Fiqh Kontemporer

Revolusi Biofarmasi DNA dan Stem Cell dalam Kedokteran Modern

TATSQIF ONLINE – Abad ke-21 menandai era revolusi bioteknologi yang mengubah wajah kedokteran secara fundamental. Kemajuan ilmu biologi molekuler dan kedokteran melahirkan cabang baru yang dikenal sebagai biofarmasi, yakni disiplin yang menggabungkan sains hayati dan teknologi untuk menghasilkan produk medis berbasis sistem biologis. Fokus utamanya adalah pengembangan obat, vaksin, dan terapi inovatif yang berasal dari komponen hidup—mulai dari mikroorganisme, protein, DNA, hingga stem cell.

Salah satu lompatan terbesar dalam biofarmasi adalah pemanfaatan rekayasa DNA dan teknologi stem cell yang menawarkan solusi terapeutik bagi penyakit-penyakit degeneratif dan genetik yang dulu dianggap mustahil disembuhkan (Widyanto dkk., 2021). Melalui pendekatan ini, dunia medis beralih dari paradigma “mengobati gejala” menuju menyembuhkan penyebab molekuler penyakit itu sendiri.

Namun, di balik potensi luar biasa tersebut, muncul pula tantangan etika, regulasi, dan sosial yang memerlukan kehati-hatian. Kemajuan ilmiah tanpa tanggung jawab moral justru dapat menjadi pedang bermata dua. Karena itu, pembahasan tentang biofarmasi DNA dan stem cell perlu ditempatkan dalam kerangka etik, ilmiah, dan kemanusiaan.

Biofarmasi DNA: Revolusi di Tingkat Genetik

Biofarmasi DNA merupakan penerapan bioteknologi molekuler dalam terapi genetik. Prinsip dasarnya adalah memperbaiki, mengganti, atau menonaktifkan gen yang rusak agar sel dapat berfungsi normal (Nusaly dkk., 2024). Teknologi ini menjadi fondasi terapi gen (gene therapy) yang bersifat personal dan presisi.

Salah satu teknologi yang paling revolusioner dalam bidang ini adalah CRISPR-Cas9, alat penyunting DNA yang bekerja layaknya “gunting genetik.” Melalui CRISPR, ilmuwan dapat memotong bagian DNA yang rusak dan menggantinya dengan gen yang sehat. Teknologi ini kini diuji untuk mengobati penyakit genetik seperti hemofilia, distrofi otot Duchenne, dan fibrosis kistik.

Keunggulan utama terapi DNA adalah menargetkan akar penyakit, bukan sekadar meredakan gejala. Bahkan, pendekatan ini memungkinkan potensi penyembuhan permanen karena memperbaiki sumber biologis gangguan. Selain penyakit genetik, penelitian juga mengembangkan terapi DNA untuk kanker dengan memodifikasi sel imun pasien agar lebih efektif menyerang sel ganas.

Namun, teknologi ini tidak tanpa risiko. Tantangan yang dihadapi antara lain efek “off-target” (kesalahan penyuntingan gen), efektivitas pengantaran gen ke dalam sel, serta kontroversi etika terkait modifikasi genetik embrio manusia. Pertanyaan moral seperti “sampai di mana manusia boleh mengubah kodrat genetiknya?” menjadi diskursus global yang belum menemukan konsensus (Rezaldi dkk., 2024).

Stem Cell: Terapi Regeneratif Masa Depan

Sementara itu, stem cell atau sel punca menjadi pilar utama dalam terapi regeneratif. Sel ini memiliki dua kemampuan istimewa: self-renewal (berkembang biak tanpa batas) dan differentiation (berubah menjadi berbagai jenis sel tubuh) (Erawati, 2024).

Karena sifatnya yang unik, stem cell digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak akibat penyakit atau cedera. Misalnya, dalam kasus diabetes melitus tipe 1, stem cell dapat diarahkan menjadi sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Dalam penyakit jantung, sel punca mampu meregenerasi otot jantung yang rusak, sedangkan pada cedera saraf tulang belakang, terapi stem cell dapat membantu pemulihan fungsi motorik (Noviantari & Khairiri, 2020).

Di sisi lain, muncul pula dilema etika. Penggunaan embryonic stem cell (ESC) — yang berasal dari embrio manusia — menimbulkan perdebatan moral dan agama. Sebagian pihak menolak dengan alasan pelanggaran hak embrio sebagai calon kehidupan. Oleh sebab itu, ilmuwan kini mengembangkan alternatif induced pluripotent stem cell (iPSC), yakni sel dewasa yang “dikembalikan” menjadi sel punca dengan karakteristik menyerupai ESC. Teknologi ini dianggap lebih etis karena tidak memerlukan embrio, sekaligus memperluas cakupan terapi regeneratif.

Meski demikian, tantangan lain masih ada: risiko pembentukan tumor akibat proliferasi sel yang tidak terkendali, serta biaya tinggi yang membuat terapi ini belum terjangkau masyarakat luas (Prasetya, 2025).

Sinergi antara DNA Therapy dan Stem Cell

Perkembangan terkini memperlihatkan kolaborasi sinergis antara biofarmasi DNA dan stem cell (Setyowati, 2023). Pendekatan gabungan ini disebut gene-edited stem cell therapy. Dalam metode ini, stem cell pasien diambil, kemudian diperbaiki genetiknya dengan teknologi penyuntingan DNA, lalu dikembalikan ke tubuh pasien. Strategi ini tidak hanya meningkatkan efektivitas terapi, tetapi juga mengurangi risiko penolakan imun karena menggunakan sel pasien sendiri.

Pendekatan ini membuka babak baru kedokteran yang dikenal sebagai “medisin presisi” (precision medicine) — pengobatan yang disesuaikan dengan profil genetik unik setiap individu. Dalam jangka panjang, sinergi DNA dan stem cell diharapkan mampu menggantikan terapi konvensional yang selama ini bersifat generik dan berisiko tinggi.

Aspek Etika dan Regulasi Biofarmasi

Kemajuan bioteknologi selalu beriringan dengan dilema etik. Penggunaan DNA dan stem cell menyentuh isu fundamental: nilai kehidupan, kodrat penciptaan, dan keadilan akses kesehatan. Oleh sebab itu, bioetika menjadi unsur kunci dalam pengembangan biofarmasi (Erawati, 2024).

Beberapa isu utama meliputi:

  1. Sumber sel punca — apakah etis menggunakan embrio untuk penelitian medis?
  2. Gene editing — batas moral antara terapi dan rekayasa sifat manusia.
  3. Keadilan sosial — apakah teknologi tinggi ini hanya akan dinikmati oleh kalangan kaya?
  4. Keamanan jangka panjang — apakah perubahan genetik akan menimbulkan efek yang diwariskan ke generasi berikutnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, regulasi internasional seperti Declaration of Helsinki dan Good Clinical Practice (GCP) menjadi acuan penting dalam riset biofarmasi. Pemerintah dan lembaga etik di tiap negara wajib memastikan bahwa setiap penelitian memenuhi standar aman, etis, dan transparan.

Prospek dan Arah Masa Depan

Meski banyak tantangan, prospek biofarmasi DNA dan stem cell sangat cerah. Kolaborasi antarnegara dan dukungan kebijakan publik akan mempercepat penerapan teknologi ini di bidang klinis (Riliani dkk., 2024). Dalam waktu dekat, terapi genetik dapat menjadi pengobatan rutin untuk penyakit genetik, sementara terapi stem cell bisa menjadi solusi utama regenerasi organ.

Lebih jauh lagi, integrasi biofarmasi dengan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menciptakan sistem kesehatan yang lebih prediktif dan personal. Dengan algoritma cerdas, data genomik pasien dapat dianalisis untuk merancang terapi paling tepat — inilah wajah baru kedokteran berbasis data-driven healing.

Kesimpulan

Biofarmasi DNA dan stem cell merepresentasikan masa depan kedokteran yang humanistik dan berbasis sains tinggi. Terapi gen menawarkan cara memperbaiki penyakit di tingkat genetik, sedangkan stem cell memberikan kemampuan tubuh untuk meregenerasi dirinya sendiri. Sinergi keduanya menghadirkan pendekatan penyembuhan yang lebih efektif, spesifik, dan berkelanjutan.

Namun, kemajuan teknologi tidak boleh menyingkirkan nilai-nilai moral, etika, dan keadilan sosial. Inovasi medis hanya akan bermakna jika membawa manfaat bagi seluruh umat manusia, bukan hanya segelintir pihak.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Artinya: “Barang siapa yang memelihara kehidupan satu jiwa, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 32)

Biofarmasi DNA dan stem cell dengan demikian bukan sekadar proyek ilmiah, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab kemanusiaan untuk menjaga kehidupan dan martabat manusia di era bioteknologi modern. Wallahu’alam.

Dian Rani (Mahasiswa Prodi PAI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat kumpulan materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta hasil karya mahasiswa yang diperkaya melalui proses belajar di kelas. Kehadirannya tidak hanya membantu mahasiswa dalam memperdalam pemahaman, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat luas untuk menikmati ilmu pengetahuan secara terbuka.

3 komentar pada “Revolusi Biofarmasi DNA dan Stem Cell dalam Kedokteran Modern

  • Nahlatul Mar'ah Siregar

    Bagaimana pandangan Islam terhadap pengembangan teknologi biofarmasi DNA dan stem cell dalam dunia kedokteran modern?

    Balas
  • Rina Ronita siregar

    Apa saja tantangan etika yang muncul dalam penggunaan stem cell untuk tujuan pengobatan?

    Balas
  • Ilman saputra harahap

    Bagaimana biofarmasi berbasis rekayasa DNA dan stem cell dapat menjadi solusi bagi penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan kanker, namun sekaligus berpotensi menciptakan kesenjangan sosial antara mereka yang mampu dan tidak mampu mengakses teknologi ini?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *