PEMIKIRAN TAUHID DALAM MAZHAB ASY’ARIYAH DAN MATURIDIYAH
Pendahuluan
Pembahasan tentang tauhid tidak pernah berhenti menjadi pusat perhatian dalam kajian akidah Islam. Di tengah keragaman aliran pemikiran, Ahlussunnah wal Jamaah memiliki dua tradisi kalam yang paling mapan dalam merumuskan dan mempertahankan pemahaman tauhid secara sistematis: Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah.
Keduanya muncul sebagai respons terhadap tantangan teologis pada zamannya, mulai dari paham Mujassimah yang menyamakan Allah dengan makhluk, hingga Mu’tazilah yang menafikan sifat-sifat Allah. Dengan metode yang berbeda namun tujuan yang sama, Asy’ariyah dan Maturidiyah menyusun bangunan tauhid yang kokoh, yang hingga kini menjadi rujukan mayoritas umat Islam. Artikel ini akan mengurai bagaimana kedua mazhab tersebut memahami, menjelaskan, dan mempertahankan konsep tauhid.
Pemikiran Tauhid dalam Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah
Tauhid adalah inti ajaran Islam, yaitu pengesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Di ranah teologi Ahlussunnah wal Jamaah, dua mazhab kalam yang paling berpengaruh dalam menjelaskan tauhid secara rasional-nukili adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Keduanya sepakat pada hasil akhir akidah, tapi berbeda pada metode dan beberapa detail pembahasan.
1. Titik Temu: Kesepakatan Dasar tentang Tauhid
Baik Asy’ariyah maupun Maturidiyah berdiri di atas fondasi yang sama:
-Tauhid Rububiyah: Hanya Allah yang mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta. Tidak ada sekutu dalam rububiyah.
– Tauhid Uluhiyah: Hanya Allah yang berhak disembah. Ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya.
– Tauhid Asma wa Sifat: Allah memiliki nama dan sifat yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah, tanpa tahrif, ta’til, takyif, dan tamtsil.
– Penolakan terhadap Mujassimah dan Mu’tazilah: Keduanya menolak penyamaan Allah dengan makhluk dan juga menolak penafian sifat-sifat Allah secara total.
Kesamaan ini membuat kedua mazhab dianggap sebagai representasi akidah mayoritas umat Islam.
2. Metode Pembahasan Tauhid
Perbedaan utama terletak pada pendekatan metodologis:A
sy’ariyah
Didirikan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Pendekatannya disebut _ahl al-itsbat ma’a at-tanzih_: menetapkan sifat Allah yang datang dari nash, sambil mensucikan Allah dari penyerupaan makhluk.
Dalam tauhid, Asy’ariyah sangat menekankan pada argumen _dalil inayah_ dan _dalil huduts_. Alam semesta itu baru dan berubah, maka ia butuh pencipta yang qadim, qadir, dan mukhtar. Penekanan pada sifat _qudrah_ dan _iradah_ Allah sangat kuat. Segala sesuatu terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah secara langsung.
Maturidiyah
Didirikan oleh Abu Mansur al-Maturidi. Pendekatannya lebih memberi ruang pada akal dalam memahami dasar-dasar akidah. Maturidiyah terkenal dengan pembahasan husn, dan, qubh aqli, yang lebih luas.
Dalam tauhid, Maturidiyah juga memakai dalil akal seperti _dalil huduts_, tapi lebih sering menekankan argumen _tartib_ dan _tadbir_ alam. Keteraturan dan keteraturan sistem alam dianggap bukti kuat adanya satu pengatur yang Maha Bijaksana. Pendekatan ini membuat pembahasan tauhid Maturidiyah terasa lebih filosofis.
3. Perbedaan Detail dalam Bab Tauhid Sifat
Ada beberapa titik diskusi teknis antara keduanya:
1. Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah
Asy’ariyah membagi sifat Allah menjadi sifat ma’ani seperti qudrah, iradah, ilmu, hayat, sam’, bashar, kalam, dan sifat ma’nawiyah yang merupakan konsekuensi sifat ma’ani seperti kaunuhu qadiran.
Maturidiyah umumnya tidak memisahkan keduanya secara tegas. Bagi mereka, sifat ma’nawiyah sudah tercakup dalam pembahasan sifat ma’ani.
2. Melihat Allah di Akhirat
Keduanya sepakat bahwa mukmin akan melihat Allah di surga tanpa kaifiyah. Tapi Asy’ariyah menjelaskan bahwa melihat tidak butuh arah dan jarak, sementara Maturidiyah lebih menekankan bahwa melihat adalah kenikmatan tambahan yang diberikan Allah.
3. Kedudukan Akal dalam Mengetahui Allah
Maturidiyah berpendapat bahwa akal mampu mengetahui kewajiban mengenal Allah sebelum datangnya syariat, meski pahala dan dosa tetap ditentukan syariat.
Asy’ariyah lebih ketat: kewajiban mengenal Allah hanya datang setelah syariat sampai. Akal bisa sampai pada keberadaan Allah, tapi tidak bisa mewajibkan sesuatu secara independen.
4. Implikasi Praktis Perbedaan
Secara akidah praktis, perbedaan ini tidak menghasilkan kontradiksi. Orang awam yang mengikuti salah satu dari dua mazhab akan sampai pada kesimpulan yang sama: Allah satu, tidak bersekutu, tidak serupa dengan makhluk, dan segala urusan kembali kepada-Nya.
Perbedaan lebih terasa di ranah debat kalam dan pengajaran akidah di pesantren dan universitas. Asy’ariyah lebih dominan di dunia Arab, Mesir, dan Afrika Utara. Maturidiyah lebih dominan di Asia Tengah, Turki, dan sebagian besar Asia Selatan.
5. Mengapa Dua Mazhab Ini Bertahan
Keberlangsungan Asy’ariyah dan Maturidiyah terjadi karena keduanya berhasil menjaga keseimbangan antara nash dan akal. Mereka menolak tasybih tanpa jatuh ke ta’til, dan menggunakan akal tanpa menjadikannya hakim mutlak atas wahyu.
Dalam konteks modern, pembahasan tauhid dari dua mazhab ini masih relevan untuk menjawab tantangan ateisme, deisme, dan pemahaman antropomorfik tentang Tuhan yang kembali muncul.
Keduanya adalah dua jalan berbeda yang bermuara pada satu lautan: pengesaan Allah yang mutlak.
Kesimpulan
Mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah mewakili dua pendekatan intelektual Ahlussunnah dalam menjaga kemurnian tauhid. Asy’ariyah menekankan keutamaan nash dan kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu, sementara Maturidiyah memberi ruang lebih besar pada peran akal dalam memahami keteraturan dan hikmah penciptaan.
Perbedaan detail di antara keduanya tidak merusak kesatuan akidah, karena titik temu mereka jauh lebih besar daripada titik pisahnya. Keduanya sepakat bahwa Allah esa dalam zat, sifat, dan perbuatan, serta menolak segala bentuk penyimpangan dalam memahami-Nya.
Di era modern, memahami kerangka berpikir kedua mazhab ini penting agar umat Islam dapat mempertahankan tauhid dengan landasan yang rasional sekaligus bersandar pada wahyu, tanpa jatuh ke ekstremitas tasybih maupun ta’til.
Mau saya satukan pendahuluan, isi, dan kesimpulan ini jadi satu artikel utuh dengan format yang siap untuk dipublikasikan?
