8 Syarat dan Etika Mufassir dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Simak
TATSQIF ONLINE – Menafsirkan Al-Qur’an bukanlah tugas sembarangan. Ia merupakan tanggung jawab besar yang menggabungkan antara amanah ilmiah dan spiritual. Al-Qur’an adalah firman Allah yang suci, mengandung petunjuk hidup yang sempurna untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, siapa pun yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an harus menyadari bahwa ia sedang berbicara atas nama wahyu, dan karenanya tidak boleh dilakukan tanpa ilmu yang cukup dan adab yang tinggi.
Dalam tradisi keilmuan Islam, seorang mufassir—yakni orang yang menafsirkan Al-Qur’an—harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh para ulama. Selain itu, ia juga dituntut untuk menjaga etika dan adab ketika menjelaskan makna-makna ayat suci. Jika syarat dan etika ini diabaikan, maka bukan pemahaman yang benar yang lahir dari tafsir tersebut, melainkan justru penyimpangan yang membahayakan umat.
Husni Rahim dalam bukunya Ilmu-Ilmu Al-Qur’an menjelaskan bahwa memahami dan menafsirkan Al-Qur’an harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, tanggung jawab, dan didasari ilmu yang mendalam.
Syarat-Syarat Seorang Mufassir
1. Menguasai Bahasa Arab secara Mendalam
Bahasa Arab merupakan kunci utama dalam memahami isi Al-Qur’an. Seorang mufassir harus benar-benar menguasai berbagai disiplin ilmu bahasa Arab seperti:
- Nahwu untuk mengetahui struktur kalimat dan hubungan antar kata.
- Sharaf untuk memahami bentuk-bentuk kata dan perubahan makna yang terkandung di dalamnya.
- Balaghah untuk menangkap keindahan gaya bahasa dan pesan implisit dalam susunan ayat.
- Ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’ sebagai penunjang pemahaman makna dari sisi kejelasan, perbandingan, dan keindahan retoris.
Tanpa penguasaan terhadap aspek-aspek ini, penafsiran bisa menjadi rancu bahkan menyimpang dari maksud sebenarnya.
2. Menguasai Ilmu Tafsir
Ilmu tafsir bukan satu ilmu tunggal, melainkan kumpulan dari banyak cabang ilmu. Seorang mufassir harus menguasai:
- Asbabun Nuzul, agar memahami konteks sosial dan sejarah turunnya ayat.
- Nasikh dan Mansukh, untuk membedakan ayat yang berlaku dengan ayat yang telah dihapus.
- Qira’at, karena perbedaan bacaan bisa memengaruhi pemahaman.
- Munasabah ayat, untuk memahami kesinambungan makna antar ayat.
- Makkiyah dan Madaniyah, karena karakteristik ayat-ayat tersebut berbeda secara gaya, isi, dan pendekatan dakwah.
Tanpa pemahaman menyeluruh terhadap semua ini, penafsiran seorang mufassir akan bersifat parsial dan tidak komprehensif.
3. Menguasai Ilmu Hadis
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang maknanya hanya bisa dipahami secara utuh dengan bantuan penjelasan Nabi Muhammad SAW melalui hadis. Hadis menjelaskan ayat-ayat global, menetapkan rincian hukum, dan mempertegas maksud syariat. Seorang mufassir harus mengetahui mana hadis shahih, hasan, dan dha’if agar tidak salah dalam merujuk dalil.
4. Menguasai Ilmu Ushul Fiqh dan Ilmu Fiqh
Banyak ayat dalam Al-Qur’an berkaitan dengan hukum syariat, baik dalam ibadah, muamalah, maupun jinayah. Untuk menggali hukum dari ayat-ayat tersebut, seorang mufassir harus memahami:
- Kaidah istinbath hukum
- ‘Illat hukum
- Metode qiyas
Dengan pemahaman ini, seorang mufassir dapat memberikan penafsiran yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.
5. Menguasai Ilmu Kalam (Teologi)
Ayat-ayat yang berbicara tentang tauhid, sifat-sifat Allah, surga, neraka, dan qadha dan qadar harus dipahami dengan akidah yang lurus. Seorang mufassir wajib menjauhkan diri dari pemikiran menyimpang seperti tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) atau ta’thil (menolak sifat Allah). Ia harus menafsirkan ayat-ayat akidah sesuai dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
6. Memiliki Aqidah yang Benar
Seorang mufassir harus bebas dari pengaruh aliran atau ideologi menyimpang. Penafsiran tidak boleh dikotori dengan kepentingan politik, fanatisme kelompok, atau hawa nafsu. Tafsir yang dibuat untuk membenarkan ideologi tertentu bukan hanya tidak ilmiah, tetapi juga merupakan pengkhianatan terhadap wahyu Allah sebagaimana ditegaskan oleh Husni Rahim dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur’an.
7. Mengetahui Pandangan Ulama Terdahulu
Tradisi tafsir dalam Islam telah berkembang sejak zaman para sahabat. Oleh karena itu, seorang mufassir tidak boleh memutus mata rantai ini. Ia harus mengetahui pendapat-pendapat mufassir terdahulu seperti Ibn Jarir al-Tabari, al-Qurtubi, al-Razi, dan lainnya, serta memahami metode yang mereka gunakan.
8. Mampu Melakukan Ijtihad dan Analisis Kritis
Seorang mufassir juga dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi yang logis, dan menilai pendapat-pendapat yang ada secara objektif. Ia harus mampu menimbang dalil dan memilih pendapat yang paling kuat berdasarkan bukti yang sahih.
Etika dan Adab Seorang Mufassir
1. Ikhlas
Penafsiran harus diniatkan untuk menggapai ridha Allah, bukan untuk meraih ketenaran, jabatan, atau materi. Ikhlas adalah fondasi setiap amal yang diterima Allah.
2. Tawadhu’
Seorang mufassir tidak boleh merasa paling benar. Ia harus tetap rendah hati meskipun ilmunya luas, karena makna Al-Qur’an tidak akan pernah bisa dikuasai secara keseluruhan oleh manusia.
3. Tidak Menafsirkan Berdasarkan Hawa Nafsu
Menafsirkan Al-Qur’an sesuai keinginan pribadi atau untuk membenarkan ideologi tertentu adalah kesalahan fatal. Tafsir seperti ini hanya akan mengaburkan makna yang sebenarnya.
4. Tidak Menyelisihi Ijma’
Penafsiran yang bertentangan dengan ijma’ ulama harus dihindari, karena hal ini berpotensi menimbulkan kekacauan dalam pemahaman umat terhadap agama.
5. Menjaga Perilaku
Mufassir harus menjadi teladan dalam akhlak. Ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak diiringi dengan adab. Perilaku sehari-hari seorang mufassir harus mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an yang ia tafsirkan.
6. Menghargai Perbedaan Pendapat
Perbedaan dalam tafsir adalah hal yang lumrah. Yang terpenting adalah bahwa perbedaan tersebut memiliki landasan dalil dan dilakukan dalam koridor keilmuan.
7. Berdasarkan Dalil yang Kuat
Tafsir yang sahih harus bersandar pada dalil Al-Qur’an, hadis, dan bahasa Arab. Tidak diperbolehkan menafsirkan ayat hanya berdasarkan intuisi, perasaan, atau ilham pribadi.
8. Menyampaikan dengan Hikmah
Seorang mufassir harus menyampaikan tafsirnya dengan bijaksana, bahasa yang santun, dan pendekatan yang penuh kelembutan, agar pesan Al-Qur’an sampai dengan baik kepada masyarakat.
Penutup
Menafsirkan Al-Qur’an adalah tugas mulia namun penuh tanggung jawab. Ia menuntut ilmu, ketelitian, dan adab yang tinggi. Seorang mufassir tidak hanya harus memenuhi syarat keilmuan, tetapi juga menjaga integritas dan niat yang tulus dalam menyampaikan firman Allah. Dalam dunia modern yang penuh dengan interpretasi bebas dan pembacaan tekstual yang serampangan, pemahaman terhadap syarat dan etika menjadi sangat penting. Dengan menjaga standar ini, Al-Qur’an akan terus menjadi sumber petunjuk dan cahaya yang menerangi kehidupan umat manusia.
Keilmuan tanpa akhlak hanya akan melahirkan penafsiran yang kering dan berpotensi menyimpang. Sebaliknya, ilmu yang diiringi adab dan keikhlasan akan menjadi sarana penyebaran kebenaran yang lembut, jujur, dan membawa kebaikan bagi umat. Wallahua’lam.
Nahdatul Rahma Lubis (Mahasiswa Prodi PAI UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Bagaimana etika mufasir dapat membantu dan meningkatkan kualitas tafsir?
Apa saja prinsip dasar etika yang harus dipatuhi oleh seorang mufassir dalam menafsirkan Alquran