecuali penyakit tua.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap penyakit memiliki obatnya, termasuk gangguan mental. Karena itu, penderita gangguan mental perlu menjalani pengobatan medis sebagaimana penyakit fisik lainnya. Iman bukan satu-satunya penyebab seseorang depresi atau cemas; sering kali faktor lingkungan, trauma masa kecil, atau tekanan sosial lebih dominan. Oleh sebab itu, keluarga harus mendampingi proses pengobatan psikiater dan terapi psikologis dengan kesabaran dan doa.

3. Bersabarlah dalam Pendampingan

Penderita gangguan mental sering mengalami perubahan emosi yang ekstrem — hari ini mereka tampak bahagia, esok bisa menangis atau marah tanpa sebab jelas. Pendamping harus memahami bahwa kondisi tersebut bukanlah karena mereka “manja” atau “kurang iman”, tetapi bagian dari proses penyembuhan yang panjang.

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Thaha ayat 132:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Artinya: “Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”

Kesabaran adalah kunci keberhasilan dalam mendampingi mereka. Sikap sabar dan lembut bisa memberikan ketenangan batin yang lebih efektif daripada seribu nasihat yang menghakimi.

Kesimpulan

Gangguan mental bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan ujian medis dan psikologis yang harus dihadapi dengan ilmu, empati, dan kesabaran. Islam telah memberikan teladan nyata melalui sejarah peradaban dan ajaran Rasulullah ﷺ bahwa manusia yang sakit — baik fisik maupun mental — harus dirawat dengan kasih sayang, bukan disalahkan.

Penderita gangguan mental tidak membutuhkan ceramah panjang, melainkan validasi dan pendampingan penuh cinta. Mereka perlu diyakinkan bahwa keberadaannya berarti, bahwa Allah tidak meninggalkan mereka, dan bahwa pengobatan medis adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan dalam Islam. Wallahu A’lam.

Triana Amalia (Penulis & Aktivis Dakwah Muslimah)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *