Aqidah & Akhlak

Memahami Aqidah: Peran Dalil Aqli dan Naqli dalam Islam, Simak

TATSQIF ONLINE – Dalam Islam, aqidah merupakan fondasi utama yang menentukan arah kehidupan seorang muslim. Aqidah tidak dibangun di atas asumsi atau dugaan semata, tetapi berdiri di atas dalil yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kajian ilmu tauhid dan ushul fikih, dalil menjadi sarana utama untuk menetapkan kebenaran. Oleh karena itu, memahami konsep dalil, khususnya dalil aqli dan dalil naqli, menjadi hal yang sangat penting dalam membangun keimanan yang kokoh dan tidak mudah goyah.

Secara bahasa (etimologi), dalil berarti petunjuk. Sedangkan secara istilah dalam ushul fikih, dalil adalah sesuatu yang dijadikan sebagai dasar atau rujukan untuk menetapkan hukum syariat. Dalam konteks aqidah, dalil berfungsi sebagai landasan untuk memahami dan membuktikan kebenaran ajaran Islam. Secara umum, dalil terbagi menjadi dua, yaitu dalil naqli yang bersumber dari wahyu, dan dalil aqli yang bersumber dari akal manusia.

Dalil Naqli: Sumber Kebenaran dari Wahyu

Dalil naqli adalah dalil yang bersumber langsung dari wahyu Allah SWT, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Dalil ini memiliki kedudukan yang sangat kuat karena berasal dari Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Oleh karena itu, dalil naqli bersifat pasti dan tidak dapat diragukan kebenarannya.

Dalam banyak aspek ibadah, dalil naqli menjadi rujukan utama. Misalnya, perintah shalat yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَٰوةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡ ۚ فَإِذَا ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَٰوةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَٰوةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوۡقُوتًا

Artinya: “Kemudian apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah ketika kamu berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Begitu pula kewajiban puasa yang ditegaskan dalam firman Allah:

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Selain itu, hadis Nabi ﷺ juga menjadi bagian dari dalil naqli, seperti sabda beliau:

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa wahyu memberikan petunjuk yang jelas dan rinci tentang kewajiban serta tata cara ibadah dalam Islam.

Dalil Aqli: Peran Akal dalam Memahami Aqidah

Dalil aqli adalah dalil yang diperoleh melalui akal sehat manusia dengan menggunakan logika dan penalaran. Dalil ini digunakan untuk memahami kebenaran ajaran Islam melalui pengamatan terhadap alam dan realitas kehidupan.

Salah satu contoh dalil aqli adalah pembuktian keberadaan Allah melalui pengamatan terhadap alam semesta. Akal manusia secara logis akan menyimpulkan bahwa alam yang begitu teratur tidak mungkin ada tanpa pencipta. Matahari, bulan, dan bumi bergerak dengan sistem yang sangat rapi dan tidak pernah bertabrakan. Semua ini menunjukkan adanya Zat Yang Maha Mengatur, yaitu Allah SWT.

Al-Qur’an juga mendorong penggunaan akal dalam memahami tanda-tanda kebesaran Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

Selain itu, dalil aqli juga terlihat dalam hukum sebab-akibat. Misalnya, akal manusia memahami bahwa kejujuran akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kebohongan akan merusak hubungan. Ini menunjukkan bahwa akal dapat mengenali nilai-nilai moral yang sejalan dengan ajaran Islam.

Korelasi Penggunaan Dalil Aqli dan Naqli

Dalam praktiknya, dalil aqli dan naqli tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dalil aqli digunakan untuk memahami dan menguatkan keimanan, sedangkan dalil naqli memberikan petunjuk yang jelas dan terperinci.

Dalil aqli biasanya digunakan dalam hal-hal yang bersifat umum, seperti pembuktian keberadaan Allah dan nilai-nilai akhlak. Sementara itu, dalil naqli digunakan dalam hal-hal yang bersifat khusus, seperti tata cara ibadah dan hukum syariat.

Sebagai contoh, akal manusia dapat memahami bahwa shalat itu penting sebagai bentuk hubungan dengan Tuhan, tetapi hanya wahyu yang menjelaskan bagaimana tata cara shalat secara rinci.

Dengan demikian, akal dan wahyu memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dalam membangun aqidah yang benar.

Pentingnya Menggabungkan Dalil Aqli dan Naqli

Menggabungkan dalil aqli dan naqli sangat penting dalam memahami Islam secara utuh. Dalil aqli membantu manusia memahami ajaran Islam secara rasional sehingga keimanan menjadi lebih kuat dan tidak bersifat taklid semata. Sementara itu, dalil naqli memberikan panduan yang jelas agar manusia tidak tersesat dalam menggunakan akalnya.

Jika seseorang hanya mengandalkan akal tanpa wahyu, ia berpotensi tersesat karena akal memiliki keterbatasan. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan wahyu tanpa memahami dengan akal, maka keimanan menjadi lemah dan mudah goyah.

Oleh karena itu, keseimbangan antara keduanya menjadi kunci dalam membangun aqidah yang kokoh dan benar.

Kesimpulan

Dalil aqli dan naqli merupakan dua landasan utama dalam penetapan aqidah dalam Islam. Dalil naqli bersumber dari wahyu Allah dan memiliki kebenaran yang mutlak, sedangkan dalil aqli berasal dari akal manusia yang digunakan untuk memahami dan menguatkan keimanan.

Keduanya tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dalil aqli membantu manusia memahami ajaran Islam secara logis, sementara dalil naqli memberikan petunjuk yang pasti dan tidak berubah.

Dengan memahami dan menggabungkan kedua dalil ini, seorang muslim akan memiliki keimanan yang kokoh, rasional, dan sesuai dengan tuntunan syariat. Hal ini akan memudahkan dalam menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam dan menghadapi berbagai tantangan pemikiran di zaman modern. Wallahu’alam.

Hasna Khoirun Nada (Mahasiswa Prodi IAT UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan)

Tatsqif Media Dakwah & Kajian Islam

Tatsqif.com adalah media akademik yang digagas dan dikelola oleh Ibu Sylvia Kurnia Ritonga, Lc., M.Sy (Dosen UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan) sejak awal tahun 2024. Website ini memuat materi perkuliahan, rangkuman diskusi, serta karya mahasiswa yang lahir dari proses pembelajaran di kelas, sekaligus membuka akses pengetahuan bagi masyarakat luas. Sebagai ruang berbagi ilmu, Tatsqif.com juga terbuka bagi siapa saja yang ingin mempublikasikan artikel, selama tulisannya bermanfaat, bersifat edukatif, dan sejalan dengan visi dan misi Tatsqif.com dalam menyebarkan ilmu pengetahuan.

5 komentar pada “Memahami Aqidah: Peran Dalil Aqli dan Naqli dalam Islam, Simak

  • Aulia ananda Pratiwi

    mengapa dalam Islam dalil Naqli lebih di utamakan daripada dalil aqli

    Balas
  • Nur hidayah yasin nst

    Jika akal digunakan untuk membuktikan kebenaran wahyu, lalu bagaimana jika seseorang memiliki kemampuan akal yang berbeda (misalnya rendah atau tinggi)? Apakah kualitas imannya bisa berbeda?

    Balas
  • Apakah mengaplikasikan dalil naqli dengan memahami dalil aqli ini berpatokan pada akalnya para ulama atau setiap orang itu harus memahami dalil naqli dengan akalnya masing masing?

    Balas
  • Siti Rohima

    Bagaimana dengan sekelompok orang yang sudah menggabungkan atau mengandalkan dalil aqli dan naqli, yg dimana kita ketahui bahwa dia sudah memiliki pemahaman yg luas tentang Tauhid dan segala yg berkaitan dengan islam, tetapi dia sangat mudah menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan orang hanya karna berbeda pendapat dengan nya?

    Balas
  • Jika dalil naqli bertentangan dengan akal, mana yang harus didahulukan? jelaskan alasannya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *