Peran Jin, Iblis, dan Syaitan dalam Menyesatkan Manusia, Simak
TATSQIF ONLINE – Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan kepada umatnya tentang seluruh realitas kehidupan, termasuk mengenai makhluk gaib yang tidak tampak oleh pandangan mata manusia. Di antara makhluk tersebut adalah jin, iblis, dan syaitan. Keberadaan mereka ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis, serta menjadi bagian dari akidah yang tidak bisa diingkari oleh umat Islam.
Dalam ilmu tauhid, mengenali sifat dan tipu daya mereka merupakan bagian dari penjagaan keimanan, sebab Allah telah menjelaskan bahwa para makhluk ini adalah musuh nyata bagi manusia. Maka dari itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui siapa mereka, bagaimana sifat dan tugas mereka, serta apa saja perbuatan yang tergolong sebagai bagian dari ḥizb al-shayṭān, yaitu golongan setan yang menentang kebenaran.
A. Bangsa Jin dalam Pandangan Islam
Bangsa jin adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari nyala api. Allah berfirman dalam Alquran surah Ar-Rahman ayat 15:
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”
Mereka hidup berdampingan dengan manusia di dunia ini, tetapi berada di alam yang tidak terlihat. Jin memiliki kehidupan sosial seperti manusia: mereka menikah, berketurunan, dan bahkan memiliki agama dan madzhab. Sebagian dari mereka ada yang beriman (jin muslim) dan sebagian lagi kafir (jin syaitan).
Mereka juga diberi beban taklif (tanggung jawab agama) sebagaimana manusia. Allah berfirman dalam Alquran Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.”
Dalam pandangan ulama seperti Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa, jin dapat berinteraksi secara tidak langsung dengan manusia, seperti melalui perantaraan tukang sihir atau dukun, serta dapat pula menyesatkan manusia melalui bisikan.
B. Iblis: Pemimpin Para Setan
Iblis adalah makhluk dari kalangan jin yang dahulu dikenal sebagai penyembah yang taat, hingga ia diberi tempat di tengah-tengah malaikat. Namun kesombongan menjadikannya makhluk terkutuk. Allah mengisahkan dalam Alquran Surah Al-A’raf ayat 12:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
artinya: “Ia berkata: Aku lebih baik darinya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia dari tanah.”
Karena kesombongannya itu, ia menolak sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Maka Allah pun mengusir Iblis dari rahmat-Nya sebagaimana tercantum dalam Alquran Surah Sad ayat 77:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
Artinya: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk.”
Iblis pun bersumpah akan menyesatkan keturunan Adam selama hayat masih dikandung badan. Allah mengabadikan sumpah Iblis dalam Alquran surah Sad ayat 82–83:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: “Demi kemuliaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.”
C. Syaitan: Golongan Jahat dari Jin dan Manusia
Dalam Islam, istilah syaitan bukan hanya merujuk pada Iblis atau jin kafir, tetapi juga manusia yang berperilaku seperti setan—yaitu menyuruh pada kemaksiatan dan kesesatan. Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-An’am ayat 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ
Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh berupa setan dari kalangan manusia dan jin.”
Syaitan memiliki tugas menggoda, menipu, dan menyesatkan umat manusia dari jalan yang benar. Menurut Abu Hayyan dalam Al-Bahr Al-Muhith, syaitan adalah simbol dari segala bentuk godaan terhadap hawa nafsu dan kesesatan.
D. Hizbut Syaitan: Golongan Setan yang Menentang Kebenaran
Dalam Al-Qur’an, Allah membagi manusia dalam dua golongan besar:
- Ḥizb Allāh (حِزْبُ ٱللَّهِ): Golongan Allah, yaitu mereka yang beriman dan taat.
- Ḥizb al-Shayṭān (حِزْبُ ٱلشَّيْطَانِ): Golongan setan, yakni mereka yang menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu.
Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Mujadilah ayat 19:
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: “Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, sesungguhnya golongan setanlah yang merugi.”
E. Perbuatan-Perbuatan Golongan Setan
Setan merupakan musuh nyata manusia yang selalu berusaha menyesatkan dari jalan kebenaran. Ia tidak henti-hentinya membisikkan kejahatan dan mengajak manusia untuk berbuat dosa. Di antara perbuatan yang menjadi ciri golongan setan adalah sebagai berikut:
Mengikuti Hawa Nafsu Tanpa Petunjuk
Setan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin bagi manusia yang tidak mau mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadikan nafsu sebagai “tuhan” dalam kehidupan, mengikuti segala keinginan walaupun bertentangan dengan agama. Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Jatsiyah ayat 23:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
Artinya: “Apakah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
Syirik kepada Allah
Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam, yaitu menyekutukan Allah dengan sesuatu selain-Nya. Setan sangat menginginkan manusia terjerumus ke dalam syirik, karena dosa ini menghapus semua amal kebaikan dan tidak diampuni jika pelakunya mati dalam keadaan belum bertobat. Allah berfirman dalam Alquran Surah An-Nisa ayat 48:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Melalaikan Salat dan Ibadah
Salat adalah tiang agama dan bentuk utama kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya. Namun, setan berusaha melalaikan manusia dari salat dan membuat mereka lebih mengikuti hawa nafsu. Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meninggalkan salat dan lebih memilih kesenangan duniawi akan mendapatkan balasan neraka. Firman-Nya dalam Alquran Surah Maryam ayat 59:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan salat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui Ghayy (neraka).”
Melakukan Dosa-Dosa Besar
Setan membujuk manusia untuk terjerumus dalam dosa besar seperti zina, riba, mencuri, membunuh, dan mabuk-mabukan. Dosa-dosa besar ini tidak hanya merusak diri, tetapi juga merusak masyarakat secara keseluruhan. Di antara contohnya adalah riba, yang sangat dikecam dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 275:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
Artinya: “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.”
Hasad dan Dengki
Hasad (iri hati) dan dengki adalah penyakit hati yang berbahaya. Setan menanamkan perasaan benci ketika melihat orang lain mendapat nikmat. Perasaan ini dapat memicu permusuhan, fitnah, dan bahkan kekerasan. Allah berfirman dalam Alquran surah Al-Falaq ayat 5:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Artinya: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Menyebarkan Fitnah dan Kebohongan
Setan sering membisikkan kebohongan ke dalam hati manusia dan mendorong mereka menyebarkannya. Fitnah dan berita palsu dapat merusak keharmonisan masyarakat, menimbulkan perpecahan, dan memicu permusuhan. Allah memperingatkan dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 268:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ
Artinya: “Setan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu melakukan kejahatan.”
Tamak terhadap Dunia
Setan menghiasi dunia dengan kenikmatan semu agar manusia melupakan tujuan hidupnya yang hakiki, yaitu mencari rida Allah. Ketamakan terhadap harta, jabatan, dan kekuasaan membuat banyak orang mengabaikan kewajiban agama, bahkan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan duniawi. Ini adalah salah satu perangkap setan yang paling halus namun berbahaya.
Sombong dan Menolak Kebenaran
Kesombongan adalah sifat Iblis yang membuatnya enggan sujud kepada Adam. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api. Sifat ini diwarisi oleh golongan setan yang menolak kebenaran karena merasa lebih tinggi derajat atau lebih pandai. Padahal, kesombongan merupakan penghalang masuk surga.
Rasulullah bersabda:
لا يدخلُ الجنَّةَ من كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ مِن كِبْرِ، ولا يدخلُ النَّارَ مَن كانَ في قلبِه مثقالُ ذرَّةٍ من إيمانٍ. فقال رجلٌ: يا رسولَ اللَّهِ، الرَّجلُ يحبُّ أن يَكونَ ثوبُه حسنًا، ونعلُه حسنةً، فقال رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: إنَّ اللَّهَ جميلٌ يحبُّ الجمالَ، إنَّ الكِبْرَ مَن بطِرَ الحقَّ وغمَصَ النَّاسَ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji zarrah kesombongan, dan tidak akan masuk neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji zarrah keimanan.” Lalu ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seseorang senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus. Rasulullah ﷺ pun bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”‘ (HR. Muslim)
Kesimpulan
Pengenalan terhadap jin, iblis, dan syaitan bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memperkuat benteng keimanan kita. Islam tidak hanya memperkenalkan eksistensi mereka, tetapi juga memberi solusi dalam menghadapi tipu daya dan godaan mereka.
Allah memerintahkan agar kita menjadikan setan sebagai musuh sebagaimana termaktub dalam Alquran Surah Fatir ayat 6:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
Artinya: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.”
Maka dari itu, marilah kita semua berlindung kepada Allah dari gangguan dan jebakan golongan setan, serta berusaha menjadi bagian dari ḥizb Allāh, yakni hamba-hamba yang tunduk, taat, dan ikhlas dalam menyembah-Nya. Wallahua’lam.
Almira Salsabila (Mahasiwa Prodi HKI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Bagaimana jin, iblis, dan syaitan menggunakan bisikan jahat untuk mengganggu pikiran dan hati manusia?,kemudian Bagaimana membedakan antara bisikan jahat dan pikiran kita sendiri?
Apakah jin menikah, sholat, puasa?
Seperti bagaimana manusia, dan apakah sholat, menikah, puasanya sama?
Ada sebuah cerita tentang umar bin Khattab, jika dia lewat suatu lembah.. Makan setan atau jin itu… Tidak berani lewat di jalur yg sama, pertanyaan saya adalah apa penyebab nya setan itu takut.. Bukan kah setan itu musuh yg nyata bagi manusia… Kemudian mungkin tidak menurut anda kita bisa di takuti setan